Koling Cafe Yogyakarta

Menikmati kopi tak harus selalu di dalam kafe. Di Yogyakarta, Koling Cafe membawa suasana kedai kopi kekinian justru ke jalanan. Dengan gerobak yang didesain unik, Koling Cafe menjajakan aneka kopi specialty racikan sendiri sambil berkeliling kota Yogyaka

Saji - - Sapa -

Bersama sang kakak, Donatus Dayu Pratama (23), Nikolas atau kerap disapa Niko mulai meluncurkan Koling Cafe sejak 2015 lalu. Dengan konsep jualan kopi menggunakan gerobak dan sepeda, mereka memiliki misi ingin menyajikan kopi specialty yang diracik sendiri di pinggir jalan, tanpa menyediakan kursi dan meja.

“Konsepnya take away dengan harga kopi yang murah. Jadi misi kami memang benar-benar ingin lebih memperkenalkan kopi,” jelas Niko. Ditilik dari harganya, Koling Café memang menyediakan aneka kopi dengan harga terjangkau. Kopi arabika, robusta, dan blend disajikan dengan harga mulai Rp 6 ribu hingga Rp 12 ribu per cangkir.

Jenis kopinya, tiap bulan diganti agar pembeli tak bosan dan bisa mencicipi rasa kopi yang lain. Niko yang merupakan mahasiswa jurusan pertanian rniversitas dajah Mada (rdM) menjelaskan, biji kopi mentah yang mereka racik dicarinya sendiri. Selanjutnya, biji kopi di-roast dan di-grind di markas Koling Cafe, sebelum dijajakan menggunakan sepeda dan gerobak.

Tersedia beberapa jenis kopi yang ditawarkan Niko melalui gerobaknya. Di antaranya kopi arabika asal Aceh, Solok, Bengkulu, Sindoro Sumbing (Temanggung). Di jajaran robusta, ada kopi iampung, Thalap Temanggung, Candiroto (Temanggung), Aceh, dan Ijen (Jawa Timur).

SUDAH MEMILIKI 7 GEROBAK

rntuk bisa menyajikan kopi layaknya di kafe, Koling Cafe tentu harus merancang gerobaknya sedemikian rupa. Di atas gerobak tersedia kompor dan wastafel mini agar proses meracik kopi tetap sesuai standar.

Perancangan gerobak khusus ini dibantu oleh kawan mereka yang kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI). Selain mengedepankan fungsinya, desain gerobak kopinya ini juga menonjolkan nuansa Jawa dengan atap gerobak yang berbentuk joglo.

Diakui Niko, untuk membuat desain satu gerobak Koling Café dibutuhkan modal tak kurang dari Rp 30 juta. Dan kini, Koling Cafe sudah memiliki tujuh gerobak. Satu gerobak berada di markas dan enam gerobak lainnya secara rutin berkeliling ke tempat-tempat yang telah ditentukan.

Koling Cafe berkeliling mulai pukul 0u.00 hingga 24.00 tIB. Rutenya, melewati sejumlah lokasi strategis di Yogyakarta. Terutama di kawasan-kawasan dekat kampus, seperti Mrican, yang dilewati pada pagi hingga sore hari. Sementara untuk kawasan wisata seperti Malioboro dan Alun-alun Selatan, dijadwalkan pada sore hingga malam hari.

DESAIn UnIK GEROBAK KOLInG CAfE

Koling Cafe yang berkeliling menyajikan kopi menggunakan gerobak bersepeda yang unik ini didesain oleh Andyansah Aziz (22) atau Andy, yang saat ini masih berstatus mahasiswa desain interior di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

Bagi Andy, merancang gerobak yang berfungsi sebagai kafe ini cukup menantang. eal pertama yang menjadi perhatiannya adalah aktivitas barista yang akan menyajikan kopi di pinggir jalan dengan gerobaknya. Dengan begitu, Andy harus melihat gerobak sebagai dapur atau bar mini.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana ia membuat “dapur atau bar mini” menjadi mobile atau bergerak. Maka sebelum mendesain, Andy meluangkan waktu melihat cara barista bekerja. Selanjutnya, fungsi sebagai dapur atau bar mini menjadi dasar dari perancangan gerobak untuk Koling Cafe.

rntuk memenuhi unsur estetikanya, Andy mengaku terinspirasi dari bangunan khas joglo. Selain menunjukkan dari mana asal Koling Cafe, atap joglo juga memiliki filosofi yang merendah. cilosofi ini dirasa cocok dengan visi dan misi Koling Cafe yang ingin menghapus stigma kopi itu mahal. “Kopi yang serius pun bisa, kok, dinikmati siapa saja,” ujar Andy.

Agar mobile, gerobak yang berfungsi sebagai bar mini ini lantas disatukan dengan sepeda. Perancangan gerobak bersepeda Koling Cafe memakan waktu sekitar 10 hari. Selama itu pula Andy mengamati aktivitas barista, untuk mendapatkan modelling presentasi visual, hingga membuat blueprint desainnya.

Sementara pembuatan fisik gerobaknya, kata Andy, mencapai total tiga minggu. “Dari persiapan hingga selesai membuat fisik gerobaknya memang membutuhkan waktu agak lama. Karena saya ingin membuat gerobak Koling Cafe berbeda dari gerobak jualan lainnya,” pungkas Andy.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.