MENGUATKAN KEMBALI FILOSOFI Sego Gudang & Kembulan

“Duh, sedapnya.” Kalimat itu yang kerap terlontar saat menikmati sego (nasi) gudang atau gudangan. Terutama pada saat sarapan gudangan ditemani tempe goreng, tahu bacem, dan kerupuk karak, yang akrab dengan keseharian masyarakat Klaten, Jawa Tengah.

Saji - - Artikel -

Ya, bagi masyarakat Klaten, gudangan atau menyantap sego (nasi) gudang cenderung disantap sebagai menu sarapan. Kuliner ini seolah menjadi teman setia masyarakat Kota Klaten, sebelum memulai aktivitas di pagi hari. Tak heran bila penjual gudangan sudah bersiap menyambut para pelanggannya sejak pukul 05.30 WIB. Dan biasanya, gudangan sudah habis sebelum pukul 08.00 WIB.

Meski sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Klaten, namun hingga saat ini ternyata gudangan bisa dikatakan masih kalah ngetop bila dibandingkan keberadaan keberadaan sego liwet (nasi liwet) atau gudeg.

Maka dari itu, untuk tetap melestarikan warisan budaya kuliner asli Klaten, dirasa penting untuk mengangkat kuliner tradisional tersebut. Salah satunya melalui Festival Kuliner Tradisional Klaten, yang baru saja dilaksanakan pada Juni lalu di Alum Alun Klaten.

“Gudangan atau nasi gudang adalah cermin dari sebuah kesederhanaan. Makanan itu tidak sulit dibuatnya alias sederhana. Kita hanya perlu menambahkan racikan sayuran dan bumbu parutan kelapa dan kedelai goreng yang ditumbuk ke dalam nasi. Begitu sederhana, namun kita bisa menikmatinya,” tutur Nick Nurahman, pemrakarsa Festival Kuliner Tradisional Klaten 2017.

MAKNA KEMBULAN SEGO GUDANG

Nasi gudang menjadi simbol kesederhanaan orang Jawa. Memiliki filosofi dari kehidupan masyarakatnya yang tidak neko-neko dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa, dalam menjalani kehidupan. Menu sederhana ini pun bisa dinikmati siapa saja. Tak hanya masyarakat bawah, tapi juga kalangan atas bisa ikut menyukainya.

“Kesederhanaan itu yang menjadikan sego gudang bisa dinikmati masyarakat dari semua lapisan. Kuliner ini memang tidak membeda-bedakan masyarakat. Ada kebersamaan dan kesatuan di dalam maknanya,” ujar Nick.

Itulah mengapa sego gudang diangkat menjadi tema sentral Festival Kuliner Tradisional Klaten kali ini. “Kami ingin mengangkat sego gudang yang sudah mulai tenggelam. Di sisi lain, sego gudang mencerminkan kesatuan sehingga diwujudkan dengan makan bersama atau kembulan,” imbuhnya.

Kembulan juga merupakan tradisi masyarakat Jawa, yang selalu ingin bersama-sama dengan yang lain. Dari situlah muncul istilah ‘mangan ora mangan, sing penting kumpul’ atau yang artinya makan tidak makan, yang penting kumpul. Kebersamaan memang diutamakan. Namun pada saat sudah berkumpul, orang-orang Jawa selalu ingin makan bersama, baik makan beralaskan daun pisang atau pohon jati.

“Masyarakat Jawa suka kegiatan makan bareng. Istilahnya, kembulan. Ada kebersamaan dan kesatuan dari kegiatan kembulan. Dan filosofi itulah yang harus ditumbuhkan lagi. Kebersamaan di antara kita mungkin sudah terkikis karena masyarakat yang kian individualistik. Jadi ada keinginan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan melalui tradisi kembulan sego gudang,” kata Nick lagi.

Semangat kembulan yang ingin dipertahankan ini, sesungguhnya merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali kepada akarnya yang terbiasa makan bersama, sejak lama. “Kembulan merupakan simbol kebersamaan. Hal inilah harus dihidupkan terus,” tutur tokoh kuliner Indonesia yang ikut hadir dalam acara Festival Kuliner Tradisional Klaten 2017, William Wirjaatmadja Wongso.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.