GURIHNYA LABA SATE KEPITING

Di Surabaya, nama Yudi Suramadu (40) dikenal sebagai penjual sate yang istimewa. Yang dijualnya bukan sate ayam atau kambing. Melainkan sate kepiting. Larisnya bukan main. Ratusan tusuk sate terjual setiap hari. Ia memiliki pelanggan dari antero kota, hin

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO ANANDA • VISUAL BAYU P.

Kepiting Soka tak seperti kepiting umumnya. Ukurannya kecil dan cangkangnya lembut. Yudi menjualnya dengan cara digoreng setelah dicelup ke dalam adonan tepung, sehingga terbalut kulit krispi layaknya ayam goreng tepung. Sedikitnya 500 tusuk sate kepiting soka terjual setiap hari.

Tentu ada alasannya jika makanan ini amat laku diburu pembeli yang tinggal di sekitaran kota Surabaya. Salah satu keistimewaannya terletak pada rasanya yang gurih, sekaligus renyah. “Sesuai dengan citarasa favorit masyarakat kita yang doyan gorengan dan rasa gurih,”ujar Yudi.

Keistimewaan lainnya, kepiting dikenal makanan mahal yang harus disantap di tempat khusus misalnya kedai atau restoran seafood. Nah, sebaliknya justru dilakukan Yudi. Ia menjajakannya secara sederhana saja, yakni di atas kendaraan bermotor roda dua. Di bawa pulang atau disantap langsung bisa dilakukan pembeli. Selain itu harganya amat terjangkau.

DIBUAT SATE

Sejak 8 tahun lalu, Yudi berjualan kepiting yang amat berbeda dari kepiting yang sudah umum dijual banyak orang dimana-mana. Kepitingnya digoreng dengan bumbu-bumbu yang diadoni di dalam tepung tapioka, tepung beras, dan telur. Bumbunya antara lain bawang putih, kunyit, kemiri, ketumbar, dan air kapur sirih. Setelah itu kepiting ditusuki pada bambu seperti sate, berisi 3-4 ekor per tusuknya. Masing-masing kepiting beratnya 20 sampai 30 gram saja. Sebuah cocolan saos sambal merah jadi pelengkap sate ini. Harga per tusuknya sangat terjangkau, Rp 2500 saja. Jika ingin kepiting berukuran agak besar, Yudi menjualnya satuan. Harga kepiting soka besar antara Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu dengan berat kepiting 50-80 gram. Semua bagian kepiting bisa dimakan, termasuk cangkang dan capitnya. Rasanya gurih dan laris sekali. Biasanya pembeli membawanya sebagai oleh-oleh, disantap sebagai lauk di rumah, atau dimakan langsung layaknya camilan.

Sate kepiting ini yang begitu sohor di kota Surabaya. Padahal Yudi menjualnya dengan cara sederhana. Yakni di atas sebuah sepeda motor. Meski hanya berjualan di atas motor, usaha Yudi tak main-main labanya. Setiap hari, ia memproduksi sedikitnya 500 tusuk sate kepiting, dan jumlahnya meningkat dua kali lipat saat hari libur tiba. Untuk membawa sate kepiting sebanyak itu, Yudi menyertai dagangannya dengan sebuah keranjang besar untuk membawa kepiting matang. Agar mendapat perhatian dan respon orang yang melintas di jalan ini, ia mendesain khusus motornya dengan sebuah etalase kaca mini lengkap dengan stiker bertuliskan “Sate Kepiting Suramadu” di salah satu sisinya. Di etalase mini inilah sate kepiting ditata dan jajakan mulai pukul 6 pagi hingga ludes sekitar pukul 4 sore setiap hari.

