BERJAYA SETELAH JATUH-BANGUN

BEBEK BETUTU MAS ROBBY, SEMARANG Meski bebek betutu asalnya dari Bali, namun di Semarang sajian bebek nan nikmat ini tetap laku keras. Hidangan ini jadi disukai karena Nourrobby Aulada mempopulerkannya melalui usaha rumah makan yang didirikannya 2 tahun s

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO MIFTAKH FARIED • VISUAL TRIANA TANGJONG

Robby, sapaan akrab lelaki muda yang baru berusia 19 tahun ini boleh berbangga hati. Sepak terjangnya di dalam menekuni usaha makanan tak main-main. Berkat kegigihannya memperkenalkan sajian bebek betutu di Semarang, kini ia sudah memiliki 2 cabang rumah makan yang laris manis.

Jatuh bangun sejak SMA

Usaha yang dirintis Robby ini sebetulnya bukan langkah pertamanya terjun di dunia bisnis. Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ia sudah banyak melakukan usaha, mulai dari berjualan stiker, kaos, sepatu, ternak lele, sampai angkringan. Namun semuanya mengalami jatuh-bangun, bahkan tak berjalan mulus. Meski demikian, toh Robby pantang putus asa. Kegagalan demi kegagalan inilah yang justru membuatnya meraih sukses besar. “Banyak pelajaran yang saya ambil dari setiap usaha yang pernah saya jalani,” kenangnya.

Bidikan yang kurang cermat jadi salah satu pengalamannya yang berharga. Misalnya saat merintis usaha angkringan yang ternyata pesaingnya sudah sangat banyak di Semarang.

Sambil mencari ide berjualan, pada suatu ketika, Qoida (54) sang ibu memasak sajian bebek betutu. Saat mencicipi rasanya, Robby langsung jatuh hati. Karena selain enak, bumbu rempah meresap hingga ke bagian tulang. Sebuah sajian bebek yang jarang ia temukan sebelumnya, kecuali jika bertandang ke Bali.

Lantas terbesit dalam benaknya untuk menjual bebek betutu di Semarang. Analisis kecil-kecilan dibuatnya. Misalnya saat ditelusuri, belum ada penjual masakan bebek bercitarasa rempah komplet yang begitu nikmat seperti olahan betutu ini. Paling banter di kota-kota di Jawa Tengah penjual bebek mengolahnya dengan cara digoreng dan disantap dengan lalapan, pikirnya saat itu. Berbekal resep yang diajarkan sang ibu kepadanya, Robby berani mengambil keputusan untuk menjual sajian bebek betutu di kota tempat tinggalnya, Semarang.

Dari garasi rumah

Cita-citanya untuk memiliki usaha sendiri kembali ia wujudkan. Tapi kali ini tak bermodalkan kenekatan saja. Resep dasarnya ia ujicoba dulu. Lalu soal lokasi usaha, ia tak mau gegabah. Setelah menghitung modal yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan garasi rumahnya sebagai tempat berjualan dari pada mencari lokasi usaha lain. Selain tak jauh dari jalan raya, ia pun tak perlu modal besar di awal usaha, demikian pikirnya. Agar lebih mengangkat suasana Bali, Robby mendekor garasi dengan pernik-pernik khas Bali.

Usaha diawali dengan berbagai rintangan. “Padahal rasanya persiapan sudah dilakukan semua,” ujar Robby.

Meski bebek betutu buatannya di lidah terasa nikmat, bukti berkata lain. Usaha yang dirintis di garasi rumahnya ini selama 2-3 bulan tak mengalami perkembangan. Sepinya minta ampun. Harapan Robby membuka pasar di lautan biru pupus karena cita rasa bebek betutu original Bali yang cenderung pedas asin, ternyata kurang sesuai dengan selera lidah orang Semarang.Tak mau gagal ditengah jalan, ia lalu melakukan riset ulang.

Ia ajak beberapa temannya berdiskusi. Robby mencari sekaligus berbagi pengalaman dengan para pengusaha yang sudah terjun lebih dulu di Semarang. Berbagai informasi seputar usaha digalinya. Tak cukup sampai di sana, setiap konsumen juga ditanyai masukannya agar Robby bisa memperbaiki keadaan yang tak sesuai harapan tadi. Setelah bertanya dan menerima masukan dari mana-mana, Robby pun berhasil menemukan masalah utamanya. Rupanya citarasa yang tidak sejalan dengan lidah konsumen di kota tempatnya berjualan menjadi biang keladinya. Sentuhan rasa manis dalam sajian lebih disukai. “Jadi banyak masukan kalau rasa bebeknya agak disesuaikan dengan lidah orang Semarang, yakni sentuhan rasa manis,” kisah pemuda yang pantang menyerah ini.

