Gandum Goreng, Depok

SNACK RENYAH ANEKA RASA

Saji - - Ide Cerdas - TEKS & FOTO ERWI WP | VISUAL MICHAEL W. A.

asing dengan dunia kuliner, bukan berarti Sajiers tak bisa a sukses menjalankan usaha makanan kecil. Itulah yang terjadi pada nugraha (42). Pria asal Tasikmalaya ini berhasil sil mengembangkan usaha gandum goreng dari nol, hingga kini ini mampu meraih omzet rp 200 juta per bulan.

Sepuluh tahun menjadi karyawan perusahaan oli impor, Nugraha tentu sangat asing dengan dunia kuliner. Namun nasib membawa hidupnya justru harus bergelut dengan usaha makanan kecil hingga membawanya meraih sukses.

Tentu saja Nugraha harus mulai dari awal demi mencoba peruntungan di usaha kuliner. Setelah memutuskan berhenti bekerja dari perusahaan oli impor di tahun 2006, Nugraha bersama istrinya tertantang untuk memiliki usaha sendiri.

Keduanya memilih usaha makanan kecil, yang dianggap lebih mudah diserap pasar dan bermodal kecil. Untuk mempersiapkan diri, mereka lantas mengikuti pelatihan yang diadakan sebuah perusahaan tepung ternama. Mereka diajari mengolah pasta bentuk spiral (fusilli) yang terbuat dari tepung semolina (gandum keras), menjadi snack renyah yang dapat dijual dengan harga terjangkau.

Nugraha mengawali usaha memasarkan pasta goreng berbumbu bubuk keju yang gurih dalam kemasan plastik kecil ke sekolah-sekolah, dengan harapan akan direspons dengan baik. Sayang, ternyata tak terlalu banyak penggemarnya, sehingga pasta gorengnya tak mampu bertahan lama dan rasanya berubah.

Akhirnya, Nugraha beralih memasarkan pasta gorengnya dengan cara titip jual ke warung-warung atau kios kecil. Harga jual pasta gorengnya Rp 500 per bungkus. Strategi yang dilakukan Nugraha mulai berbuah baik. Camilan renyah buatannya langsung mendapat respons baik.

“Alhamdulillah, ternyata setelah saya titip jual di warungwarung, responsnya sangat bagus. Kalau sudah habis, pemilik warung dan pelanggan banyak yang bertanya kapan pasta gorengnya dikirm lagi,” kenang Nugraha dengan nada senang.

BERALIH KE JUALAN ONLINE

Dalam menjalankan usahanya, Nugraha memiliki konsep berbeda. Terlihat dari produk jualannya yang memilih pasta dari tepung semolina, yang terbuat dari gandum berprotein tinggi. Ketimbang makaroni goreng berbumbu yang terbuat dari tepung tapioka dan lebih banyak dijual di pasaran.

Setelah 5 tahun berjualan pasta goreng secara stabil dengan memasukkan ke warung-warung, pada 2011 Nugraha mulai berinovasi dengan mencoba penjualan secara online via media soial. Ia pun mulai mengemas produk jualannya lebih baik dan diberi merek Gandum Goreng.

Tak sia-sia, strateginya kali ini pun menuai hasil menggembirakan. Penjualannya mengalami peningkatan luar biasa. “Saya lihat, banyak orang punya usaha snack dan dijual secara online, ternyata berkembang pesat. Saya ingin meniru cara itu. Sekaligus mengubah kemasan sehingga bisa meraih target lebih luas dan menyasar kelas menengah atas,” terang Nugraha.

Tak hanya memberi nama dan mengubah kemasan saja, Nugraha pun mulai menyediakan beragam varian rasa Gandum Goreng yang dijualnya. Ada 8 varian rasa baru yang dipasarkannya selain keju, yakni original, balado, balado jeruk, rumput laut, jagung manis, barbeque, dan pizza.

“Dulu, saya hanya bikin rasa keju saja. Tapi di lapangan, banyak pengusaha snack semacam makaroni goreng membuat aneka rasa, terutama rasa pedas dengan level pedas berbeda. Akhirnya, saya menambahkan varian rasa lain, sesuai permintaan pasar.”

Dari 8 varian rasa yang ada, kata Nugraha, Gandum Goreng rasa balado, keju, dan barbeque lah yang paling dicari pelanggan. Saat ini, Nugraha juga menyediakan Gandum Goreng dalam kemasan ukuran 100 gram, 250 gram, dan 500 gram. Khusus untuk menyambut Hari Raya Lebaran, Nugraha menyediakan Gandum Goreng edisi spesial dalam kemasan stoples 500 gram.

4 KUINTAL PASTA PER HARI

Dalam mengolah Gandum Goreng, Nugraha tinggal menggoreng fusilli hingga renyah lalu diberi bumbu berdasarkan varian rasanya. “Agar bumbunya meresap, fusillinya didiamkan selama 15 menit sampai 1 jam sampai meresap dan menempel ke setiap butir fusillinya. Setelah dingin, baru dikemas.”

Untuk menciptakan fusilli yang krispi dan tahan lama renyahnya, Nugraha mengaku mengunakan kompor industri dan kayu bakar, sehingga dapat menghadirkan aroma yang harum. “Saya beralih menggunakan kompor industri karena sebelumnya sering gagal hasilnya alias tidak renyah dan tidak tahan lama fusilli gorengnya kalau pakai kompor kecil,” tutur pria pehobi traveling ini lagi.

Saat ini, Nugraha yang tinggal di Depok ini telah memindahkan lokasi produksinya ke kampung halamannya, Tasikmalaya. Sementara itu, penjualan Gandum Gorengnya sudah menyebar ke hampir seluruh Indonesia. Di tiap kota seperti Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Lampung, Banten, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Kalimantan, hinggagg Sulawesi, Nugrahag dibantu p para reseller.

Bagi reseller ditentukan minimum pembelian 100 bungkus, ukuran 100 gram. “Tapi kalau sudah pernah ambil Gandum Goreng, selanjutnya bisa mengambil 50 bungkus,” katanya seraya menjelaskan, untuk membeli eceran atau satuan bisa melalui market place populer seperti Tokopedia, Shopee, dan lainnya.

Nugraha membanderol harga reseller Rp 5 ribu per bungkus Gandum Goreng ukuran 100 gram. “Oleh reseller akan dijual lagi dengan kisaran harga Rp 7 ribu-Rp 10 ribu per bungkus, tergantung ongkos kirim ke kota masing-masing,” kata pria dua anak itu lagi.

Setelah menelan pahit getirnya memulai usaha makanan kecil dari nol, kini Nugraha mampu memproduksi 4 kuintal Gandum Goreng per hari, dengan omzet Rp 200 juta per bulan. “Setiap memasuki bulan Ramadan hingga Lebaran, permintaan pasti meningkat dua kali lipat.”

Agar Gandum Goreng bertahan lama, Nugraha menyarankan agar pelanggan menyimpannya dalam wadah kedap udara dan tak terkena panas matahari langsung atau ditaruh di atas lantai. “Saya berharap, suatu hari nanti bisa menyasar pasar ekspor. Tapi saat ini saya sedang menguatkan pasar di seluruh Pulau Jawa,” pungkas Nugraha soal obsesinya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.