KAYA HIDANGAN SERBA NASI

MENIKMATI KULINER KOTA SERIBU GOA

Saji - - Pelesir - TEKS & FOTO ISRO ADI • VISUAL TRIANA TANGJONG

Pacitan merupakan kota yang berada di pesisir selatan Jawa Timur. Letaknya sekitar 100 kilometer di sebelah selatan kota Madiun. Kota ini termasuk kota wisata karena menyimpan keindahan alam yang eksotis dan terkenal di kalangan pecinta olahraga alam bebas. Mulai dari ombaknya yang indah di sepanjang pantai Klanyar dan Soge, serta banyaknya goa yang membuat kota ini berjuluk kota seribu goa. SAJI merangkum empat tempat makan bagi Anda yang akan pelesiran ke Pacitan. Sajian nasi tradisonal banyak ditemukan di kota ini. Ada sego gobyos, nasi lodho hingga nasi-soto bertabur kacang goreng.

Tempat makan yang menghadap ke pantai ini begitu melegenda di Pacitan. Namanya Warung Makan Sari Laut Bu Gandhos. Pemiliknya, Ibu Subati atau akrab disapa Bu Gandhos. Ia menawarkan hidangan andalan yang pantang dilewatkan, yaitu gulai kepala ikan, kalakan, dan nasi tiwul.

Nasi tiwul di kedai berkapasitas 50 orang ini terkenal pulen dan harum. Bahannya adalah tepung singkong yang dikukus, lalu disantap sebagai pengganti nasi. Lauknya ada kalakan. Yaitu daging ikan yang dimasak dengan bumbu gulai dalam kuah santan kental. Jika sulit didapat, ikan kelong diganti dengan ikan pari yang tak kalah disukai.

Olahan kalakan dimulai dengan memotong ikan pari berbentuk persegi selebar 5 sentimeter, lalu dibakar di atas bara arang. Daging pari bakar ini kemudian dimasukkan ke dalam santan kental berbumbu kunyit, bawang, kemiri, jahe, cabai, serai, dan daun jeruk. Bumbu dan pengolahan serupa juga dilakukan untuk membuat gulai kepala ikan, bedanya kepala ikan yang dibuat gulai ini tidak melalui proses pembakaran.

Kuah kalakan dan gulai kepala ikan rasanya gurih dan nikmat disantap dengan nasi tiwul. Biasanya Bu Gandhos menambahkan petikan daun kemangi untuk memberi aroma pada kalakan maupun gulai. Bagi para pecinta pedas, pilihan sambal bawang dan sambal goreng bisa menjadi tambahan untuk menambah selera karena kedua hidangan berkuah ini tidak pedas.

Rumah makan ini buka mulai pukul 07-17.00. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, sebanyak 60 kilogram daging pari dan kepala ikan dipasok setiap harinya. Satu porsi gulai kepala ikan dan kalakan dijual Rp 7 ribu, sedangkan sepiring nasi tiwul, cukup merogoh kocek Rp 3 ribu.

Warung soto paling laris di Pacitan ini punya jam buka yang tak biasa. Jika kebanyakan soto mulai pagi hari berlomba-lomba mengejar waktu sarapan agar ramai pembeli, hal sebaliknya justru dilakukan Bu Sugiyati. Sejak tahun 1970-an, soto Sugiyati di kota Pacitan begitu populer sebagai soto yang justru bukanya menjelang sore hari, sekitar pukul 15.00. Soto yang dijualnya berbasis soto ayam. Menurut Asih (43) penerus usaha ini, presiden SBY pasti mampir ke sini jika pulang ke kota kelahirannya ini. Sekilas, soto Bu Sugiyati tampak sama seperti soto lainnya. Yakni berisi nasi di dasar mangkuk, suwiran ayam, lalu disiram kaldu bening dari tulang ayam. Kuah ini didapat dari kaldu rebusan ayam yang diberi bumbu berupa bawang putih, bawang merah, jahe, merica, lengkuas, dan beberapa bumbu rahasia. Bumbu ditumis dulu sebelum dimasukkan ke dalam kaldu. Ayam yang telah direbus kemudian ditiriskan dari kaldu, digoreng, lalu disuwir sebagai isian soto.

Pelengkapnya ada taburan bawang goreng, seledri dan irisan daun bawang. Nah, soto ini begitu khas karena di atasnya ditaburi juga kacang tanah goreng di atasnya.