Sesuaikan selera konsumen

Berbekal surveinya, Robby segera melakukan penyesuaian rasa. Mulai dari memodifikasi resepnya, hingga menciptakan sajian lain berbasis bumbu betutu, misalnya ayam betutu dan aneka pepes ikan betutu dari patin, kakap, atau bandeng.

Bersama ibu dan kakaknya Fathya Nouri Hanna (25), Robby memodifikasi citarasa bumbu betutu yang tadinya pedas dan sarat rempah, menjadi bebek betutu versi Mas Bobby. Yaitu bebek betutu yang citarasanya gurih-pedas dengan semu manis yang lezat. Adaptasi rasa ini membuat usaha yang sempat terpuruk menjadi sukses hingga kini. Hasilnya pun sungguh mengejutkan. Bebek betutunya laris manis diserbu pembeli. Rupanya kombinasi bumbu rempah pedas, gurih, dan manisnya benar-benar mengena di lidah penikmatnya.

Robby juga jeli memilih bahan baku dan menerapkan teknik masak yang tepat. Ia menggunakan bebek rata-rata berbobot 1,3 kilogram per ekor sehingga dagingnya cukup tebal. Khusus ayam, ia memilih menggunakan jenis ayam merah yang berbobot 2,3 kilogram per ekor. Ayam merah merupakan ayam petelur tua yang memiliki daging padat, namun menjadi lembut dan tidak hancur setelah diolah dalam bumbu betutu.

Proses memasak ayam dan bebek betutu membutuhkan waktu cukup lama. Bumbunya sendiri dimasak selama 6 jam. Setelah itu, sebagian bumbu digunakan untuk memasak ayam/bebek selama 3-4 jam hingga meresap dan empuk. Saat penyajian, bebek/ ayam ditambahkan bumbu betutu yang melimpah, lalu dipanaskan di atas wajan hingga airnya berkurang dan bumbu betutu agak mengering.

Bidikan yang jeli lainnya yang dilakukan Robby adalah penyajian sambal. Meski bebek betutu sudah berlimpah bumbu, lelaki muda ini sadar betul “jika tanpa sambal, orang Indonesia pasti kurang lahap makan tanpanya,” pikirnya saat itu.

Ia lalu meracik 2 macam sambal pedas yang nikmat, tapi tak meninggalkan citarasa Bali dan Jawa. Yaitu sambal matah dan sambal korek yang disajikan sekaligus pada setiap porsi bebek. Wah, ternyata sambal juga-lah yang membuat konsumen memadati kedainya setiap hari sepanjang siang dan malam. Harga yang ditawarkan juga menyasar mahasiswa hingga pekerja kantoran, mulai dari Rp 6 ribu sampai Rp 27 ribu.

Produk yang sudah enak ini ia populerkan pula melalui facebook dan twitter. Tak lama kemudian Robby juga membuat website untuk mempromosikan usahanya. Tak cukup sampai di sana, kesuksesannya juga diperoleh dari kegigihannya mempromosikan usahanya melalui brosur yang disebarkannya di perempatan lampu merah, hingga berbagai tempat makan yang ramai di kota Semarang.

Berkat upayanya, ia banyak memperoleh pesanan dari perkantoran bahkan perkawinan. Tak jarang pula ia melayani hidangan menu prasmanan, selain dalam boks. Sedikitnya ia mengolah 50 ekor bebek setiap hari untuk memenuhi berbagai pesanan maupun pembeli yang langsung datang ke kedainya ini.

Kini ia telah memiliki 2 gerai baru di kawasan Segi Tiga Emas Erlangga, Simpang Lima, Semarang. Disusul satu gerai lagi berkonsep take-away atau “bawa pulang” di kawasan perumahan MRPP. Sukses di usia muda ternyata tidak mustahil bukan?

BEBEK BETUTU MAS ROBBY

Jl. Fatmawati Raya, Ruko PSIS

Blok AB no 1-2, Semarang Jl. Erlangga Raya No. 32A,

Semarang Selatan

HP: 0856 413 555 22 www.betutumasrobby.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.