KUNCINYA KREATIF & STRATEGI PEMASARAN

Berjualan bika ambon masih punya peluang. Yang penting, teknik pembuatan plus sentuhan kreativitas pada varian rasa. Dijamin penggemarnya tak pernah surut. Kue yang pas jadi oleh-oleh, sekaligus hadir pada acara spesial ini dibidik banyak orang tak hanya

Saji - - Inspirasi Usaha - TEKS & FOTO RIZKIE N. & SITA RAHMAN • VISUAL KHARISMA

Jeli membaca peluang mengantarkan bika ambon bermerek Rica Rico kini memiliki 21 gerai yang tersebar di Jakarta. Pemiliknya, Dian, sudah merintis usaha ini 11 tahun lalu.

Berbekal resep dari sang Mertua yang asli Medan, Dian mengandalkan bahan tradisional air nira sebagai pengembangnya. Bika ambon berbahan sagu, telur, dan santan ini yang diaduk bersama ini didiamkan selama 8 – 12 jam hingga mengembang alami. Baru setelah itu pengovenan dilakukan mulai malam hingga dini hari. “Jadi semua bika ambon dibuat fresh, seketika itu juga didistribusikan ke semua outlet,” imbuhnya.

Hasilnya, bika ambon Rica Rico punya keistimewaan pada teksturnya yang lembut, bersarang, dan rasanya sangat istimewa. Sejak awal, Dian bertahan menjual bika ambon rasa klasik dalam 2 pilihan rasa saja. Yaitu bika ambon original yang beraroma daun jeruk dan bika ambon pandan. Karena keistimewaan rasa dan teksturnya inilah bika ambon buatannya sering dibawa hingga ke luar negeri oleh pelanggannya meski tak menawarkan banyak varian rasa. Produksinya sudah mencapai 600 – 900 loyang bulat per hari. Apa saja jurus marketing yang dilakukannya agar produknya laris?

Untuk mencapai jumlah produksi yang tinggi, ia melakukan langkah jitu dalam pemasarannya. Dian jeli memilih lokasi jualan yang tepat sesuai target yang ingin disasarnya, sehingga tak sekedar memenuhi syarat ramai belaka. Targetnya sejak awal adalah ibu-ibu, sekaligus buah tangan/oleh-oleh. Mengingat Jakarta bukan kota yang memiliki tentengan khas layaknya jika kita berkunjung ke daerah, maka ia pun mencari lokasi yang juga banyak di datangi wisatawan. Lokasi perbelanjaan Mangga Dua jadi incarannya sejak awal. Alasannya, di sinilah semua orang dari luar kota bahkan luar negeri berkumpul untuk berbelanja barang grosiran. “Mereka pasti senang berbelanja, dan butuh oleholeh dari Jakarta,” ceritanya.

Langkah lain yang dilakukannya adalah differensiasi. Agar punya ciri khas, Dian memilih bika ambon yang dicetak dalam loyang bulat dari pada bentuk kotak atau persegi panjang. Garis tengahnya 18 sentimeter dan dihargai Rp 35 ribu per loyang. Meski demikian, pada perkembangannya, Dian juga membuat bentuk lainnya berupa kotak ukuran 21 x 21 cm, dan 25 x 25 cm karena permintaan pembeli yang memesan ukuran lebih besar. Harganya masing-masing Rp 75 ribu dan Rp 125 ribu. Sedangkan menyasar pesanan snack boks atau porsi kecil, ia meluncurkan bika mungil seharga Rp 5 ribu saja.

Bidikan yang tepat dan jeli akhirnya membuat Dian berhasil membuka 21 gerai yang tersebar di beberapa mal lainnya, antara lain Mal Puri Indah, Kelapa Gading, Pasar Baru, hingga Emporium Pluit.

Pakai air kelapa

Salah satu rahasia kelezatan bika ambon Raniah asal Bandung ini terletak pada penggunaan santan yang dimasak terlebih dulu selama 12 jam sebelum masuk ke dalam adonan. Satu lagi, mereka juga mengganti peran air nira dengan air kelapa. Hasilnya, teknik yang tepat dan bahan yang diolah telaten berhasil membuat usaha ini berkembang pesat di Bandung.

Santan yang sudah dimasak lama, lantas diadoni bersama bahan lain seperti sagu, telur, gula, dan air kelapa. Proses fermentasinya berlangsung selama 5 jam, terakhir bika ambon siap dipanggang. Cara ini membuat tekstur bika ambon berminyak dan lebih awet. Rasanya pun sungguh nikmat bikin ketagihan.

Soal varian, Satya Nugraha (51) dan Yayu Rosanah (44), pendiri usaha ini, tak mau setengah-setengah. Konsep varian rasanya harus asli bebas essens. Misalnya citarasa keju banget bisa kita temukan pada bika ambon keju. Bika yang toping atasnya berlapis keju tebal ini tak main-main dalam memberikan flavor istimewa pada produknya.

Selain sebagai toping, adonan bika juga diberi campuran keju parut. Di samping bika ambon keju, ada juga bika ambon pandan. Satya dan Yayu membuatnya dari daun pandan yang dihaluskan, lalu diperas airnya. Mereka juga mengkreasikan bika ambon cokelat menggunakan cokelat leleh yang dicampur dalam adonan. “Komposisi cokelatnya sudah kami uji coba sehingga tanpa meninggalkan karakter bika ambon yang bersarang di dalamnya, rasa cokelat asli tetap terasa” urainya.

Seloyang bika ambon original berukuran 22 x 11 x 10 sentimeter berbobot 700 gram dibanderol Rp 25 ribu. Sedangkan rasa cokelat, keju, dan pandan dijual Rp 30 ribu.

