DARI KEPITING HINGGA IKAN ASIN

MANISNYA UNTUNG USAHA ABON

Saji - - Inspirasi Usaha - TEKS & FOTO INTAN YS/ MIFTAH F/NABILA KARAMINA • VISUAL KHARISMA

abon lalu dikeringkan menggunakan spinner (alat peniris minyak).

Sedangkan abon kepiting bumbu diproses dengan cara disangrai bersama bumbu halus hingga kering dan hancur menjadi abon. Abon kepiting bumbu ini lebih aromatik karena prosesnya sangrai, dan juga teksturnya lebih minim minyak.

Abon dikemas dalam tiga jenis ukuran dan kemasan berbeda. Ukuran 50 gram dikemas dalam aluminium foil yang dimasukkan dalam dus sedangkan ukuran berat 100 gram dalam kemasan mika. Kemasan terbesar untuk abon 200 gram dikemas dalam kaleng.

Harga masing-masing kemasan dibanderol Rp 20 ribu, Rp 35 ribu, dan Rp 76 ribu. Dengan pasokan daging kepiting yang melimpah di Kalimantan Timur, Ansori mengaku dapat memproduksi antara 60 – 80 kilogram daging kepiting per hari untuk dibuat menjadi abon kepiting lezat bermerek Bontings ini. Abon ini teksturnya kering sehingga bisa bertahan berbulan-bulan jika disimpan dalam wadah kedap udara.

ABON JAMUR ANEKA RASA

Jamur juga tak kalah nikmat diolah jadi abon. Hal inilah yang dilakukan Ahmad, pemilik Abon Jamur Ailani di Malang, Jawa Timur. Terobosan yang dilakukannya adalah membuat abon jamur aneka rasa. Namanya Abon Rasa. Pilihannya ada empat macam yakni abon jamur rasa rasa barbekyu, balado, jagung bakar, dan keju. Rasanya nikmat dan laris manis.

Selain Abon Rasa, ia juga membuat dua jenis abon lagi yang tak kalah laku, yakni abon jamur tiram original dan abon jamur vegetarian. Abon jamur tiram dibumbui dengan bumbu rempah bawang merah, bawang putih, dan ketumbar. Sedangkan abon jamur vegetarian hampir sama dengan jamur tiram original, namun tanpa bawang merah dan bawang putih. “Jadi ini khusus vegetarian yang tidak mengonsumsi bawang. Rasanya tetap enak meskipun tanpa bawang dan tanpa penyedap,” imbuhnya.

Semua jenis abon jamur ini dibungkus dalam kemasan aluminium foil berbobot 80 gram, dan ditawarkan dengan harga rata-rata Rp 17 ribu saja. Apalagi abon ini punya masa konsumsi hingga lebih dari 6 bulan sehingga mudah dipasarkan ke seluruh Indonesia karena termasuk lauk kering. Saking larisnya, Ahmad memiliki agen penjualan yang tersebar di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Sedikitnya Ahmad memproduksi hingga 72 kilogram jamur per hari.

Usaha ini diawali dari tanaman jamur tiram yang dibudidayakan Ahmad. Karena setiap habis dipanen jamur mudah layu, bahkan tak sampai tiga hari, ia lantas mencari akal.

Ia berinisiatif membuat produk jamur yang lebih tahan lama dan mudah dijual. Abon menjadi pilihannya karena sang Ibu pernah mengajarinya membuat abon sapi. “Prinsip membuat abon sapi itu saya terapkan pada jamur,” sambung pria yang memulai usaha di tahun 2009 ini.

OLAH IKAN ASIN JADI ABON

Abon yang dibuat Nurul Husnia Zaman (39) ini berbeda dari abonabon yang telah ada di pasaran. Bahannya bukan ayam, sapi, atau ikan segar, melainkan berbahan dasar ikan asin. Dengan jeli, ia melihat bahan baku ikan asin jenis jambrong yang melimpah di pasar sekitar tempat tinggalnya, yakni kawasan Beji, Depok. Lalu Nia, sapaan akrab perempuan ini, mendapat ide untuk menjualnya dalam bentuk abon.

Tak seperti abon pada umumnya yang bertekstur halus, abon jambrong buatan Nia justru berbutir (chunky) dengan sedikit serat halus dari ikan asinnya. Irisan bawang putih dan cabai merah turut melimpah di dalamnya. Nia juga membumbui ikan yang dijadikan abon dengan bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, dan gula pasir yang dihaluskan. Karena ikan jambrong sudah diasinkan, Nia tak menambahkan garam lagi ketika abon diproses. Rasanya nikmat sekali, apalagi jika disantap dengan nasi putih hangat.

Ikan asin jambrong dicuci sebanyak empat kali sebelum diolah. Lalu dikeringkan dalam oven suhu rendah jika matahari sedang tak mendukung. Ikan yang sudah kering lalu dicincang kasar dan dimasak cukup lama hingga kering dan teksturnya berserat.

Ada dua rasa abon ikan asin jambrong yang dijual Nia. Yakni original (tidak pedas) dan pedas. Agar praktis dalam penyajiannya, Nia mengemas abon dalam wadah mangkuk plastik lengkap dengan tutup kedap udara yang bisa dimasukkan dalam microwave (microwaveable). Pilihan beratnya tersedia ukuran 50 gram dan 150 gram seharga Rp10 ribu dan Rp 25 ribu.

Abon jambrongnya meroket karena pemasaran Nia yang juga kreatif. Di dalam bazar ia menyediakan hidangan yang cocok disantap bersama abon jambrong. Di antaranya nasi kepel atau onigiri dan spaghetti. “Abon ini seperti pengganti anchovy jika disajikan dalam spaghetti,” tuturnya.

Tak heran kini pelanggannya tak hanya berasal dari kalangan ibu-ibu saja melainkan hingga rumah makan serta dua puluh delapan reseller yang tersebar di Jabodetabek dan kota besar di Indonesia.

Nah, Anda jadi terinspirasi merintis usaha abon, kan? Ayo, mulai dari sekarang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.