Soto seharga Rp 7500 per mangkuk ini sedikitnya menghabiskan 7 ekor ayam untuk memenuhi permintaan pelanggan. Warung makan dengan kapasitas 20 orang ini siap menyambut Anda mulai pukul 15.00-21.00. Biasanya pembeli sudah tampak mengantri mulai pukul 2 siang demi menyantap semangkuk soto ini.

Sajian sego gobyos yang dijual Bu Giyem (50) ini sudah eksis sejak 30 tahun lalu. Sajian nasi yang begitu disukai banyak orang ini punya ciri khas pada rasanya yang pedas menggigit. Seporsi sego gobyos berisi nasi putih yang disiram kuah santan kuning seperti kuah gulai, rasanya gurih dan sangat pedas. Lalu nasi disandingkan dengan pilihan lauk yang terdiri dari ayam kuah kuning atau babat bacem. Ada juga tambahan iso/ usus, ikan goreng, telur, tahu, dan tempe. Namun bacem babat adalah lauk favorit yang paling cepat habis untuk disantap dengan nasi berkuah pedas ini. Jika emoh makan jeroan, bisa pilih daging sapi yang diolah sama. Ciri khas lainnya pada sajian sego gobyos ini adalah tambahan segenggam urap bumbu kelapa yang terdiri dari campuran daun singkong dan taoge. Paduan nasi berkuah dengan urap rupanya tak aneh meski tak biasa. Malahan enak dan laris manis.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, 25-30 kilogram daging dan jeroan ludes dibeli pelanggan. Sedangkan cabai yang dibutuhkan mencapai 5 kilogram serta dibutuhkan 20 kelapa untuk membuat kuah pedasnya.

Di warung yang sudah berusia 2 generasi ini, Jumiati (36) putri Bu Giyem, tetap mempertahankan resep yang diturunkan sang ibu. Babat, iso dan daging yang telah dicuci bersih direbus bersama bawang putih, bawang merah, cabai, kemiri, lengkuas, daun serai, dan daun salam selama 6 jam menggunakan api kecil.

Saat disajikan, babat dan daging diiris-iris agar mudah disantap. Babat ini teksturnya empuk dan nikmat. Aroma rempah dan bumbu sangat terasa, sehingga bebas anyir. Jika suka, potongan iso juga bisa dikombinasikan untuk melengkapi sajian babat ini.

Catat waktu bukanya jika hendak bersantap di sini, yaitu mulai pukul 17.00. Tak sampai lewat pukul 10 malam, seluruh hidangan ludes tak bersisa.

Hidangan khas berupa nasi lodho sebetulnya berasal dari Trenggalek, kota di sebelah Pacitan. Namun hidangan ini sudah sangat langka bahkan jarang sekali ditemukan penjualnya. Di Pacitan, nasi lodho justru bisa ditemui di kawasan pasar Sundeng. Nasi ini sekilas mirip nasi uduk, karena berasnya dimasak dengan santan. Namun bedanya, di dalam beras dimasukkan pula sedikit campuran beras ketan sehingga hasilnya nasi lebih lengket dan padat seperti nasi sushi.

Nasi ini dihidangkan dengan sajian ayam dan kuah santan terpisah plus urap. Ayamnya sebelum dimasak dengan bumbu kuning, dibakar dulu, sehingga aromanya lebih khas. Satu ekor ayam yang telah dibersihkan bulunya kemudian dibakar di atas bara arang berapi kecil hingga kuning kecoklatan. Ayam dari jenis pejantan ini lalu diungkep bumbu selama 2 jam. Bumbu ungkepnya ada bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kunyit, lengkuas, daun salam, gula jawa, dan garam. Ada tambahan kencur dan jinten dalam bumbu ungkep untuk membuatnya lebih beraroma. Kaldu ayam yang dihasilkan dari perebusan nantinya diolah jadi kuah setelah dicampur dengan sedikit santan.

Proses pemasakan tidak hanya sampai di situ, daging ayam dikukus setelah diungkep, sebelum siap disajikan di atas meja. Hasilnya, daging ayam benar-benar empuk dan nikmat. Untuk menambah citarasa pedas, kuah yang tersaji dalam mangkuk terpisah dari ayamnya ini dilengkapi rawit utuh. Alih-alih mengganti lalapan, di Pacitan sajian urap lebih lazi di sandingkan dengan ayam kuning di atas piring yang sama.

Seporsi nasi lodho lengkap harganya Rp 15 ribu. Warung ini siap melayani pembeli mulai pukul 08-20.00 setiap hari.

t... ma a A l

NASI TIWUL BU GANDHOS

Jl. Solo – Pacitan Tamperan Sidoharjo

Pacitan Telp. 081259952319

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.