SUKSES PASARKAN AYAM UNGKEP KEMASAN

DALIWANG UNGKEP PRESTO, SEMARANG Keberanian meninggalkan pekerjaannya di dunia farmasi dan memilih berjualan ayam goreng bukanlah keputusan mudah bagi Muhammad Aswar Samsu (39). Bersama istrinya, Liliana (39), ia mendirikan usaha ayam goreng bermerek Dali

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO MIFTAKH FARIED • VISUAL TRIANA TANGJONG

Ide usaha bisa datang dari mana saja. Salah satunya dari hobi makan. Karena tergila-gila dengan ayam goreng sebuah warung makan di Semarang, Awang, nama panggilan Aswar Samsu, sering makan di situ. Melihat kelarisannya, lama-kelamaan Awang berpikir untuk membuka usaha yang sama. “Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak? Itu saja yang saya pikirkan,” ungkapnya.

Tekadnya begitu kuat sehingga tanpa ragu, Awang meninggalkan pekerjaannya di bidang farmasi yang sesungguhnya sudah mapan. Setelah berembuk dengan sang istri, Awang mulai mengatur sejumlah rencana agar langkahnya tidak sia-sia.

Tak mau setengah-setengah, Awang lantas berpikir untuk “sekolah” dulu sebelum benarbenar terjun ke bisnis ini. Karena disadari olehnya, modal dasar berupa kemampuan memasak dan manajemen mengelola usaha makanan tak dimilikinya. Dengan melepas gengsi di dadanya, ia lalu melamar sebagai karyawan pada warung makan yang menjual ayam goreng favoritnya.

Pekerjaannya di warung ini cukup banyak. Mulai dari berbelanja sampai membersihkan ayam jadi tanggung jawabnya. Ia juga belajar membuat bumbu, hingga menggoreng. Tak cukup sampai di situ, ia sempat ditugasi melayani pembeli, membersihkan meja, hingga cuci piring. “Semua saya lakukan demi menambah pengetahuan, mengetahui standar berjualan, sekaligus belajar hal teknis lainnya,” kenangnya sambil tertawa.

Ciptakan Ayam dalam Kemasan

Setelah merasa jago, Awang keluar dan berniat membuka usaha. Tentu ia tak berniat membuka usaha ayam goreng yang sama. Idenya sederhana saja, ia ingin semua orang bisa menikmati ayam goreng khas Semarang yang enak, tanpa harus jauh-jauh ke Semarang, Makanya ia memutuskan menjual ayam dalam kemasan praktis agar mudah dibawa ke mana-mana. “Cara ini bisa membuat siapa saja bisa merasakan nikmatnya ayam goreng Semarang,” tuturnya.

Berikutnya, ia kepingin membuat ungkepan ayam yang tetap enak hingga siap digoreng. Berbekal resep dan pengalaman waktu bekerja, Awang mulai melakukan uji coba. Beberapa kali hasilnya jauh dari harapan. “Biasanya enaknya terasa kalau disantap segera. Padahal saya kepingin membuat produk ayamnya bisa dikemas dan bisa dibawa ke mana pun,” kisahnya.

Awang pun mulai mengutakatik resepnya. Jika resep aslinya menggunakan rendaman air kelapa dan bumbu celup yang terpisah, Awang justru menyatukan keduanya di dalam ungkepan ayam. Agar meresap, ayam direbus di atas api kecil sampai ayam matang. “Bumbunya saya pakai bumbu dasar kuning dikombinasikan air kelapa. Kunyit selain untuk menghilangkan aroma amis, juga berfungsi sebagai pengawet alami,” jelasnya.

Resep ayam yang enak, bukan berarti selesai. Masih ada metode memasak yang ekonomis yang harus dikuasai. Tidak praktis kalau sekali olah cuma bisa 1 – 2 ekor ayam saja. Untuk menghemat tenaga, waktu, dan uang, sekali olah harus 20 ekor ayam. Awang terus melanjutkan eksperimennya hingga hingga menemukan resep dan metode yang tepat untuk mengolah ayam dalam jumlah banyak. Dalam eksperimennya itu, bahkan Awang pernah terpaksa harus membuang ayam mentah sebanyak satu kulkas.

