PELESIR SUMATERA UTARA:

Dari Rujak Simpang Jodoh Hingga Bakso Bakar Yang Legendaris

Saji - - Halaman Depan -

Sejak era 1970-an, Simpang Jodoh dijuluki sebagai tempat bersatunya dua jomblo sambil menikmati rujak. Dan saat ini, terdapat 32 warung rujak yang berderet di tepi jalan Simpang Jodoh. Meski para pedagang berjualan jenis makanan yang serupa, namun tiap warung pembelinya selalu sama membludaknya.

Salah satu kedai rujak di Simpang Jodoh adalah Rujak Melly. Sang penjual, Melly, merupakan generasi ke-2 yang meneruskan usaha ibunya. Di warungnya ia menata buah-buahan bahan rujak di balik kaca etalase, yang menggoda untuk dicoba. Di antaranya mangga, jambu air, jambu kelutuk, nanas, bengkoang, kedondong, dan mentimun.

“Harus ada daya tarik karena kami bersaing dengan tetangga yang sama-sama jualan rujak. Memajang buah-buahan di balik kaca jadi cara memancing orang yang belum pernah beli rujak, untuk mampir ke warung saya,” ujar Melly.

Melly menyediakan 2 jenis rujak, yaitu rujak potong dan rujak tumbuk. Untuk rujak potong, buah-buahannya diiris kasar lalu disiram bumbu rujak. Sementara rujak tumbuk, tiap jenis buah ditumbuk sampai halus, kemudian disiram bumbu rujak.

Kunci kelezatan rujak Melly, selain pada kualitas buah yang segar, juga pada bumbu rujaknya. Bahan bumbu rujaknya terdiri dari kacang tanah goreng, cabai rawit, garam, gula merah, pisang batu, dan buah rumbia. Semua bumbu diuleg hingga kental dan legit. Agar tak menimbulkan rasa getir, kata Melly, takaran pisang batu dan buah rumbianya harus pas betul.

Untuk mendapatkan bumbu rujak yang legit dan kental, Melly menggunakan gula aren murni. “Saya pakai gula aren yang didatangkan dari Sipirok,” tuturnya. Baik rujak potong maupun rujak tumbuk, per porsinya Rp 15 ribu. Dari kedua jenis rujak ini, kata Melly, yang paling banyak digemari adalah rujak potong. Rujak Melly buka sejak pukul 11.00 WIB.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.