PORANG Bahan Makanan Khas Jepang

Dari sekian banyak masakan Jepang yang populer, kita kenal antara lain adalah “konnyaku” dan “shirataki”. Bahkan masakan tersebut sudah dipasarkan pada beberapa pasar swalayan di Jakarta, Bogor dan Surabaya. Mungkin Anda sendiri sudah pernah menyantapnya.

Saji - - Cara Bertanam - TEKS HIERONYMUS BUDI SANTOSO • FOTO ISTIMEWA • VISUAL BENYAMIN

Porang? Apakah itu? Adalah sejenis tanaman iles-iles, atau bahasa Latinnya disebut Amorphopallus oncophillus. Bila Anda ingin tahu tanaman porang, silakan datang di sekitar hutan jati Saradan-Caruban, Jawa Timur. Dari tepi jalan raya sudah kelihatan hamparan tanaman porang. Menurut petani porang, hampir seluruhnya hasilnya dijual ke Jepang, yang hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan negara pengimpor itu.

Umbi Porang

Produk utama tanaman porang berupa umbi. Ada dua macam umbi pada tanaman porang yaitu umbi batang yang berada di dalam tanah, dan umbi tetas/ bupil yang terdapat pada setiap pangkal cabang atau tulang-tulang daun yang mengandung biji. Umbi yang banyak dimanfaatkan adalah umbi batang yang berbentuk bulatan dan bagian atasnya berlekuk dangkal tempat bekas tumbuhnya tangkai.

Umbi terdiri atas bagian kulit dan daging umbi. Kulit umbi ketika dipanen berwarna keabu-abuan dan jika dibiarkan beberapa hari akan berubah menjadi kehitaman. Bagian kulit umbi yang terkupas akan mengeluarkan getah yang licin dan menyebabakan gatal di kulit. Daging umbi porang berwarna kekuningan, berisi karbohidrat. Selanjutnya daging umbi inilah diolah menjadi tepung porang, yang dipakai sebagai bahan baku masakan “konnyaku” dan “shirataki”.

Bentuk Tanaman

Akar tanaman porang berupa akar serabut berwarna putih. Akar yang berjumlah banyak ini tumbuh dari batang dan kulit umbi, berguna untuk memperluas daya serap air dan zat-zat hara dari dalam tanah. Sedangkan batang tanaman porang menyatu dengan umbinya dan merupakan bagian kecil dari keseluruhan bonggol umbi. Pada perkembangan selanjutnya batang mengalami perubahan bentuk untuk menyimpan cadangan makanan sebagai umbi.

Tangkai daun porang tumbuh ke atas dan dapat mencapai 125 cm dengan diameter mencapai 6 cm. Tangkai daun utama lebih besar dan lebih panjang dibandingkan dengan batang. Tangkai daun berwarna hijau muda dengan motif berbentuk belang-belang, patah-patah tidak beraturan, berwarna putih atau pudar. Pada ujung tangkai daun terdapat daun yang terbagi dalam tiga bagian anak daun yang bertumpu pada satu tangkai dan. Pada ujung percabangan tangkai daun tumbuh umbi tetas/bupil. Demikian juga pada tangkai daun, masing- masing membentuk umbi tetas/bupil.

Syarat Tumbuh dan Bibit

Tanaman porang merupakan tanaman asli daerah tropis, yang tumbuh di bawah naungan. Naungan yang ideal: Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% maksimal 60%. Semakin rapat semakin baik. Kelembaban yang cukup dengan suhu sekitar 25- 350C dan curah hujan antara 1.000-1.500 mm.

Tempat tumbuh yang optimal yaitu tempat dengan ketinggian 100-600 m di atas permukaan laut. Kondisi tanah yang diperlukan agar porang dapat tumbuh dengan baik adalah tanah dengan tekstur lempung berpasir dan bersih dari alangalang dengan ph netral (6-7).

Porang dapat diperbanyak secara vegetatif (umbi) dan generatif (biji, bulbil). Untuk langkah awal kiranya pilih bibit dari umbi. Bibit yang dipilih adalah dari yang sehat. Bibit porang cukup ditanam sekali. Setelah bibit yang ditanam berumur 3 tahun, dapat dipanen selanjutnya dapat dipanen setiap tahunnya tanpa perlu penanaman kembali.

Kebutuhan bibit per satuan luas sangat tergantung pada jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam. Dengan prosentase tumbuh benih di atas 90%, kebutuhan benih per hektar dengan jarak tanam 1,0 m x0,5 m, adalah 1.500 kg (± 20-30 buah/kg) umbi.

Tata cara penyiapan bibit dari umbi. Tentukan anakan tanaman porang yang berumur ±1 tahun yang pertumbuhannya subur dan sehat. Bongkar tanaman dan bersihkan umbi dari akar dan tanah. Kumpulkan bibit tersebut di tempat yang teduh untuk penanganan selanjutnya yaitu penanaman . Perlu diingat bahwa satu umbi porang hanya menghasilkan satu tanaman porang.

Cara Bertanam

Lahan dibersihkan dari semaksemak liar atau gulma lalu dibuat guludan selebar 50 cm dengan tinggi 25 cm dan panjang di sesuaikan dengan lahan. Jarak antara guludan adalah 50 cm. Buatkan lubang tanam 10x10x10 cm. Bibit yang sehat satu per satu dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan letak bakal tunas menghadap ke atas. Tiap lubang tanaman diisi 1 bibit. Tutup bibit dengan tanah halus / tanah olahan setebal ±3 cm.

Saat pertama kali ditanam, dilakukan pemupukan dasar. Misalnya, pupuk kandang. Untuk pemupukan berikutnya dapat dilakukan setahun sekali (awal musim hujan). Jenis pupuk adalah pupuk urea 10 gram per lubang dan TSP 40 gram per lubang. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditanam disekitar batang porang.

Sekitar tanaman porang diusahakan bebas dari rumput liar. Rajin-rajinlah melakukan penyiangan. Di samping itu, porang merupakan tanaman yang butuh naungan. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeliharaan terhadap pohon pelindung agar pohon pelindung dan tanaman porang dapat tumbuh dengan baik

Hasil Panen

Uniknya, untuk pertama kalinya tanaman porang dapat dipanen setelah umur tanaman mencapai 3 tahun. Setelah itu, tanaman dapat dipanen setahun sekali tanpa harus menanam kembali umbinya. Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5 – 6 bulan tiap tahunnya (pada musim penghujan). Di luar masa itu, tanaman mengalami masa istirahat/dorman dan daunnya akan layu sehingga tampak seolah-olah mati.

Waktu panen tanaman porang dilakukan pada bulan April – Juli (masa dorma). Umbi yang dipanen adalah umbi besar yang beratnya lebih dari 2 kg/ umbi, sedangkan umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada tahun berikutnya. Rata-rata produksi umbi porang berkisar 10 ton per hektar.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.