RAUP PULUHAN JUTA RUPIAH DARI MANISAN

Halua atau manisan selalu ada saat orang Melayu menyelenggarakan pesta perkawinan atau di sajian hari besar. Hampir semua buah atau sayur bisa disulap jadi manisan yang enak rasanya. Misalnya, wortel, cabai, pare, dan daun pepaya. Kebiasaan ini dimanfaatk

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO TARWIYAH AR. • VISUAL BAYU P.

Ternyata membuat manisan khas Melayu Halua ini tak hanya disukai masyarakat sekitar, tetapi juga disukai para turis domestik yang menjadikan manisan ini sebagai oleh-oleh.

Manisan Pondok Halua Delima yang diproduksi Imam nama panggilan Karimah kini bisa meraih omset antara Rp 10 hingga Rp 50 juta per bulan. “Kalau hari raya atau Tahun Baru omset saya malah bisa lebih dari Rp 50 juta,” jelas Ima. usaha ini selepas SMA. “Modal pertama saya 25 ribu. Saya ingat, dari untung pertama, saya bisa membeli jam tangan,” ucapnya.

Keindahan manisan merupakan salah satu faktor penunjang kesuksesannya berjualan manisan. Setahun setelah membuka usaha, Ima berhasil menggaet hadiah pertama dalam perlombaan membuat manisan basah yang saat itu diselenggarakan PKK. Tak tanggungtanggung, ia mendapat hadiah jalan-jalan ke Penang.

Dalam lomba itu ia membuat replika pohon cabai dan pohon rinda yang bentuknya mirip anggur. Setelah itu usaha Ima berkembang pesat. Setiap ada acara, ia diajak serta Dekranasda. Ima pernah diajak ke Langkawi untuk mempromosikan makanan khas Sumatera Utara. Selanjutnya diundang ke Penang dalam acara promosi makanan khas Medan-Penang, belum lagi Jepang selama 6 minggu.

Semua prestasi itu, antara lain karena keindahan manisannya itu.

PROSES YANG PANJANG

Dengan dibantu 6 orang, Ima membuat manisan halwa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. “Pembuatannya tidak setiap hari karena manisan tahan lama,“katanya. begitu pahit pun berubah menjadi cemilan yang manis dan renyah. “Jika seperti ini bunga pepayanya tahan hingga 2 tahun,”ungkapnya.

Pembuatan manisan cabai lain lagi kerumitannya. Cabai lombok dari Jawa yang biasa digunakan untuk ekspor ke Singapura. Tapi Ima menolaknya.“Belum tentu lidah mereka cocok dengan manisan buatan kita. Saya pikir di Indonesia lebih cocok marketnya. Yang penting saya gigih,” tegasnya.

Untung yang diraih dari usaha tersebut mencapai 70 hingga 80 persen. Tapi, menurut Ima keuntungan sebesar itu sesuai dengan lamanya proses pembuatannya. Dari awal hingga manisan siap jual memakan waktu hingga 3 minggu.

Kini tiap bulannya ia memproduksi 100 kilogram manisan buah dan sayur. Jelang hari raya atau Lebaran, produksinya melonjak tajam hingga 500 kilogram manisan tiap bulannya.

Setiap manisan memiliki harga yang bervariasi. Bergantung dari mahalnya bahan baku dan tingkat kerumitan dalam proses pembuatan. Untuk manisan cabai, misalnya, per kilonya dijual Rp 350 ribu. Kolang kaling Rp 125 ribu. Manisan campur Rp 200 ribu. Sementara untuk kemasan kecil dengan ukuran 250 gram rata rata dijual antara Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu.

Untuk mengembangkan produknya, Ima sedang menggagas manisan kering dalam kemasan kecil hingga bisa dijual Rp 5 ribu-Rp 10 ribu. “Saya ingin manisan kering itu bisa jadi jajanan anak anak sehari-hari,” harapnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.