Keripik Sehat Sri Lestari, Sleman

Camilan atau snack tak pernah tak laku dijual. Itulah yang disadari Sri Lestari Murdaningsih (46) saat meroketkan produk camilan berbentuk keripik. Namun ia juga menyadari, bila ingin berjualan keripik tentu haruslah keripik yang berbeda. Betul saja kerip

Saji - - Sapa & Surat Anda - TEKS & FOTO RIZKI N. • VISUAL BAYU P.

Baru membuka usaha keripik, pasti Anda akan dihdapkan pada persaingan ketat. Tak terhitung pengusaha keripik yang ada. Sri paham sekali hal itu. Tetapi ia tidak mau beralih ke produk lain ketika ingin membuka usaha karena tahu keripik masih punya banyak peluang.

Ia kemudian memutuskan menjual keripik dari sayuran dan bumbu dedaunan yang pasarnya belum luas. Maka terciptalah keripik daun singkong atau daun ketela, daun kenikir, kangkung, daun melinjo, daun sirsak, seledri, dan daun sirih. Kreativitas yang luar biasa, bukan?

Selain dedaunan, Sri juga mencoba mengripikkan terong, pare, dan jamur. Baik keripik dedaunan di atas, maupun keripik terong, pare, dan jamurnya langsung diterima pasar. Sedikitnya dalam satu hari ia memproduksi 50-60 kilogram keripik sayur-sayuran yang semuanya sudah dipesan pembeli. Sri memang lebih melayani pesanan sehingga jika datang langsung ke sini, belum tentu Anda berhasil mendapatkan sebungkus keripik sayur.

Melalui kreasinya, Sri bahkan berhasil membawa desanya mendapat julukan Sentra Pengrajin Keripik Sayur di Sumberwatu, Sleman Yogyakarta. Karena lewat tangannya, bermunculan usaha sejenis yang kini jadi mata pencaharian masyarakat setempat.

MANFAATKAN HASIL KEBUN

Sri mengawali usahanya dengan menjajakan keripik daun ketela atau lebih dikenal dengan sebutan daun singkong. Awalnya di tahun 1990-an, ibu mertuanyalah yang membuat keripik daun ini. “Saat itu tahapnya hanya coba-coba,” kenang Sri.

Untuk tahu selera konsumen, Sri nekat menjajakannya kepada beberapa orang. “Ludes dan banyak peminat,” kenang Sri.

Melihat banyak yang “naksir” pada jenis keripik yang bahannya dari daun ini, Sri lalu memutuskan untuk lebih serius menekuni usaha ini. Kebetulan saat itu ada sebuah lomba kreasi kuliner yang menuntut pesertanya untuk memiliki inovasi. Sri amat berminat mengikuti kompetisi tersebut.

Sri lantas memutar otak untuk membuat keripiknya memiliki varian yang berbeda dan unik. Kebetulan di sekitar rumahnya banyak ditanami sayur-mayur. Ia lantas mulai mencoba keripik bayam, kenikir, kemangi, seledri, hingga daun sirih. Di dalam lomba, keripiknya banyak dilirik orang dan disukai. Ia lalu terpikir menjualnya ke mana-mana. Agar bisa lebih berkembang, Sri mulai mengembangkan keripik dari bahan lainnya. “Yang penting bahan dasarnya dari hasil kebun agar mudah dicari,” imbuhnya.

Dari sayur, berkat mengikuti berbagi pelatihan usaha untuk mendapatkan ide segar, Sri bisa mengembangkan varian keripiknya, keluar dari sayur. Tak kurang dari terong, pare, gambas, hingga jamur ia olah jadi keripik.

Seluruh keripik buatannya bisa diterima pasar. Kebanyakan pembelinya datang dari para pemilik toko oleh-oleh hingga produsen camilan yang mengemas ulang produknya.

PROSES PRODUKSI

Keripik sayuran buatan Sri memiliki tekstur renyah. Rasanya enak, gurih, dijamin bikin ketagihan. Apalagi keripiknya tak berminyak sehingga membuat kita betah menyantapnya terusmenerus.

Kendati penganan ini tampak sederhana, namun untuk menghasilkan keripik yang enak, tidak mudah. Pengenalan karakter bahan sangat penting sebab setiap sayur punya karakter sendiri. Sri harus menguji-coba beberapa kali hingga betul-betul bisa menghasilkan keripik yang kering dan renyah.

