ANGKAT TIWUL DIKENAL MASYARAKAT LUAS

GATHOT THIWUL YU TUM, WONOSARI, GUNUNG KIDUL Usaha dan tekad Slamet Riyadi (41) mengolah tiwul secara modern, dimulai dari menciptakan tiwul aneka isi sampai nasi tumpeng tiwul lengkap bersama teman santapnya. Sehari 150 tumpeng berhasil dijualnya! Kesuks

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO RIZKIE NURINDIANI • VISUAL TRIANA TANGJONG

Banyak orang menenteng tiwul bermerek “Yu Tum” setiap berkunjung ke Yogyakarta. Bahkan kini menjadi ikon oleh-oleh khas Gunung Kidul, wilayah yang terletak di Wonosari, Bantul, Yogyakarta. Makanan ndeso ini kini dicari-cari orang, bahkan disukai dan dikenal kembali di kalangan anak muda. Padahal tadinya tiwul merupakan pangan alternatif sebagai solusi untuk mengatasi keringnya tanah yang membuat padi enggan tumbuh di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta.

Meluaskan Pasar

Naiknya kelas tiwul hingga dikenal ke berbagai daerah saat ini dimulai saat Slamet Riyadi menjajakan tiwul buatan mertuanya, Tumirah (almarhum). Yu Tum, sapaan akrab ibu mertuanya ini sudah membuat tiwul sejak tahun 1985. Melihat roda usaha ini, Slamet yang tadinya bekerja di Jakarta lantas memilih meninggalkan pekerjaannya dan bertekad mengembangkan tiwul di kota asal sang istri, Gunung Kidul.

Pada awalnya, tiwul di daerah ini banyak dibuat warga sebagai pangan pokok pengganti nasi. Rasanya tawar dan butirannya kasar. Jika tak biasa, sulit rasanya menyukai makanan ini. Yu Tum lalu mencoba membuat tiwul yang rasanya lebih mudah diterima lidah. Ia menambahkan gula sehingga rasanya manis dan kelapa untuk menimbulkan cita rasa gurih.

Kali pertama berjualan, Yu Tum berjalan kaki dari kampung-ke kampung menjajakan jualannya di sekitar rumahnya. Caranya dengan membawa tiwul yang sudah dibentuk kerucut mirip tumpeng yang ditaruh di dalam tenong (keranjang). Setiap ada pembeli, tiwul disuguhkan dalam pincuk daun pisang.

Di tahun 2003, Slamet Riyadi mulai mengambil alih. Ia memulai langkahnya dengan memperlebar jangkauan konsumennya. Dibantu istrinya, Ratminingsih (38) yang mengurusi bagian produksi, mereka bahu-membahu membesarkan usaha ini. Tak mau hanya menyasar kampung sebelah atau tetangga sekitar saja, ia mulai memikirkan cara menembus perkantoran di sekitaran Wonosari dan Yogyakarta.

Slamet juga mulai memikirkan kemasan yang lebih baik sehingga tak menggunakan pincuk seadanya. Slamet lalu merancang sebuah kemasan mika kecil dengan tempelan kertas yang dicetak dengan merek “Yu Tum”. Tak lupa ia bubuhkan nomor telepon sebagai identitasnya agar pembeli yang hendak memesan kembali mudah menghubunginya.

Rajin Ikut Pelatihan Usaha

Menyasar perkantoran, ternyata pilihan yang tepat. Slamet mulai mendapat pesanan sekaligus masukan. Salah satu masukannya adalah soal kemasan. Maka ia mengganti kemasan mika dengan besek mini agar lebih cantik dan punya ciri khas.

Melihat respons yang lumayan, Slamet mulai memberanikan diri mengikuti pameran. “Ternyata untuk mengikuti pameran, usaha ini harus terdaftar,” kenangnya.

Slamet lalu mendaftarkan usahanya ke departemen terkait. Saat mengurus proses tersebut, ia juga mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan dan seminar usaha. “Wah, pikiran saya jadi terbuka dan makin semangat,” tuturnya.

Pameran yang diselenggarakan dinas pertanian menjadi pameran perdananya kala itu. “Banyak orang melihat tiwul sebagai makanan yang aneh bahkan tak jarang dianggap sebagai pakan itik,” kenangnya.

Tak mau malu atau mundur, Slamet memutuskan untuk melakukan inovasi. Ia ingin usahanya berkembang agar pembeli melirik produknya. Bersama istrinya ia lalu mulai meracik tiwul dengan kombinasi bahan lain yang lebih populer. Misalnya cokelat, keju, hingga ragam buah antara lain nangka dan pisang. Bahan dasar tiwulnya sendiri sama dengan tiwul original resep warisan sang mertua, yaitu ketela atau singkong yang dikeringkan dengan cara dijemur setelah dikupas. Ketela yang mengering ini biasanya disebut gaplek.

