Pelesir:

BLUSUKAN DI SURABAYA

Saji - - Halaman Depan -

Bubur ayam yang satu ini juga tak kalah ramai dipadati pembeli. Bahkan jadi ikon bubur terenak di Surabaya sejak tahun 1974. Namanya Bubur Pengampon sesuai lokasi jualan, di jalan Pengampon.

Keistimewaan bubur terletak pada proses yang dilakukan saat menyiapkan setiap mangkuk bubur hingga berpindah ke tangan pembeli. Meski antrean mengular, bubur yang dipesan tak langsung pindah dari panci besar ke dalam mangkuk. Melainkan dipanaskan terlebih dulu di dalam panci kecil sambil dimasukkan potongan daging ayam yang diaduk rata. Saat disajikan, bubur diberi taburan irisan cakue, bawang goreng, dan daun bawang. Taburan itu sangat bubur biasa, bukan? Nah, ini ciri khasnya. Taburan asinan kembang sedap malam yang disebut cai po. Suwiran ayam tak ditaburkan lagi di atasnya karena sudah menyatu di dalam bubur.

Tak perlu menunggu lama, dalam hitungan menit bubur hangat dengan asap yang masih mengepul sudah terhidang. Kelezatan bubur ini terletak pada rasanya yang khas, aromanya wangi, teksturnya tidak terlalu kental dan saat diaduk bersama pelengkapnya terutama cai po, rasanya sungguh nikmat. Seporsi bubur ayam ini dibanderol Rp 20 ribu.

Selain bubur, tersedia juga hidangan khas depot ini, yaitu nasi empal suwir. Sajian nasi bersama empal yang sudah disuwir dan dimasak bersama bumbu ini larisnya tak kalah dengan bubur ayam. Dilengkapi dengan tumisan kacang panjang, kering tempe, dan sambal manis-pedas, nasi empal ini dijual Rp 20 ribu. Depot bubur Pengampon menempati bangunan kuno bergaya rumahan di dalam gang kecil. Sejak berdiri tahun 1974, bubur pengampon selalu ludes terjual dalam beberapa jam saja. Pembeli biasa memarkir kendaraan di sebelah luar gang. Catat jam bukanya, mulai pukul 08.00 - 14.00. Lalu sore hari buka kembali pukul 17.00 - 21.00.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.