pelesir:

PELESIRAN KE SOLO

Saji - - Halaman Depan -

Konon, puluhan tahun yang lalu saat zaman kolonial, kompleks Kepatihan Solo telah dikenal sebagai pusat jajanan es di Kota Solo. Saat itu, es merupakan jajanan yang langka mengingat mesin pendingin yang masih jarang dimiliki kalangan luas. Seiring berkembangnya zaman hanya tersisa beberapa depot yang masih berdiri dengan menjual menu es hingga saat ini. Salah satu yang bertahan adalah Depot Es Nini Thowong.

Depot es ini masih dikelola oleh pendirinya, Eddy Widodo (69) sejak tahun 1980. Tiga puluh menu es yang ditawarkan di depot ini dijamin akan membuat Anda bingung. Andalannya ada es nini thowong, es gempol pleret, dan es tetap segar.

Es nini thowong merupakan campuran kolak pisang, bubur kacang hijau, dan santan yang diisi dengan leci, nanas, cendol, agar-agar, kolang-kaling, dan nangka. Rasanya “ramai” dan mengenyangkan. Es nini thowong kuahnya terasa kental, maka es tetap segar justru sebaliknya karena kuahnya dari kelapa muda segar. Isinya ada perasan jeruk purut, kolang-kaling, kelapa muda, cincau, dan agaragar coklat. Yang sudah langka adalah es gempol pleret. Es ini merupakan olahan dari tepung beras dan santan yang dibuat dengan cara dipencet atau dipleret. Beberapa butir gempol pleret yang terasa asin gurih ini umumnya dihidangkan dengan santan saja. Eddy menambahkan gula pada santan yang digunakan. Es ini juga menggunakan adonan tepung beras yang dibentuk bulat. Depot es ini buka setiap hari pukul 0720.00. Dalam sehari, depot ini mampu melayani ratusan mangkuk es yang dipesan pelanggan. Harganya kisaran Rp 3 ribu –Rp 16 ribu. Depot berkapasistas 60 orang ini tak pernah sepi pembeli.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.