TIAP PASAR PUNYA MAKANAN KHAS

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO MIFTAKH/RIZKY NURINDIANI/ TARWIYAH • VISUAL KHARISMA

Jejak pecinan yang kuat di pasar tradisional yang merupakan cikal- bakal Kota tangerang ini terlihat dari sejumlah bangunan antara lain Museum Benteng Heritage dan Klenteng Boen Tek Bio yang berdiri tahun 1684 di kawasan Pasar Lama Tangerang. Pasar yang terletak di persimpangan Jalan Bhakti dan Cilame ini adalah tempat teramai untuk berburu makanan khas dan aksesoris Imlek setiap tahun.

Toko Ci Tety yang sudah lebih dari 30 tahun berdiri di pasar ini jadi salah satu toko yang populer menyediakan kebutuhan Imlek, termasuk peralatan sembahyang. Posisinya ada di sebelah kanan, bersebelahan dengan kedai asinan legendaris Lan Jin. Di sini Anda bisa menjumpai aneka kue keranjang dalam berbagai ukuran. “Kue keranjang khas Tangerang, biasanya berbungkus daun pisang,” ujar Tetty.

Di toko inilah kue keranjang Ny Lauw yang legendaris itu bisa diperoleh. Harganya rata-rata dipatok Rp 30 ribu – Rp 40 ribu per kilogram. Kue keranjang yang bertumpuk-tumpuk atau beken disebut kue keranjang susun yang biasanya dipakai saat upacara sembahyang juga tersedia dalam jumlah susunan 3, 5, 7, hingga 9 tingkat. Kue keranjang susunan yang bertingkat 9 bobotnya bisa mencapai 20 kilogram. Selain kue keranjang, yang beken diburu banyak orang adalah dodol rasa durian, wijen, dan polos bermerek “Ny. Lauw” dan “Ny. Pang”. Harganya berkisar antara Rp 50 ribu – Rp 60 ribu per kilogram. Semuanya dibuat para produsen yang sudah sohor di Tangerang.

Makanan khas lainnya adalah kue kering antara lain kue kacang wijen yang berbentuk mirip huruf “S” dan kue satu. Setiap imlek, kedua kue ini pasti dijajakan di pasar ini. Satu lagi kue khas Tangerang yang muncul saat Imlek adalah putu kering. Dibuat dari tepung beras yang dipipihkan berbentuk ½ lingkaran, lalu di panggang hingga renyah. Putu kering ini nantinya dinikmati bersama selai nanas. Buah nanas sendiri juga menjadi sajian khas Imlek, khususnya nanas merah. Selain warnanya yang menunjukkan keberuntungan, bentuknya juga dianggap mirip dengan mahkota raja langit.

Sementara aksesori Imlek seperti lilin, lampion, angpau, mahkota raja langit berbentuk nanas, hingga aksesori bergambar kambing pun banyak tersedia, tak hanya di toko Ci Tety, namun juga di beberapa kios lain yang khusus menyediakan aksesoris Imlek. Dominasi warna merah dan emas mendominasi jajaran toko di Pasar Lama, termasuk banyaknya pedagang dadakan yang meramaikan lapak dengan berjualan aksesori Imlek.

Pasar Pathuk terletak di Jl. Bhayangkara, Yogyakarta. Pasar yang sudah ramai sejak pukul 5 pagi ini dulunya merupakan gedung pertunjukan ketoprak yang kemudian digunakan sebagai kawasan relokasi pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan di kawasan tersebut. Pada tahun 1977, bangunan resmi dialihfungsikan dan nama Pasar Pathuk resmi disematkan. Kini, Pasar Pathuk menampung sebanyak 165 los dan 23 kios. Di sinilah paduan budaya Jawa dan Tionghoa melebur. Pasar ini disebut sebagai pecinaan-nya Yogyakarta. Salah satu sebabnya karena lokasi pasar ini diapit oleh Jl. Pajeksan dan Jl. Beskalan yang merupakan kawasan Pecinan di Yogyakarta. Makanya Pasar Pathuk menyediakan kebutuhan sajian komunitas Tionghoa. Salah satu yang paling tampak, Pasar Pathuk menjadi satu-satunya pasar di Yogyakarta yang menjual daging babi. Tak hanya itu, berbagai makanan jadi menggunakan daging babi juga dijual di pasar ini, misalnya sate babi, pia daging, dan bacang.

