BELAJAR WIRAUSAHA LEWAT KOMUNITAS

Banyak orang ingin membuka bisnis sendiri tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ada yang punya modal tapi tidak punya cukup keberanian memulai. Ada yang punya keberanian tapi tidak bisa bisa mendesain model bisnis yang tepat. Ada yang sudah mulai berwi

Saji - - Artikel15 - TEKS & FOTO M. SOLEKHUDIN • VISUAL BENYAMIN W.

Memulai dan menjalankan wirausaha memang membutuhkan tak hanya modal uang dan keberanian tapi juga kemampuan mendesain model bisnis dan strategi eksekusi yang tepat. Di sinilah perlunya setiap calon wirausahawan dan usahawan baru untuk terus belajar tentang semua aspek terkait bisnis yang ia jalankan. Dan ini pula yang mendasari pembentukan Komunitas Wirausahawan Muda (Young Entrepreneurs Community/YEC) di Universitas Kristen Petra Surabaya.

Komunitas yang didirikan oleh lembaga Continuing Education Centre (CEC) UK Petra di akhir tahun 2014 ini hingga sekarang jumlah anggotanya mencapai lima puluhan orang. Semua orang bisa menjadi anggota komunitas ini, baik yang sudah merintis usaha maupun yang belum sama sekali. “Yang penting, dia sudah punya visi,” kata Gan Shu San, Senior Partner CEC UK Petra. Dengan kata lain, setidak-tidaknya anggota YEC harus sudah punya rencana bisnis di bidang tertentu yang jelas, misalnya usaha olahan ikan bandeng, kue bronis, catering, atau yang lain.

BELAJAR DARI NOL

Berbeda dari komunitas wirausaha kebanyakan, di YEC semua peserta akan dibimbing mulai dari nol sampai menjadi wirausahawan yang mandiri. Di YEC, peserta akan memperoleh bimbingan mulai dari aspek fundamental, seperti paradigma dan mindset berbisnis, dimulai dari keberanian mengambil risiko. “Entrepreneurship itu pasti melibatkan risiko. Tidak ada kewirausahaan tanpa risiko. Tidak ada bisnis yang pasti untung,” kata Rolly Intan, Rektor UK Petra yang menjadi pembicara dalam seminar dan grand launching komunitas ini pada 23 Januari 2015 lalu. Paradigma ini perlu untuk mengangkat insting bisnis, setelah itu mereka akan dibiarkan belajar sendiri,” kata Gan Shu San.

Ia mengibaratkan CEC sebagai guru les privat yang mengajari siswa agar bisa mandiri sehingga bisa belajar dan mengerjakan soal sendiri, tidak selalu bergantung dan bertanya kepada guru les. Tak hanya aspek fundamental, di YEC semua anggota juga akan dibimbing untuk mengatasi masalahmasalah teknis seperti mengurus perizinan dan mendesain model bisnis yang tepat. Agar desainnya tepat, wirausahawan dibimbing agar bisa melakukan survei pasar dan menentukan segmen pasar, apakah akan menyasar konsumen premium, menengah, atau bawah. Masing-masing segmen pasar tentu membutuhkan desain bisnis yang berbeda-beda. “Banyak bisnis yang tidak berkembang karena tidak punya model bisnis yang baik. Banyak pengusaha yang cuma ikut-ikutan padahal dia tidak tahu seluk-beluk bisnis itu dengan baik,” kata Gan Shu San.

Menjadi wirausahawan jelas tidak semudah belajar teorinya. Pasti ada banyak tantangan di jalan. Untuk itulah selama merintisnya, wirausahawan pemula membutuhkan bimbingan dan wadah untuk belajar secara kontinu. Untuk tujuan inilah YEC dibentuk.

Dengan biaya keanggotaan Rp 1,5 juta untuk masa satu tahun, anggota YEC mendapat bimbingan lewat kegiatan berbentuk seminar, workshop, couching, hingga field trip. Sebagian besar pembimbing di CEC adalah dosen-dosen UK Petra dari berbagai program studi, ditambah dengan ahli dari lembagalembaga mitra CEC. UK Petra sendiri merupakan universitas terkemuka yang memasukkan materi kewirausahaan ke dalam kurikulum di sebagian program studi.

Setelah materi pembekalan fundamental, kelas di YEC dibagi menjadi dua. Satu untuk calon wirausahawan yang baru akan membuka bisnis. Satu kelas lagi diperuntukkan buat para pengusaha yang bisnisnya sudah berjalan.

BONUS NETWORKING

Di antara anggota YEC yang sudah terdaftar saat ini, beberapa orang di antaranya sudah memulai bisnis di bidang makanan atau minuman. Salah satunya adalah Alex Sutanto. Pengusaha muda yang juga sarjana manajemen keuangan lulusan UK Petra tahun 2011 ini sudah mengawali usaha es kelapa muda kemasan dua tahun lalu. Jika biasanya es kelapa muda dijual sebagai minuman warungan, di tangan Alex minuman ini dikemas dalam gelas plastik lalu disimpan di freezer. Bisa tahan tiga bulan walaupun tanpa pengawet. Sebelum dinikmati, minuman yang diberi merek FB dan dipajang di situs Eskelapamuda.com ini harus dibiarkan menjadi setengah cair dulu baru dinikmati seperti es serut. “Saya ingin meredesain produk ini,” katanya menjelaskan alasan kenapa ia tertarik mengikuti komunitas ini.