Daun ketela atau daun sirih, misalnya, bukan jenis sayuran yang bisa langsung goreng, tetapi harus melalui proses perebusan. Lain lagi dengan pare. Kecuali banyak kandungan airnya, juga rasanya pahit. Dengan memahami karakter bahan-bahan tadi, Sri bisa menemukan jalan keluar.

Ia menggunakan alat tekan khusus yang bisa mengeluarkan kandungan air pada pare, bahkan juga pada daun singkong yang sudah direbus. “Cara ini juga membuat pare tidak terasa pahit karena airnya sudah keluar,” kata Sri.

Alat tersebut dirancang sendiri oleh sang suami “Dulu untuk menghilangkan kandungan air dalam daun ketela rebus harus diperas. Hingga dibutuhkan waktu 2 jam. Sekarang cuma 15 menit,” jelasnya.

Proses menggoreng pun tak kalah sulit. Ada yang hanya hitungan detik bisa renyah seperti keripik terung. Ada juga yang waktu penggorengannya lebih lama. Di situlah rahasia sekaligus trik pembuatan keripik dedaunan ini.

Mencari bahan baku pun tak perlu tantangan sendiri karena kini butuh semakin banyak. Untuk mendapatkan bahan-bahannya, Sri Lestari mengaku bahwa ia mendapatkannya dari pedagang sekitar. “Apabila musim hujan, banyak yang jual. Tapi kalau musim kemarau, ya harus beli ke pasar yang di bawah (Prambanan),” jelasnya. Selain itu, apabila musim kemarau datang, ia juga harus berebut daun ketela dengan pedagang nasi Padang.

MAKIN LARIS

Di awal usahanya dulu Sri hanya dapat memproduksi lima kilogram keripik per hari, kini dalam sehari, Sri Lestari dapat menghasilkan sekitar 25-30 kg keripik. Sementara jika musim liburan tiba, usahanya melonjak dengan mengolah bahan baku hingga sedikitnya 50 kilogram keripik. “Sebenarnya kalau dituruti, pesanan yang masuk bisa mencapai 200 kilogram, namun saya kesulitan tenaga. Sekarang pun saya sudah menerapkan sistem setok dengan membuat 60 kilogram keripik setiap hari walaupun tak ada pesanan.”

Keripik daun ketela dan keripik bayam dijual dengan harga Rp 30 ribu per kilogram. Sementara, keripik kemangi, seledri, sirih, kenikir, terong, pare dan gambas dipatok harga Rp 40 ribu. Keripik jamur tiram harganya paling tinggi yakni Rp 60 ribu per kilogram.

Seluruh keripik khususnya

yang berbasis dedaunan bisa bertahan hingga 1.5 bulan kalau kemasan belum dibuka “Tapi tidak boleh kena sinar matahari,” jelas Sri Lestari.

Apabila terkena paparan sinar matahari, sambung Sri, keripik hanya dapat bertahan sekitar 1 minggu sebelum rasa dan warna berubah.

JADI SENTRA KERIPIK SAYUR

Meningkatnya pesanan, membuat warga desa di sekitarnya turut-serta diberdayakan. Lama-lama terbentuk sebuah perkumpulan ibu-ibu yang bahu-membahu memproduksi pesanan yang datang terus-menerus. Maklum pesanan tak hanya datang dari Yogyakarta dan sekitarnya. Pembeli juga datang dari kota lain.

Di desa ini pembuatan keripik sayur lama-lama menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Desa Sumberwatu, di kawasan Sambirejo ini semakin lama semakin banyak yang menerima pesanan keripik sayur bahkan jika masa liburan tiba, pesanan tak lagi tertangani. Setidaknya di desa ini terdapat delapan pelaku usaha sejenis dalam satu padukuhan.

Bagi pembeli yang ingin membeli langsung, Sri Lestari menyarankan untuk memesan sebelumnya melalui telepon. Ketersediaan setok di rumahnya cukup terbatas karena produksinya hampir seluruhnya merupakan pesanan. Usaha yang beromzet belasan juta rupiah setiap bulan ini, kini dapat menjadi mata pencaharian warga di kawasan ini dan membawa masyarakat di desa ini memiliki kehidupan yang baik.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.