Sebulan sebelum imlek, biasanya para pedagang mulai menawarkan dagangan khasnya. Salah satu sajian andalan di pasar ini sajian jenang. Jenang tradisional bisa ditemukan di Pasar Pathuk, antara lain jenang sum-sum, jenang mutiara, dan jenang ketan item. Harganya Rp 3 ribu per bungkus. Sajian jenang yang terbilang langka adalah jenang gempol. Hidangan berwujud bubur manis ini terbuat dari tepung beras dicampur dengan gula Jawa. Gempolnya sendiri terbuat dari tepung beras yang dibentuk bulat seukuran bakso lalu disajikan dengan kuah santan. Di lapak Mbah Pon yang terletak persis di depan pasar, jenang gempol dijual seharga Rp 2.500,- per porsi. “Setiap menjelang imlek, hidangan manis selalu banyak dicari orang,” ujar Mbah Pon.

Di Pasar Pathuk kita juga bisa menemukan salah satu produk mi yang begitu sulit ditemukan di tempat lain. Namanya mi kakap. Mi ini bentuknya lebar, teksturnya kering, dan rasanya begitu khas ketika sudah dimasak. Bahannya terbuat dari daging kakap putih. Mi Kakap diproduksi di Bantul dan jadi salah satu makanan yang jadi buruan banyak orang Tionghoa yang tinggal di Yogyakarta. “Paling enak mi kakap diolah dengan cara direbus dulu lalu ditumis bersama sayuran,” ujar Yeni, salah satu pemilik los di Pasar Pathuk.

Harga mi kakap ini Rp 22.500 per bungkus. Di sini ada juga bahan-bahan masakan untuk Imlek. Salah satu yang paling khas adalah kehadiran sawi manis kering dan sawi manis segar. Sawi manis kering memang tak mudah ditemukan di pasar lain di Yogyakarta. Harganya 45 ribu per 250 gram.

Beberapa jajanan tradisional yang berakar pada kuliner Cina seperti kue mangkok, kue moci, kue sakura, dan kue ku dijual harga Rp 3 ribu-Rp 6 ribu. Kue keranjang mulai dijual sejak satu bulan sebelum imlek. Di pasar Pathuk, kue keranjang dijajakan dalam berbagai rasa. Mulai dari rasa original, cokelat, durian, vanila, pandan, bahkan stroberi tersedia di sini. Ada dua ukuran kue keranjang yang dijual, yaitu ukuran besar dengan diameter sekitar 10 cm dan ukuran kecil dengan diameter sekitar 7 cm. “Yang besar harganya Rp 6.500, sedangkan yang kecil Rp 5.000,” ujar Yeni salah satu pemilik kios di sini.

Sebulan menjelang imlek, pasar Atom pasti jadi salah satu tempat berburu perlengkapan maupun makanan khas tahun baru cina. Pasar yang berdiri sejak tahun 1972 ini merupakan salah satu pasar terbesar di Jawa Timur. Ada sekitar 2000 kios pedagang menempati kios jualan di pasar Atom. Letak pasar ini di jalan Bunguran kawasan Surabaya utara, persis di seberang stasiun Surabaya Kota atau beken di sebut Stasiun Semut.

Salah satu toko yang banyak menawarkan penganan khas di awal musim imlek adalah Cahaya Medan. Letaknya di Pasar Atom Tahap III lantai 1. Di toko ini produk kue keranjang, aneka permen, dan manisan buah tergolong paling laris karena termasuk makanan wajib disajikan saat sembahyang Imlek. Produk manisan maupun permennya terbilang khas dan biasanya pembeli mengirimnya ke berbagai kota. Manisan ini dikemas dalam kotak segi 8 atau disebut tak sien kho dan dijual seharga Rp 45 ribu. Di dalamnya, berisi delapan macam manisan yaitu kana, lie merah, kurma, lie kuning, sun thai lie, kim kit ket, dan jeruk kering.

Sedangkan permen dibanderol mulai Rp 20 ribu – Rp 50 ribu. Cokelat dan permen beragam bentuk ini, khusus diimpor dari Swiss hingga Cina. Sedangkan aneka jelly dibawa dari Malaysia. Produk paling terkenal dari pasar Atom saat Imlek adalah jenis cokelat emas yang bentuknya kepingan menyerupai logam emas. Dengan kemasan mentereng, cokelat perlambang harapan dan keberuntungan ini biasanya ikut disertakan dalam sembahyangan.

