ARTIKEL

Berani menjual kudapan yang sangat biasa, justru sangat luar biasa. Persaingan bukan pada sesama penjual, tetapi justru pada para ibu yang sudah biasa membuatnya sendiri. Pendiri usaha Frozbanana ini tak takut sama sekali. Dengan berbagai cara usaha ini m

Saji - - Halaman Depan - TEKS & FOTO NABILA K. DHIMA • VISUAL BAYU P.

FROZBANANA, JAKARTA

Pisang dibekukan, dilumuri cokelat, dan ditabur toping, hanyalah kudapan sederhana yang biasa dibuat oleh para ibu untuk anaknya yang sulit makan buah. Mungkin karena biasanya, tak banyak yang terpikir untuk menjualnya.

Adalah Fransiscus Ricky (23) dan Bunga Deviani (22) yang berani menjajakan frozen banana ini. Tentu ada sejumlah upaya gigih yang dilakukan Ricky dan Bunga agar laba penjualannya mencapai target. Salah satunya adalah lihai dalam melihat pangsa. Berikutnya adalah sistem pemasaran yang matang.

Walau kudapan sederhana, Ricky tak main-main dalam menangani produk agar disukai pasar. Dari rasa hingga tampilan, sekaligus kemasan tak luput dari perhatiannya. Frozen banana ditusuk stik es krim layaknya es krim lantas dikemas secara kreatif, di dalam boks kertas bagi pembeli yang ingin dimakan di tempat.

SEDIAKAN 10 TOPING

Menangani produk yang kita jual tentu harus dimulai dari pemilihan bahan dasar. Dalam hal ini pisang. Bunga mencoba berbagai jenis pisang yang akan dipakainya sebelum akhirnya menentukan pisang cavendish untuk frozen banana yang dibuatnya. Alasannya tak mudah benyek, aromanya harum, dan rasanya enak.

Untuk cokelatnya, Ricky menggunakan dark cooking chocolate. “Jadi rasanya tak terlalu manis.”

Walau pilihan pisang sudah tepat, frozen banana tak bisa jadi lezat kalau salah dalam teknik pembuatan. Teknik ini penting agar cokelat bisa menempel sempurna dan tebal. “Saya menemukan cara, pisangnya harus dibekukan dahulu sebelum dicelupkan ke dalam cokelat. Melainkan dibekukan lebih dulu sehari semalam,” ungkapnya.

Karena sudah didinginkan, cokelat cair bisa langsung menempel ketika dicelupkan. Nah, beres pada tekniknya, belum cukup menyelesaikan masalah. Kudapan sederhana ini harus tampil menarik. Karena itu Ricky menghadirkan sepuluh varian toping untuk ditaburkan pada permukaan cokelat. Sebagian besar varian topingnya bertekstur renyah. Karena menggunakan remahan sereal dan biskuit. Secara keseluruhan, frozen banana-nya antara lain diberi toping gummy matcha, crispy milo, cornflakes, cotton candy, bubble gum, oreo, nutella, fruity pabbles, almon. dan rainbow ceres. Pilihan banyak toping yang kreatif ini menghasilkan kudapan yang mewah dan diinginkan semua orang.

Ricky juga memiliki rencana ke depan untuk menghadirkan varian cokelat putih untuk melumuri pisang bekunya. “Kami akan segera meluncurkan toping baru,” janji Ricky.

MENENTUKAN PASAR YANG DIBIDIK

Meski sudah lama biasa membuat pisang yang dibekukan, Bunga yang gemar berkreasi membuat kue dan camilan, tidak pernah terpikirkan untuk menjualnya. Setelah bertemu Ricky, patner bisnisnya yang notabene sarjana bisnis, barulah usaha frozen banana ini dikembangkan. Tugas pengembangan dibebankan pada Bunga. Sedangkan Ricky fokus memasarkan dagangan mereka. “Menurut saya usaha ini memiliki potensi untuk dikembangkan,” ujar Ricky.

Sadar produknya pas untuk anak muda , Ricky dan Bunga pun membidik instagram, media sosial yang sedang digandrungi anak muda sebagai media promosi. Melalui akun yang dibuat khusus untuk dagangannya, mereka mulai membuat sendiri lalu mengunggah foto-foto cantik produknya. Tak cukup sampai di situ, Bunga yang juga senang menulis blog pun mulai menggandeng kawan-kawan sesama blogger untuk mempromosikan frozen banananya.

Cara tersebut rupanya jitu. Buktinya dari para blogger yang memiliki banyak followers di instagram, Ricky dan Bunga mulai mendapat banyak pesanan.

