OLAHAN AYAM PRAKTIS, LARIS-MANIS Alamat...

Usaha lauk praktis yang dirintis Toya Laraza (24) beberapa tahun lalu ini, berawal dari kebiasaannya membawa bekal ayam suwir. Menu yang dimasak sang Ibu ternyata banyak penyukanya. Ketika dipasarkan dengan nama Ayam Suwir Si Kentung, puluhan kilo ayam te

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO SHANTI K. • VISUAL TRIANA TANGJONG

Usaha ayam bebas tulang ini dirintis Oya, sapaan akrab Toya 2 tahun lalu. Ibu satu anak yang dulunya bekerja di salah satu perusahaan periklanan di Jakarta ini tak pernah menyangka kebiasaannya membawa bekal justru malah menjadi modal besarnya untuk mendirikan usaha sendiri selepas melahirkan.

Menu Bekal dari Ibu

Ketika bekerja dan kos di dekat kantor, sang ibu seminggu sekali membawakan Oya bekal menu sehari-hari yang bisa disetok untuk 3-4 hari. Salah satunya, ayam suwir. Ayam ini tak hanya bisa disimpan beberapa hari di kulkas tanpa basi, tapi juga praktis disantap karena sudah bebas tulang.

Melihat kebiasaan Oya menyantap bekal makanan yang nikmat ini, teman-teman yang pernah mencicipi mulai memesan dalam jumlah banyak. “Mereka bilang, tekstur ayamnya masih berkaldu, tak kering seperti abon. Rasanya gurih dan aromanya sangat harum,” kenang Oya.

Didominasi aroma daun jeruk yang segar dengan rasa pedas yang pas, siapa yang bisa menolak hidangan ini? Saat melihat respon orang di sekitarnya yang demikian antusias, Oya lantas terpikir untuk merancang sebuah usaha yang serius. “Saya pikir inilah kesempatan yang baik merintis usaha,” jelas Oya.

Keinginan merintis usaha ini semakin menjadi ketika Oya Hamil. “Tetap kerja rasanya sulit apalagi berkantor di Jakarta, sementara saya tinggal di Bogor.”

Dengan mantap ia mempersiapkan usahanya sebelum memutuskan keluar dari pekerjaan yang sudah digelutinya selama 2 tahun. Meski pada awalnya hanya berangkat dari usaha rumahan, ia tak mau asal-asalan. Mulai dari resep, komposisi, dan tekniknya harus pas agar citarasanya konsisten dari waktu ke waktu.

Langkah berikutnya ia memutuskan untuk mengulik resep buatan sang Ibu. Meski menurutnya sudah enak, namun tak bisa meluncur ke pasaran dengan sajian seadanya. Karena itu perlu dilakukan uji coba ulang. Hasil uji cobanya dibagikan kepada sahabat dan kerabat untuk dimintakan pendapat.

Awalnya, ayam suwir berdasar resep sang ibu dibuat dengan cabai merah dan cabai hijau. Tetapi berdasar hasil survei, kebanyakan orang lebih menyukai cabai merah karena warnanya lebih cantik dan aromanya bebas langu. Ia juga menemukan teknik masak yang lebih tepat agar hasilnya tidak mirip abon. Caranya, dengan mengukus ayam bersama bumbu hingga kaldu tak hilang. Cara ini juga membuat ayam tekstur lembap. Saat disantap, ayam tidak kering dan terasa seperti ampas

Kembangkan menu lauk praktis

Setelah 3 bulan membongkarpasang resep dan teknik masak yang tepat, ia lalu mulai memproduksi ayam suwir perdananya.

Tak banyak yang dibuatnya saat itu. Hanya 2 kilogram dada ayam. Hasilnya dijual secara langsung pada teman-teman kantor. Kemasannya pun mika dan tampak sederhana. Rasanya pun hanya ayam suwir pedas saja. Sehari berjualan, ayam suwir yang dibuatnya secara telaten ini ludes tak bersisa. Melihat respon yang baik, sang Ayah memberi usulan nama Kentung yang berarti “kendaraan beruntung” untuk menjadi merek produk ayam yang dipakai hingga kini.

Untuk meningkatkan jumlah produksinya lebih tinggi lagi, Oya lalu memutar otak agar bisa menggapai pasar konsumen yang luas. Ia ingin menjangkau pembeli mulai dari anak-anak hingga mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Caranya dengan membuat 2 macam rasa ayam suwir. Selain ayam suwir pedas, ia juga membuat ayam suwir original yang bisa dikonsumsi oleh anakanak. “Karena anak-anak pasti doyan ayam ini jika tidak pedas,” promonya.