Gaplek yang telah terkumpul kemudian digiling menggunakan penggilingan tepung. “Kalau zaman dulu gaplek biasanya hanya ditumbuk,” ujarnya.

Setelah itu tepung ketela ini dicampur air dan diaduk hingga menjadi gumpalan yang kasar dan siap ditampi atau diayak hingga terpisah antara butiran yang besar dan yang masih halus.

Yang halus dikukus di atas bahan bakar kayu sekitar 15 menit untuk dapat dikonsumsi. “Bahan bakar kayu panasnya lebih tinggi dan merata dibandingkan kompor biasa. Selain itu sejak dulu Ibu memang selalu menggunakan kayu bakar. Saya ingin menjaga cita rasa yang sama, “kata Slamet.

Tiwul Modern Aneka Isi

Tiwul dasar inilah yang kemudian dikembangkan. Untuk membuat thiwul manis ini, misalnya air diganti gula merah cair saat mencampur tepungnya. “Saya juga menambahkan potongan gula merah secara menyebar. Waktu dikukus, gula Jawa akan ikut meleleh dan menambahkan rasa manis sekaligus motif yang cantik.”

Untuk tiwul cokelat, Slamet menggunakan butiran meses yang dicampur begitu tiwul matang. Teknik ini dipakai juga untuk membuat tiwul keju yang diparutkan di atas tiwul matang.

Tiwul nangka dan tiwul pisang, buahnya ikut dikukus untuk mengharumkan tiwul. Tiwul aneka rasa ini butirannya halus, ditambah isian yang menyebar.

Untuk menjaga selera pembeli yang suka tiwul klasik berbulir besar, Slamet masih mempertahankan tiwul srintil. Tiwul ini bulirnya lebih besar, sekitar 3 kali tiwul lainnya.

Harga tiwul dipatok mulai dari Rp 14 ribu –Rp 20 ribu. Tiwul dijual per tumpeng kerucut setinggi 8 sentimeter dan diameter 10 sentimeter.

Buka Warung

Terobosan ini membuat Slamet berani mendirikan sebuah warung sederhana di tempat produksinya. Meski punya warung, ia tetap gencar memasarkan produknya sambil bekerja sama dengan beberapa kawasan desa wisata untuk mengenalkan produknya pada wisatawan dan masyarakat di Yogyakarta. Tak heran kalau pembelinya makin meningkat bahkan dari luar kota dan luar pulau.

Dari warung bambu sederhana, pada tahun 2010 Slamet berhasil membuat bangunan permanen yang lebih nyaman. Ia mengonsepkan toko oleh-oleh dengan lahan parkir luas dan nyaman. Ia juga mengembangkan nasi tiwul untuk memperkenalkan hidangan khas Gunung Kidul pada wisatawan. Nasi tiwul bisa disantap di sini dengan aneka lauk khas, antara lain tumis daun pepaya, sambal bawang, dan belalang goreng.

Jika dulu 5 kilogram tepung ketela saja yang bisa dihabiskan untuk sekali berjualan, kini dalam sehari Slamet bisa menghasilkan 130 hingga 150 tumpeng tiwul atau setara dengan 50 kilogram tepung ketela. Slamet bahkan kini bisa memberdayakan petani setempat untuk menanam dan menjemur singkongnya hingga menjadi gaplek. Jadi hanya singkong siap giling yang diantarkan ke rumahnya setiap hari. Sedangkan di rumahnya ia dibantu 25 karyawan untuk memproduksi tiwul setiap hari.

Melesatnya usaha ini membuat ia juga akhirnya bisa mendirikan 2 cabang usaha di jalan Wonosari dan Jalan Baron, Gunung Kidul. Ia juga memperluas lokasi produknya dengan membangun 20 tungku untuk mengukus tiwul. Produksi dimulai sejak pukul 04.00 dan toko dibuka pada pukul 06.00. Sengaja ia membuka toko sepagi mungkin untuk menyasar pembeli yang hendak pelesiran ke arah Gunung Kidul atau Yogyakarta.

Kini tak hanya perekonomiannya yang terangkat, ia juga termasuk dalam jajaran pengusaha makanan yang melestarikan pangan lokal dengan kreatif sekaligus mengangkat daerah Gunung Kidul jadi lebih dikenal wisatawan.

Anda bisa meniru derap langkah suksesnya!

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.