Banyak Varian

Namun usaha tak sia-sia. Berkat eksperimen dan berbagai kegagalan, Awang akhirnya berhasil membuka usaha. Usahanya diberi nama, Ayam Daliwang. Ia menyediakan olahan ayam yang dikemas dalam plastik vakum tebal, berisi 1 ekor ayam siap goreng, lengkap bersama sambal, hati, ampela, dan tepung kremes siap santap. Harganya dipatok Rp 45 ribu per bungkus dengan bobot ayam pejantan rata-rata 800 – 900 gram per ekor. Ayam ini bisa bertahan hingga 2 bulan disimpan dalam freezer.

Variannya pun dibuat banyak. Awang menawarkan ayam bakar, ayam presto tulang lunak, ayam rica-rica, bebek, mentok, burung puyuh, dan burung dara. Khusus burung puyuh berisi 6 ekor, dan burung dara berisi 3 ekor dalam satu kemasan. Harganya mulai Rp 45 ribu – Rp 80 ribu.

Seluruh produk ciptaan Awang ini dijual segar dan praktis siap goreng. Kebanyakan pembeli menjinjingnya pula sebagai oleholeh. Pembelinya datang dari beberapa kota mulai dari Kudus, Solo, Yogya, Cilacap, Surabaya, dan Jakarta. Puluhan ekor ayam meluncur ke berbagai kota ini sampai-sampai pembeli harus memesannya beberapa hari sebelumnya jika ingin memesan dalam jumlah banyak.

Jitu Menembus Pasar

Produk yang enak, tak cukup dapat membawa kesuksesan jika tak bisa memilih konsumen yang tepat. Untuk memasarkan ayam buatannya, Liliana yang maju sebagai marketing. Ia punya trik jitu untuk menembus target pasarnya, yaitu kantor dan perusahaan di sekitar Semarang. Target pertamanya berbagai instansi pemerintahan.

Memberi icip-icip secara cuma-cuma adalah senjata utama Liliana. Ia yakin setiap orang pasti mau dengan makanan cumacuma. Ia lantas mencari kepala bagian dan menyerahkan satu ekor ayam untuk dicoba. Meski tak punya kenalan di semua instansi itu, ia tetap berani. “Justru tantangannya terletak di situ, berusaha menembus masuk ke setiap kantor,” ujarnya.

Usaha berpromosi ini pun tak selalu mulus. Tak jarang sang satpam pun ikut kebagian, demi bisa bertemu dengan para kepala bagian. “Banyak cara. Yang penting kita mau berusaha,” kenangnya.

Ternyata setelah banyak yang mencicipi, bukan hanya banyak yang tertarik membeli, tetapi lebih menyenangkan lagi karena banyak yang berminat menjadi reseller di kota lain. Lilina tidak mematok syarat sulit. “Untuk menjadi reseller dan mendapatkan harga khusus, cukup melakukan pembelian 10 ekor ayam,” katanya.

Untuk menjaga kualitasnya, Awang tak melakukan sistem penyetokan. Produknya selalu terkirim sesaat setelah diolah dan dikemas. “Saya menghindari pembekuan terlebih dulu. Sebaiknya saya kirim dalam keadaan fresh setelah dimasak. “Biarlah para pembeli dan reseller yang membekukannya,” jelasnya.

Dalam sehari, sedikitnya Awang menghabiskan 30-50 ekor ayam pejantan untuk membuat ayam goreng, belum termasuk varian ayam bakar, rica, tulang lunak, hingga bebek, dan mentok.

Anda pun bisa sukses seperti mereka. Perhatikan potensi kuliner di sekitar Anda, modifikasi secara kreatif, lalu ciptakan pasar sendiri.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.