Pilihan jenis ayam kini juga dijual dalam 2 macam, yakni ayam kampung atau ayam potong. Semua dibuat dari dada ayam. Agar rasanya lebih gurih alami, Oya memilih dada ayam dengan sedikit kulit dalam campuran ayam suwirnya.

Lalu ia juga menawarkan menu baru berupa ayam penyet kacang dan pecel kampung. Semuanya dijual sebagai sajian siap santap. Ayam penyet kacang termasuk produk ciptaannya sendiri yang tak mungkin bisa ditemukan di tempat lain. Idenya dari ayam penyet bersambal, namun dimodifikasi dengan sentuhan kacang panjang dan kencur pada siraman sambalnya agar lebih segar. Menu ini juga jadi lebih lengkap karena sudah mengandung sayuran.

Manfaatkan semua sarana marketing

Setelah punya menu baru, Oya memutuskan keluar dari pekerjaannya dan fokus merintis usaha ini. Sadar bisnis makanan tak bisa bertahan jika hanya bermodalkan produk yang enak semata, Oya lantas melakukan promosi secara kreatif melalui setiap celah yang dinilainya sangat strategis. Ia lantas turun langsung ke kampus dan menyebarkan brosur di beberapa universitas besar antara lain IPB dan Universitas Pakuan Bogor. Dengan cerdik ia juga memanfaatkan jasa kurir untuk menyebarkan brosur setiap hari Senin dan Rabu pukul 9 pagi, mengikuti jadwal keliling si kurir.

Untuk kalangan perkantoran, Oya mulai memperkenalkan ayam suwirnya dengan mengikuti bazar di kantor-kantor di Jakarta dan Bogor sambil membagikan kartu nama. Lalu untuk bisa menembus segmen konsumen anak-anak. Caranya sama dengan mengikuti bazar sekolah. Informasi bazar diperolehnya dari para ibu di berbagai komunitas yang diikutinya. “Sejak memiliki usaha ini, saya benar-benar jadi rajin bergaul ke sana-kemari, “tutur Oya sambil ketawa.

Saat jualan langsung di bazar sekolah atau perkantoran, Oya melakukan berbagai cara agar makanannya laku dan mendapat respon balik dari pembeli. Misalnya, dengan cara menyertakan paket lengkap nasi berikut ayam suwir atau ayam penyet kacang di dalam satu boks. Ia juga memberikan informasi layan-antar dalam bentuk paket makan siang pada setiap pembeli yang datang ke gerainya.

Oya juga aktif menjual produknya melalui konsep titip jual di beberapa tempat strategis. Misalnya, minimarket, toko kue, dan koperasi kantor. Lalu untuk konsumen anak kos, ia merancang porsi kecil berisi 100 gram yang bisa disantap dua kali sehingga sangat praktis. Harganya Rp 12 ribu “Cara ini efektif dan bikin penjualan jadi meningkat,” ujarnya senang.

Ayam suwir juga dijual dalam ukuran kemasan 250 gram dan satu kilogram dengan harga Rp 30 ribu dan Rp 110 ribu. Setelah dikenal luas, Ayam Suwir Si Kentung ini setiap hari memproduksi sedikitnya 60-100 pack sehari dari puluhan kilogram dada ayam. Produksinya dilakukan mulai pukul 06.00 hingga pukul 11.00.

Berkat upayanya yang gigih, usahanya makin dikenal luas dengan sistem penjualan deliveri, membeli langsung, dan katering. Berbagai acara gathering, arisan, event besar, hingga rapat dilayani setiap hari. Pesanan antar ini juga meliputi kawasan Bogor dan Jabodetabek. Tak jarang pula pembeli menjinjingnya sebagai buah tangan maupun bekal di perjalanan.

Nah, usaha ayam olahan sederhana pun sesungguhnya bisa melejit kalau ditangani melalui tahapan yang tepat. Ayam Suwir si Kentung inilah contohnya.

AYAM SI KENTUNG

Jl. P. Sogiri No 73 Rt 03/04 Tanah Baru Bogor Utara

Telp. 085282264560, 081222201382, 081293331745

@aymsuwirkentung Ig: ayam suwir sikentung

Pin 747BA7BB

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.