PANTANG PUTUS ASA

Sebelum dagangannya setenar sekarang, Ricky dan Bunga tentu harus melaluinya dari nol dan tak jarang harus menjumpai batu kerikil yang menghambat jalan usahanya. Di awal mereka mendapat banyak pesanan, Bunga malah jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Mau tak mau, walau kewalahan Ricky sendiri yang menangani dan mengantarkan semua pesanannya.

Ricky yang saat itu masih bekerja di sebuah perusahaan asuransi, terkadang harus absen untuk membuat pesanan para pembeli. “Pernah juga saya naik kereta ke Depok hanya untuk mengantarkan pesanan berjumlah lima buah. Saat sampai, pesanannya hancur” kenang Ricky.

Diakui Ricky pada awal berjualan dari setiap pisang yang dulu mereka banderol dengan harga Rp 10 ribu, mereka tak mendapat untung banyak bahkan lebih sering merugi. Namun hal tersebut tak membuatnya pantang menyerah. Ia justru makin gencar mempromosikan produknya dan membuat ide-ide baru.

Pengalaman-pengalaman justru mengajarkan Ricky dan Bunga agar gencar membuat inovasi baru dan terus memperbaiki kualitas produknya. Jika ada yang memesan frozen banananya, tak lagi ditempatkan dalam boks biasa. Mereka mengganti kemasan dengan plastik kedap udara yang dapat mempertahankan suhu dingin lebih lama.

PENGEMBANGAN PRODUK

Dalam perjalanannya, Ricky kemudian menghadirkan pisang berlumur cokelat dalam ukuran enam kali lebih kecil sehingga habis dalam satu gigitan. Varian banana bites tersebut dikemas dalam boks dengan desain menarik. Oktober lalu Ricky malah menghadirkan banana bites dalam edisi Halloween. Pisang beku yang dipotong ukuran kecil ia lapisi dengan dark chocolate dan berhiaskan cokelat berwarna oranye, lengkap dengan motif labu khas Halloween di atasnya.

Tekad Ricky dan Bunga begitu kuat membuat mereka bersemangat memperkenalkan brand frozen banananya pada khalayak. Kerap kali Ricky mengikuti bazaar di berbagai acara dan mejajakan produknya melalui booth yang di sewanya.

Dari bazaar itulah produknya makin dikenal, dan menjadi booth yang selalu ditunggu dalam beberapa acara. Promo juga ia adakan, mulai beli 1 gratis 1 hingga meminta pendapat serta masukkan pada beberapa orang yang terkenal di sosial media.

Ricky juga memanfaatkan berbagai media guna menunjang peningkatan pemasaran. Produk frozen banananya sudah tersedia di layanan aplikasi pesan antar makanan Go-food yang disediakan perusahaan jasa layan antar GOJEK hingga bergabung dalam website penyedia kupon Groupon. “Froz Banana mereknya juga sudah saya daftarkan di Kementerian Hukum dan HAM,” tambah Ricky.

RIBUAN BUAH PISANG SEHARI

Nampaknya segala upaya dan promosi yang mereka lakukan membuahkan hasil yang begitu manis. Sejumlah orang tertarik untuk membeli franchise produk mereka. Melalu sistem ini, dalam waktu satu tahun Froz Banana telah memiliki delapan gerai yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Semarang, Makassar, Bali dan Surabaya. Sedikitnya seribu pisang beku bertoping terjual setiap harinya. “Salah satu selebriti dan komedian Indonesia Wendy Cagur mem-franchise produk kami,” ujar Ricky bangga.

Dari gerai franchise tersebut Ricky berhasil menjajakan ratusan hingga ribuan buah frozen banana per harinya. Tak hanya meraup keuntungan, usaha frozen banananya juga menyerap tenaga kerja baru. Usahanya yang berkembang pesat tersebut membuat Ricky memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor. “Saya ingin terus mengembangkan produk,” ungkap Ricky.

Usaha yang ia bangun dari penjualan online, bazaar, hingga franchise membuktikan bahwa berawal dari ide yang sederhana, dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa jika kita tak pantang menyerah dalam menjalankannya. “Jika ada ide, langsung tuangkan. Jangan pernah menyerah dan jangan takut merugi,” begitu tips dari Ricky.

Jalan Dr Nurdin Gang 1, No 29 RT 5 RW 7 Grogol, Jakarta Barat Telp. 081806844222 Instagram : @Frozbanana

Line : @frozbanana

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.