Nasi goreng bukan usaha gerobakan semata. Ibu rumahtangga juga bisa menjual nasi goreng dengan variasi tanpa batas. Berjualannya bisa di dalam gerai, bisa juga berdasar pesanan. Yang penting tentu keistimewaan nasi goreng yang ditawarkan. Kreasi nasi gore

Saji - - Inspirasi Usaha -

menyajikan nasi goreng sesuai permintaan pembeli. Bahkan ketika pembeli menginginkan tiga warna sekaligus. Untuk isinya, seperti nasi goreng pada umumnya, ada irisan bakso, sosis, telur, dan kerupuk sebagai pelengkapnya. Yang unik adalah taburannya. Bukan bawang merah goreng, tetapi teri medan goreng.

Melalui kreasinya ini, kedai nasi gorengnya terlihat paling ramai dikerumuni pembeli, dibanding café dan casual dining yang terdapat di Jalan Panglima Polim Jakarta Selatan. Ditemani sang istri, Mujianto membuka lapak dari pukul setengah tujuh sore hingga pukul satu dini hari. Walau di pinggir jalan, tak membuat para pembeli dari berbagai kalangan enggan untuk datang bersantap malam.

Awalnya Mujianto menjajal berdagang nasi goreng keliling di kawasan Jakarta Selatan. Saat itu yang ia tawarkan hanya nasi goreng biasa tanpa tambahan warna. Merasa dagangannya terlalu umum dan kurang dilirik peminat, ia langsung banting setir. Ia yakin, berani berkreasi adalah solusi masalah yang dihadapinya saat itu. Dengan tampil beda, dagangannya meroket populer di berbagai kalangan. “Banyak orang dari luar kota yang sering datang kemari. Kadang saya juga dapat pesanan untuk berbagai acara,” akunya.

Seporsi nasi goreng dengan warna merah atau hitam dipatok Rp 15 ribu. Nasi goreng warna hijau ia beri harga Rp 13 ribu. Sedangkan nasi goreng dengan ketiga warna, harus ditebus pembeli Rp 17 ribu. Keputusan yang berani beride unik ini, membuat usahanya yang berdiri 2012, maju pesat hingga kini.

BIKIN PORSI JUMBO DAN BIDIK PENGGILA PEDAS

Di Surabaya nasi goreng Jancuk ini larisnya bukan main. Ukurannya jumbo, bisa disantap dua orang sekaligus, dan rasanya juga spesial, karena pedas banget. Kedua keistimewaan ini membawa usaha milik Yusak Anshori dan mitra bisnisnya Nanik Erliana, menuai sukses luar biasa. Tak tanggungtanggung, gerai nasi gorengnya tersebar di 3 gerai di pusat-pusat perbelanjaan di Surabaya. Salah satunya di Tunjungan Plaza I lantai 5.

Meski menjual versi jumbo yang berat nasinya mencapai 500 gram, tetap disediakan juga nasi goreng porsi normal yang ukurannya 250 gram untuk disantap sendiri.

Ke dalam bumbu nasi goreng, ditambahkan banyak cabai rawit di dalamnya. Jadi selain porsinya besar, rasanya juga pedas luar biasa. Saking pedasnya tak jarang pelanggan mengumpat dalam bahasa khas Suroboyoan, “Jancuk, pedese ,” alias “gila pedasnya”. Umpatan inilah yang kemudian menjadi merek dagang nasi goreng ini.

Nasi goreng Jancuk tergolong jenis nasi goreng Jawa, menggunakan dua jenis bumbu, yaitu bumbu basah, dan bumbu kering. Bumbu basah terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah

besar, dan cabai rawit merah. Untuk satu porsi nasi goreng takaran 250 gram paling sedikit menggunakan 10 cabai rawit. Sedangkan untuk porsi jumbo, cabai rawitnya dua kali lipatnya.

Sedangkan bumbu keringnya terdiri dari garam, dan beberapa jenis kecap. Paduan kedua bahan ini memberikan rasa dan aroma istimewa.

Terobosan lainnya terletak pada penyajian nasi goreng ini. Nasi goreng buatan Yusak ini disajikan di dalam wajan yang terbuat dari stainless steel untuk sajian porsi perorangan. Sedangkan untuk porsi jumbo, nasi goreng disajikan di piring berukuran besar. Nasi goreng juga dilengkapi toping irisan telor dadar, potongan daging ayam, irisan acar, mentimun, dan daun selada.

Buat yang tidak suka pedas, dan ingin menikmati nasi goreng Jancuk, jangan khawatir, sebab tersedia juga nasi goreng yang tidak pedas, bernama Nasi Goreng Bukan Jancuk. Unik, ya? Seporsi nasi goreng jancuk ukuran single dihargai Rp. 21.500, sedangkan porsi jumbo harganya Rp 35 ribu. Harga ini sudah termasuk dua botol

air mineral berukuran sedang.

PAKAI TEH DAN TELUR ASIN

Di Bandung, ada nasi goreng yang laris-manis karena sajiannya benar-benar kreatif. Penciptanya, Ario Ariestanata (29), sangat berani berkreasi. Ia memadu bumbu nasi gorengnya dengan bumbu matcha atau greentea. Nasi gorengnya menjadi hijau dan aromanya khas sekali.

Selain nasi goreng matcha, ia juga membuat kreasi nasi goreng kuning, tetapi bukan dari kunyit, melainkan dari pasta telur asin. Pasta ini dibuat dari campuran putih dan kuning telur asin yang dimasak di dalam kaldu.

Kedua nasi goreng ini tetap menggunakan bumbu dasar serupa, yakni bumbu bawang putih. Namun sentuhan akhirnyalah yang membuat bumbunya berbeda. Saat disajikan, dilengkapi telur mata sapi dan potongan ayam panggang tanpa tulang yang sangat lezat. Harga per porsinya Rp 35 ribu.

Sejak di lucurkan tahun 2014 lalu ke pasaran, nasi goreng ini memikat banyak orang yang pelanggannya datang tak hanya dari Bandung, melainkan juga turis yang berasal dari Jakarta dan Surabaya. Nasi goreng ini dijajakan mulai pukul 12 siang setiap hari hingga pukul 9 malam. Puluhan porsi terjual setiap hari sampai-sampai pembeli yang datang kemalaman biasanya sudah kehabisan.

Ide kreatif Ario datang dari sang istri, Marlissa yang hobi sekali makan. Mereka mencari jalan agar usahanya bisa meroket melalui menu berbeda. “Karena di Bandung kompetisi kuliner cepat dan banyak sekali pesaingnya. Jika tak punya terobosan tak mungkin bertahan,” tuturnya.

Ide sang istri untuk menjual nasi goreng teh hijau dan telur asin lalu diwujudkan Ario melalui uji coba beberapa hari. Lelaki lulusan Enhaii Bandung ini lantas terpikir membuat bumbu dasar berupa pasta telur asin dengan cara memasak telur asin dengan bumbu rahasia di dalam kaldu. Terbukti ide mereka yang berbeda ini membuat rumah makannya laris-manis karena selain unik, rasanya juga enak.

Nah, ayo mulai jualan nasi goreng. Jika mereka bisa, Anda pun pasti bisa.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.