JAGA RASA OTENTIK

Saji - - Artikel -

Sejak dulu, kue bika dibakar menggunakan bahan bakar kayu atau limbah batok kelapa. Tujuannya, kata Ilham, bahan bakar kayu atau kelapa bisa membuat kue bika jadi lebih beraroma dan proses memasaknya tak perlu waktu lama.

“Tapi yang lebih penting, kami ingin menjaga citarasa dan cara pembuatan kue bika setradisional mungkin, agar rasanya tetap otentik seperti di masa lalu,” terang Ilham lagi.

Dengan cara memasak yang demikian, baik Nurmalis dan kedua putranya berharap untuk tetap bisa menghadirkan unsur nostalgia kepada para pembeli, yang hingga saat ini masih sangat menggemari kue bika.

Ilham mengisahkan, sang bunda lah yang memiliki ide berjualan kue bika di kota Medan sejak 20 tahun yang lalu. “Kami sekeluarga merantau dari Padang Pariaman ke Medan. Dulu orangtua kami tak punya pekerjaan, jadi Mama terpikir untuk berjualan kue bika saja. Apalagi bahan dan cara membuatnya cukup mudah.”

Agar semakin terasa kekhasan dari dearah asalnya, Nurmalis bersikukuh menghadirkan gaya tradisional dalam proses pembuatan kue bikanya. “Karena kami membakar kue bika di tempat, jadi banyak orang penasaran ingin lihat langsung cara membuatnya. Setelah itu beli dan mencoba rasanya. Ternyata mereka suka dan besoknya datang lagi,” tutur Ilham.

Kendati sudah puluhan tahun berjualan kue bika, Ilham merasa tak pernah menemui kendala berarti selama membantu ibunya berjualan. “Sejauh ini penggemar kue bika selalu ada, tak pernah sepi pembeli. Apalagi kami jual kue bika dengan harga sangat terjangkau. Dulu, kami jual Rp 1.000 per buah, sekarang Rp 2.000. Tergolong murah lah untuk warga Medan,” tukas Ilham.

Tak hanya warga Medan dan sekitarnya saja yang menggemari kue bika buatan Nurmalis. Bahkan tak jarang kue bika Nurmalis dibawa sebagai buah tangan. “Iya, banyak juga bawa kue bika sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke kota lain,” pungkas Ilham sambil mengatakan, dalam sehari ia mampu meraup laba bersih Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta per hari.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.