suKsEs KAREnA nAmA unIK dAn foRmuLA REsEp TEpAT

Ayam panggang bukan hidangan baru. Di berbagai supermarket pun ada banyak. Tetapi made in Jon Gil tampaknya langsung diterima pasar dengan cepat. Apa sebetulnya rahasianya?

Saji - - Artikel -

Agak sulit kalau kita memulai bisnis dengan menu yang sudah ada di pasaran. Apalagi di supermarket pun ada dan peminatnya tak banyak-banyak amat. Toh, Asmi Ramadhan tidak gentar melangkah ke bisnis ini karena ia tahu apa yang harus ditawarkan demi mendatangkan antrean pembeli.

Pertama, nama yang unik, Jon Gil. Nama tentu punya pengaruh besar. Makin unik, makin mengundang orang datang.

Kedua, ditawarkan ayam panggang yang biasanya hanya ada di supermarket dan di resto besar, bukan ayam bakar yang dimatangkan di atas arang.

Karena itu ketika datang ke kedainya, alat pemanggang atau oven listrik yang disebut rotisserie itu segera menarik perhatian. Dalam satu alat rotisserie mampu menampung 24 ekor daging ayam utuh. Karena itu pelayanan pun menjadi sangat cepat.

Selain itu, hasil proses memanggang seperti itu, ternyata menghasilkan cita rasa daging ayam yang khas. “Konsep memanggang ini kami tiru dari cara pengolahan daging ayam di negara-negara Timur Tengah,” ujar Dina Mardiana (24), staf marketing pusat Jon Gil.

Dina mengatakan, teknik memanggang seperti ini dipilih Asmi lantaran dianggap lebih sehat dibandingkan memanggang menggunakan arang. “Selain itu, daging ayamnya tak perlu ditambahi minyak atau margarin. Jadi lebih sehat,” jelas Dina.

Sebelum Jon Gil diluncurkan, Asmi membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk mendapatkan formula resep yang tepat dalam mengolah ayam panggangnya. Dana yang dikeluarkan untuk uji coba resep tak sedikit. Bahkan mencapai puluhan juta rupiah. “Setelah berhasil menciptakan racikan bumbu yang dianggap oke, barulah pada Juli 2015 Jon Gil mulai membuka warung pertama,” ucapnya.

Sebelum dipanggang, setiap ayam diolesi bumbu yang merupakan resep rahasia Asmi. “Karena itu kedai-kedainya yang tersebar tidak membumbui sendiri, tetapi menerima ayam yang sudah dibumbui dalam bentuk frozen.

Ayam-ayam utuh tadi dipanggang di suhu 180 derajat Celcius selama 1,5 jam sampai 2 jam dalam rotisserie di setiap kedai. Proses pemanggangannya tergolong lama, namun dapat membuat ayam matang merata dan tekstur dagingnya menjadi lembut.

Selama dipanggang, kandungan minyak atau lemak yang ada di dalam ayam akan keluar dan menetes. Pemanggangan dilakukan terus hingga tak ada lagi minyak atau lemak ayam yang menetes.

SAMBAL DAHSYAT

Disadari Asmi, menyuguhkan ayam panggang begitu saja, pasti tak mudah menarik minat orang. Harus ada sesuatu yang membuat orang ketagihan. Pilihannya pada sambal yang lezat. Sambal lezat sangat bisa jadi andalan menarik siapa saja datang bersantap.

Karena itu, ayam panggang Jon Gil selalu disajikan bersama satu porsi nasi putih dan sambal bawang. Bukan sembarang sambal bawang, tetapi sambal bawang istimewa. “Rasa sambalnya pedas dahsyat. Bisa bikin mulut jontor. Jadi ini sebenarnya sesuai dengan nama usahanya, Jon Gil, yang akronim dari Jontor Nikmat Gila.”