Ia berharap, setelah nanti berkonsultasi dengan para dosen UK Petra di CEC, ia bisa mendesain ulang bisnisnya supaya bisa menjadi lebih baik dan lebih besar. Nama baru produknya sudah ia siapkan: Coco Frizzz. Dengan brand baru ini ia berharap produknya yang saat ini baru beredar dalam jumlah kecil di toko-toko swalayan, bisa memperbesar pasarnya sampai di pasar-pasar swalayan.

Saat ini es kelapa muda buatan Alex baru dipasarkan di wilayah Surabaya. Produksinya baru mencapai sekitar 150-200 gelas per hari, dengan harga Rp 8.500 untuk kemasan 250 ml dan Rp 9.500 untuk kemasan 350 ml. Dengan brand baru nanti, ia menargetkan angka penjualan ini bisa ia dongkrak sehingga kelak Coco Frizzz bisa dikenal luas masyarakat seperti minuman air kelapa yang kini banyak beredar di toko.

Ia mantap mengasah kemampuan wirausahanya di CEC UK Petra karena melihat banyaknya ahli di universitas ini. Dengan 25 program studi yang beragam, UK Petra memang memiliki banyak konsultan di berbagai bidang. Jika Alex ingin membuat desain kemasan produk yang tepat sesuai dengan segmen pasarnya, ia bisa berkonsultasi dengan ahli desain dari Fakultas Seni dan Desain. Jika ia ingin menentukan badan usaha yang tepat untuk bisnisnya, misalnya apakah harus berbentuk CV atau PT, ia bisa berkonsultasi dengan ahli dari program studi manajemen bisnis. Jika ia ingin merancang program pemasaran untuk produknya, ia bisa berkonsultasi dengan pengajar CEC dari bidang marketing.

Alasan yang sama juga menjadi dasar bagi Dhiah Vierda dan Putri Puspitasari untuk menjadi anggota. Keduanya salah sarjana ilmu komunikasi yang menemukan dunianya dengan menjadi wirausaha. Setelah lulus kuliah tahun 2012, Dhiah ikut kursus memasak, belajar membuat pastri. Sempat bekerja di hotel selama enam bulan, ia akhirnya memilih berwirausaha membuat kue-kue yang ia pasarkan lewat Instagram dengan alamat akun tepunggandum.

Ia sengaja memilih Instagram sebagai media penjualan karena menurutnya lebih sesuai untuk segmen yang dia incar, yaitu kelas menengah ke atas. Karena segmennya kelas atas, harga kue buatannya pun kelas premium. Satu boks berisi sekitar 10 kue dijual seharga di atas Rp 100.000. Dengan belajar di YEC ia berharap bisa memperbesar bisnisnya yang hingga sekarang masih ia tangani sendiri ini.

Putri memiliki latar belakang yang sedikit berbeda. Datang dari keluarga pengusaha, dia saat ini mengelola distribusi minuman sari buah kemasan merek Siiplah yang diproduksi oleh perusahaan keluarganya. Tapi ia masih merasa belum puas dengan bisnis yang ia tekuni saat ini dan ingin memiliki produk yang memang miliknya sendiri. Untuk mewujudkan keinginan inilah ia mendaftar di YEC akhir tahun lalu.

Bagi mereka, berwirausaha adalah pilihan yang lebih menyenangkan karena memberi mereka kebebasan mengelola diri sendiri. Selain itu, mengambil risiko di usia yang masih muda, kata Alex, adalah pilihan yang lebih logis ketimbang menjadi karyawan dengan kenaikan gaji yang menurutnya selalu kalah oleh laju inflasi. Menjadi orang bebas yang punya banyak koneksi, bagi pria yang juga aktif di berbagai komunitas pengusaha ini, lebih menyenangkan daripada punya banyak uang tapi tidak punya banyak koneksi.

Tambah koneksi juga merupakan salah satu bonus yang akan didapat anggota YEC. Dengan anggota yang memiliki bisnis beragam, mereka bisa saling bekerja sama. Di YEC berkumpul para pengusaha muda dengan aneka jenis usaha. Jika satu anggota ingin membuat situs web untuk usahanya, misalnya, ia bisa berkonsultasi ke anggota lain yang bisnisnya di bidang ini. “Kalau kenal di komunitas ‘kan pasti dikasih harga spesial,” kata Gan Shu san setengah berkelakar. Sayangnya, karena kelas CEC baru diselenggarakan di Surabaya, sejauh ini anggota YEC baru sebatas yang berasal dari Surabaya dan sekitarnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.