GIAT PERKENALKAN JAMUR

Saji - - Artikel -

Bukan tanpa alasan Rofi membuka restoran berbahan baku jamur tiram. Ia memang bertani jamur. Penjualan jamur segar saja tidak bisa menghabiskan hasil panen. Terutama karena masyarakat Kisaran belum terbiasa mengonsumsi jamur saat itu, ketika ia pertama kali membudi-daya jamur. Padahal ia sudah berjualan jamur secara door to door dengan mengendarai sepeda menawarkan jamur tiramnya sembari menerangkan betapa sehatnya mengonsumsi jamur.

Respons masyarakat tak sedahsyat semangatnya. “Tak jarang orang langsung menutup pintu begitu lihat saya datang.”

Sebelum memutuskan membuka rumah makan, Rofi sempat bingung memikirkan hasil budi-daya jamurnya yang sangat melimpah. Namun ia tidak putus-asa. Ia paham, ia harus banting stir dan memikirkan cara lain. Setelah memutar otak, “Akhirnya saya dan istri sepakat buka rumah makan. Menunya, ya, apa lagi kalau bukan makanan berbahan jamur. Istri saya pun mulai berkreasi membuat aneka menu serbajamur,” jelasnya.

Rofi menilai, membuka rumah makan bisa menjadi salah satu cara untuk terus mengedukasi masyarakat Kisaran untuk lebih mengenal dan mengonsumsi jamur. Tahun 2008, Rumah Jamur resmi dibuka. Ternyata mendatangkan pengunjung rumah makan tak sesulit menjual jamur segar. Rumah makannya segera mendapat pelanggan.

Rofi bersama istri semakin gigih berpromosi. Dari para tetangga hingga ke instansi pemerintah di wilayah tempatnya tinggal. “Ketika pelanggan datang, saya minta pendapat mereka,” katanya.

Tak sekadar rasa yang dimintai saran pelanggan, tetapi juga menu jamur yang diinginkan. Setiap masukan yang disampaikan pelanggan ditampung Rofi sebagai bahan evaluasi bagi rumah makannya. Tak heran Rumah Jamur-nya menjadi mudah dikenal.

Pelanggan yang hobi berselfi mulai ramai memposting diri mereka saat berada di Rumah Jamur ke media sosial. Cara ini efektif mendongkrak popularitas Rumah Jamur. Dalam tiga bulan saja, usahanya langsung melejit.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.