Tradisi menyediakan hidangan serba manis, diakui salah satu penjual sebagai tradisi para leluhur. “Suguhan serbamanis dipercaya sangat

disuka leluhur, dan Sang Pencipta. Buah-buahan, dan kue disusun di meja sembahyang, lalu berdoa bersama keluarga,” jelas Grace.

Kemeriahan makin terasa di lantai dasar Pasar Atom. Di sinilah deretan gerai pernak-pernik Imlek digelar. Para pengunjung rata-rata berburu Ten Lung, hiasan yang ditempatkan di pintu masuk, lampu lampion, lampion gantung, lampu mercon, dan aneka pernik shio kambing kayu di lantai ini. Toko Orchid Flower, yang berlokasi di lantai 2, menjual beragam lampion, dengan harga berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu untuk satu unit lampion kertas bergambar. Sedangkan lampion dengan bahan beludru dijual sekitar Rp 200 ribuan per unit. Masyarakat yang datang dari berbagai kota di seputaran Surabaya mulai berdatangan ke sini sejak awal Januari lalu.

Pusat manisan tertua sejak tahun 1970-an ini sudah menjadi identitas Pasar Ramai, pasar paling terkenal di kota Medan. Pasar ini letaknya di jalan Thamrin, tak jauh dari pusat perbelanjaan Thamrin Plaza. Menjelang imlek, manisan pasti jadi makanan yang paling banyak diburu di pasar ini. Ada manisan lokal, ada pula manisan impor. Semuanya terbuat dari beragam buah. Manisan jambu, kedondong, mangga, pepaya, jambu kelutuk, kietna, dan somboi adalah manisan lokal yang paling banyak dicari orang. Sedangkan manisan impor ada plum, anggur, zaitun, kana, lieko atau dikenal sebagai buah ceremai impor. Toko manisan Sedap di pasar ini jadi salah satu tempat yang paling banyak didatangi pembeli yang hendak merayakan Tahun Baru cina. Harga manisan bervariasi mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 80 ribu-an per kilogram.

Selain banyaknya pemburu manisan, suasana Imlek di Pasar Ramai ditandai dengan banyaknya aksesoris berwarna merah, mulai dari bunga Mei Hua, angpau, dan kue-kue yang mulai dijajakan. Kue kering khas Imlek jadi yang terlaris diburu di pasar yang mayoritas didatangi kaum Tionghoa ini. Di antara beberapa toko kue yang menghadirkan makanan khas Imlek, salah satu yang teramai adalah toko kue Alui yang sudah berumur 50 tahun lebih.

Toko yang memiliki luas 2x3 meter persegi ini dipenuhi tumpukan kastengel, putri salju, nastar cengkeh almon, corn flakes, kue bangkit, kue kering dahlia/mawar, hingga jenis gold cake isi tiga yang terdiri dari rasa sroberi, kiwi, dan almond. “Menjelang Imlek, nastar dan cengkeh almon paling laku,”ungkap Yet Lie, adik Alui, si pemilik toko.

Kue-kue buatan mereka diproduksi sendiri dan amat terkenal di Medan. Semua kue juga dibuat cantik dengan ukuran mini, sehingga cantik jadi antaran maupun suguhan saat imlek tiba. Kue kering dijual antara Rp 60 ribu- Rp 120 ribu rupiah.

Selain itu, pedagang di Pasar Ramai banyak juga terdapat aneka jenis kwaci, seperti kwaci hitam, kwaci putih, kwaci green tea, macademia nut dan lainnya. Menurut Yet Lie, kuaci tersebut sebagian besarnya adalah produk impor dari Cina. Kwaci putih per kilo dijual Rp70 ribu. diungkapkannya, kwaci termasuk salah satu cemilan khas Imlek yang mengandung filosofi rezeki yang berlimpah. Permen juga mendominasi toko ini. Permen dikemas dalam plastik yang cantik dengan warna warna yang cerah. Selain dalam kemasan plastik satu kilo, permen juga dikemas berbentuk nanas. “Karena buah nanas adalah lambang keberuntungan,”ucapnya.

Dari berbagai jenis kue yang ada, kue yang tidak boleh dilewatkan saat Imlek adalah kue keranjang, kue mangkok, dan kue moho. Di Medan, kue keranjang ini disebut kue bakul. Per bungkus terdiri dari 6 kue bakul mini harganya Rp 70 ribu. Sedangkan moho dan kue mangkok sering dipakai untuk sembahyang. Moho rasanya lembut, dibuat dari kentang yang dihaluskan. Sedikitnya 500 buah kue mangkok dan moho terjual sepanjang musim Imlek.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.