Yayu juga menyediakan bika ambon berukuran kecil dan berbentuk bulat dan lebih praktis. Harganya pun cukup murah, Rp 1.200 per buah. Bika ambon Raniah bisa bertahan hingga 4 hari dalam suhu ruang.

Konsep harga terjangkau dan kualitas yang baik ini membuat Bika Ambon Raniah mampu menembus pasar menengah di Bandung. Mereka menjualnya melalui beberapa outlet yang tersebar di Bandung dan menembus kota kabupaten di sekitarnya. Di antaranya Buah Batu, Antapani, Leuwi Panjang, Pasteur, serta di Sumedang dan Majalaya.

Pembeli boleh icip dulu

Selain buahnya, durian juga bisa dinikmati dalam sajian bika ambon. Nah produsen bika ambon durian paling popular saat ini adalah Zulaikha. Di Medan, merek Zulaikha memang begitu menguasai pasar kue ini. Padahal ada lebih dari 50 gerai bika ambon di kota ini. Tak tanggungtanggung, buah durian asli yang komposisinya dominan dimasukkan ke dalam adonan yang berbahan tepung tapioka, santan, gula, telur dan air nira.

Selain bika ambon durian, ada juga rasa original, pandan, moka, keju dan pandan keju. Konsep jualan yang kreatif membuat usaha ini laris manis, bahkan meroket sebagai ikon oleholeh khas kota Medan. Jika datang ke toko Bika Ambon Zulaikha, kita bisa mencicipi langsung setiap iris kue sebelum membelinya. Jadi tak seperti membeli kucing dalam karung, Zulaikha melesat dengan konsep “silakan cicip dulu” ini. Karena dijamin setelah mencoba sedikit, orang akan menjinjing berdus-dus bika ambon saking enak rasanya.

Di awal usahanya, banyak orang tak mengenal toko ini. Zulaikha tak ragu bekerjasama dengan penarik becak jika sedang mengantar tamu

keliling kota. Berbagi keuntungan dengan tukang becak yang membawa turis dari berbagai tempat untuk mampir di toko mereka menjadi salah satu cara promosi yang cukup jitu.

Sadar bidikannya adalah penganan oleh-oleh, Zulaikha juga menyertai deretan pelayan yang sigap melayani pembeli dengan cepat, apalagi saat toko sedang ramairamainya. Jadi menghindari antrian panjang dan lama, karena biasanya pembeli berburu oleh-oleh di hari terakhir sebelum pulang, bahkan hanya 2-3 jam sebelum pesawat lepas landas. Bika ambon dijual mulai Rp 25 ribu-Rp 70 ribu per loyang.

Bika ambon gula merah dan kismis

Di Yogyakarta, bika ambon ada yang laris manis karena memiliki rasa unik, yakni rasa gula merah. Sejak 2003, bika ambon gula merah ini dipopulerkan pasangan suamiistri Samuel Nata Hamijaya dan Wulantika Nata (52) di Yogyakarta. Dengan cerdik, mereka membidik citarasa favorit masyarakat hingga akhirnya produknya bisa diterima lidah pembeli. Rasa manis dari gula Jawa pada masakan memang akrab dilidah dan kesehariaan masyarakat Yogyakarta. Lantas mereka mengujinya pada resep bika ambon.

Bika ambon gula Jawa ini pada dasarnya mengganti komposisi gula pasir dengan gula jawa atau gula merah. Hasilnya, selain lebih harum, bika ambon juga jadi berwarna kecoklatan. Aroma sisa panggangannya begitu khas dan amat disukai tak hanya orang lokal, namun hingga turis mancanegara yang datang ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta, nama Larizo memang melekat dengan produk bika ambon. Berawal dari satu toko di Jl. Kaliurang KM 14,4 pada tahun 1999, usaha bika ambon ini berkembang pesat hingga memiliki 7 cabang di Yogyakarta dan 2 cabang di Solo. Ekspansi lainnya Larizo juga bisa ditemui di wilayah Semarang dan Magelang, masingmasing terdapat satu cabang.

Produknya makin diburu saat pilihan lain muncul, antara lain bika ambon kismis yang jarang dijual orang. Jadi selain bika ambon original, dan keju, dua lainnya adalah gula jawa dan kismis. Strategi yang dipakai pasangan suami-istri ini dalam berjualan juga tak biasa. Sadar dengan persaingan yang tak sedikit, mereka memiliki strategi khusus dalam mengeluarkan rasa tertentu ke pasaran. Misalnya menjelang lebaran, natal, atau tahun baru, Samual dan Wulan sepakat meluncurkan rasa pandan dengan warna hijau dari daun suji asli hanya di ketiga momen tersebut. Peminatnya juga luar biasa banyak dan tak bisa memesan sebelumnya. Jadi siapa cepat dia dapat.

Semua varian produk bika ambon ini dijual dalam dua ukuran, yaitu ukuran kecil (10 x 20 sentimeter) dan ukuran besar (diameter 20 sentimeter). Harga bika ambon dijual mulai mulai Rp 19.500 sampai Rp 36 ribu.

Dengan berkembangnya usaha bika ambon ini, kebutuhan akan bika ambon pun meningkat. Dalam satu hari Larizo memproduksi hingga 3000 loyang ukuran kecil dan 1000 loyang ukuran besar yang kemudian didistribusikan dan dijual di tokotokonya. Bika ambon yang dibuat setiap hari ini dilakukan untuk menjamin agar produk selalu baru.

Produk Larizo melakukan promosi melalui media sosial. Selain itu, untuk meningkatkan penjualan, Larizo juga menjalin kerjasama dengan berbagai katering, hotel, dan instansi pemerintahan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.