Racikan sambalnya terbuat dari campuran cabai rawit segar dengan bawang merah yang cukup dominan dan tanpa terasi. Oleh karena tak menggunakan bahan pengawet dan zat kimia tambahan, sambal bawang Jon Gil hanya tahan selama 1 minggu saja.

Meski pedasnya dahsyat, pembeli banyak yang suka. Bahkan tak jarang yang memintanya dibawa pulang. “Akhirnya Jon Gil membuat sambal bawang ini dalam kemasan 100 ml dan 200 ml. Harganya masing-masing Rp 15 ribu dan Rp 30 ribu,” imbuh Dina.

Bila makan di kedai, paket lengkap terdiri dari 1/4 bagian ayam panggang, nasi putih, sambal dahsyat, dan es teh manis, harganya Rp 20 ribu. Ada pula nasi panggang super pedas dengan isi ayam panggang suwir dan sambal khas Jon Gil, seharga Rp 12 ribu.

Namun bila dibungkus untuk dibawa pulang, satu paket ayam Jon Gil dihargai Rp 22 ribu. “Dine in atau makan di tempat harganya memang lebih murah. Ini bagian dari strategi marketing kami,” ucap Dian.

Bagi yang ingin membeli seekor ayam panggang Jon Gil utuh juga bisa. Harganya Rp 70 ribu per ekor. “Ayam panggangnya awet sampai seminggu kalau disimpan di lemari pendingin. Jadi kalau mau disajikan, tinggal dihangatkan di microwave saja,” saran Dina.

DIPANDANG SEBELAH MATA

Dina sebenarnya merasa kaget melihat kesuksesan Jon Gil, yang saat ini kedainya selalu ramai pembeli. Bahkan tak jarang antrean panjang pembeli tampak mengular hingga ke luar kedai, demi mencicipi ayam panggang dan sambal pedas dahsyat ala Jon Gil.

Pasalnya di awal usaha, kata Dina, tak ada yang mau melirik kedai Jon Gil. Bahkan kerabat Asmi sendiri tak ada yang tertarik mencoba sajian ayam panggang di warung ini. Mereka menganggap Jon Gil merupakan produk kuliner yang kurang menggugah selera.

“Mereka bilang, ini makanan apa? Ayam bakar enggak jelas. rsaha begini enggak bakal sukses. Tapi Pak Asmi tetap optimis membuka kedai Jon Gil. Buktinya, sekarang Jon Gil justru sangat bisa diterima oleh pasar,” papar Dina, mewakili Asmi.

Kini, Asmi sudah memiliki 6 kedai Jon Gil. Yang pertama di Jalan Kavling Perkebunan Raya 1t Palem Semi, Karawaci, Tangerang. Kedai kedua terletak di area Sangiang, Tangerang, dan kedai ketiga di kawasan perumahan Citra Raya, Tangerang. “Kedai lainnya ada di Ciledug, Poris Tangerang, dan yang terbaru di Puri Kembangan,” tambah Dina.

Bahkan Asmi telah menjual waralaba usahanya kepada para mitranya. “Keuntungan membeli waralaba Jon Gil, tidak ada sistem royalty fee. Hanya perpanjangan nama saja setelah 5 tahun usaha berjalan. Biaya perpanjangannya tidak sampai Rp 10 juta,” kata Dina.

Salah seorang mitra Jon Gil yang berada di Puri Kembangan, Jakarta Barat, Andhika mengungkapkan, meski baru buka dua bulan, kedainya mampu menghabiskan hingga 100 ekor ayam per harinya. Sedangkan di akhir pekan bisa mencapai 150 ekor ayam. “Jika dihitung per porsi, di akhir pekan bisa 300 porsi terjual. Pembeli biasanya mulai ramai datang pada sore sampai malam hari,” ujar ibu dua anak ini.

Selanjutnya, kata Dina, Jon Gil akan membuka cabang baru di kawasan Depok, Cibinong, dan Bekasi. Tak hanya itu, Jon Gil pun berencana akan membuka kedai di Bandung, Surabaya, dan Bali.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.