AWALNYA TUKANG KAYU

Yudi tak akan sesukses sekarang jika delapan tahun lalu tak mengalami kesulitan ekonomi. Usahanya sebagai tukang kayu tak mengalami perkembangan. Ia lantas mencari cara agar bisa mendapat penghasilan. Berkat jeli melihat sekeliling tempat tinggalnya, kesempatan pun muncul. Tak jauh dari lokasi tempat tinggalnya, di desa Karang Anyar, Sidoarjo ada sebuah tambak kepiting soka. Terbesitlah ide untuk bisa menjualnya. Yudi lalu mencari info mengenai kepiting soka, termasuk soal harganya. Rupanya, kenang Yudi, kepiting soka yang dijual dengan harga lumayan mahal di restoran, hotel, dan diekspor memiliki ukuran standar sekitar

menyisihkan kepiting yang tidak lolos karena ukurannya terlalu kecil. Yudi melihat peluang untuk mengambil kepiting soka sisa sortiran yang ukurannya hanya 20 sampai 30 gram saja. Harganya juga murah dan kala itu dirasa bisa menjualnya kembali pada konsumen. Lalu bersama istrinya, Yudi bahu-membahu menguji-coba resep kepiting yang dinilainya unik. Teringat ia pernah melihat sajian kepiting di Medan yang rasanya garing dan renyah. Lalu ia pun mencoba membuat kepiting soka yang digoreng bersama bumbu-bumbu agar rasanya nikmat.

Meski tak punya modal besar dan tak memiliki tempat jualan sama sekali tidak menyurutkan niat Yudi merintis usaha makanan kepiting ini. Pantang putus-asa, Yudi lalu memanfaatkan aset yang dimiliki saat itu, yakni sepeda motor. “Satu-satunya jalan berjualan di atas motor,” kenangnya.

Karena itulah oleh sang istri, kepitingnya ditusuki pada tusukan bambu agar jadi sate kepiting. Tujuannya agar praktis dipegang konsumen karena jika menjualnya di atas motor, tentu tak mungkin belepotan makan kepiting sambil berdiri,” tuturnya.

Sejak berjualan sate kepiting 8 tahun lalu, Yudi hanya berpindah

lokasi jualan satu kali. Kali pertama jualan ia mangkal di kawasan taman Prestasi, kota Surabaya. Tak lama setelah itu ia memilih pindah ke lokasi tak jauh dari stasiun Gubeng karena lebih strategis, persisnya di jalan Tapak Siring. Di sinilah pembeli sudah menanti kehadiran Yudi setiap hari sejak pukul 6 pagi hingga sate ludes sekitar pukul 4 sore.

BERKEMBANG MELALUI PESANAN

Sambil berjualan di atas motor, Yudi juga gencar melakukan pemasaran pada konsumen yang datang. Setiap orang ditawarinya produk sate kepiting yang juga bisa dipesan khusus untuk berbagai keperluan, termasuk menyuplai rumah makan atau restoran. Dengan cara ini, nama Yudi mulai dikenal dan kebanjiran pesanan. Sebagian di antaranya pesanan untuk acara khusus hingga dari kota lain, mulai dari Malang, Jakarta, hingga Bali. Sedikitnya 500 tusuk setiap minggu ia produksi untuk memenuhi pesanan-pesanan tadi.

Di Surabaya namanya jadi dikenal banyak orang karena menjajakan kepiting mungil yang nikmat ini. Meski sukses meraup omset yang tak kecil setiap hari, Yudi tak mengganti konsep jualannya sama sekali. Ia ingin produknya tetap merakyat dan setiap orang tak ragu datang kepadanya untuk membeli puluhan tusuk sate sekaligus. Cara ini efektif, karena Yudi berhasil membuktikan tanpa meja dan kursi makan, usaha yang dirintisnya bisa bertahan hingga kini. Bahkan di Surabaya mulai bermunculan penjual sate kepiting serupa hingga jadi makanan favorit sehari-hari masyarakat setempat. Anda juga bisa seperti Yudi, mengubah kekurangan dalam usaha menjadi kekuatan yang tak terbatas. “Sukses tak mustahil diraih asalkan kita pantang putus asa,” demikian moto Yudi.

150 gram per ekor. Biasanya pemilik tambak menyortir kepiting dan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.