Tokezi

Stik atau keripik keju, bukanlah kuliner asing bagi masyarakat di Indonesia. Namun salah satu pengusaha muda, Galih Santoso Octaviano, berhasil menghadirkan keripik keju dalam kemasan unik dengan ragam varian rasa kekinian melalui merek Tokezi.

Saji - - Coretan -

Di tangan Galih, stik atau keripik keju bukan lagi jadi camilan biasa. Lewat merek Tokezi, produk keripik keju tampil lebih inovatif. Salah satu keunikan Tokezi terletak pada varian rasanya yang sangat beragam.

Selain varian rasa original keju, ada pula varian rasa keju cokelat dan keju kornet. Modifikasi rasa ini, diakui Galih, terinspirasi dari produk camilan yang selama ini ada di pasaran, yang dihadirkan dengan berbagai rasa.

“Contohnya keripik pisang, yang punya banyak varian rasa. Lalu saya berpikir, kenapa tidak mencoba membuat stik keju yang dibuat seperti itu,” kata Galih yang kemudian mewujudkan impiannya. Ia memilih bahan utama tepung terigu, telur, minyak kelapa sawit, penyedap rasa, plus keju lokal berkualitas terbaik.

Untuk menciptakan varian rasa berbeda, ia menambahkan pula daging kornet sapi untuk varian keju kornet, dan bubuk cokelat untuk varian keju cokelat. Keunikan lain tampak pada bentuk keripik kejunya. Jika umumnya berbentuk memanjang atau seperti cendol, namun keripik keju Tokezi sekilas seperti sayur kecipir.

Memiliki tiga sisi lurus, memanjang, dan menyatu. Hanya saja ukurannya lebih kecil dari kecipir, kira-kira setengah jari telunjuk orang dewasa. “Ukurannya sengaja dibuat tak terlalu besar karena kami berharap orang yang menikmati keripik keju ini seperti sedang menikmati popcorn,” ucapnya, seraya menjelaskan nama Tokezi merupakan akronim dari Toko Keju Bergizi.

Galih juga mengatakan, tekstur keripik kejunya dibuat tak terlalu keras namun crunchy. Sehingga bisa dinikmati oleh berbagai kalangan usia, dari anak-anak hingga orang lanjut usia.

DUA KEMASAN

Demi menciptakan rasa keripik keju yang pas di lidah, Galih mengaku butuh waktu 1 tahun dalam melakukan uji coba produknya. Bahkan, ia sampai harus melakukan riset pasar untuk menemukan rasa yang paling banyak disukai orang-orang.

Tak heran bila ia baru memutuskan pada Maret 2016 lalu, produk keripik keju ber-tagline ‘chesee stick revolusioner’ ini diluncurkan ke pasaran. Sebelumnya, Galih telah melengkapi berbagai persyaratan, seperti kepemilikan izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), sertifikat Halal MUI (Majelis Ulama Indonesia), serta barcode produk yang dapat dipindai pihak toko.

“Kemasan menarik, isi makanan tidak pasaran, rasa enak dan unik menjadi pendukung agar produk Tokezi bisa masuk ke supermarket,” ungkapnya. Maka, penjualan Tokezi kini tak terbatas lewat online saja.

Tokezi juga telah tersedia di beberapa pasar swalayan. Khusus di Jakarta, Tokezi dapat ditemui di sejumlah supermarket seperti Kem Chicks Kemang, Food Hall Plaza Senayan, Diamond Artha Gading, dan Gelael Tebet. Untuk di luar Jakarta, Tokezi bisa didapatkan lewat jaringan supermarket Gelael di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Semarang, Lampung, Manado, Batam, hingga Timika (Papua).

Sekali memasok ke supermarket, Galih mengaku memasukkan sebanyak 96 pak Tokezi. “Sistem penjualannya menggunakan cara beli putus, dengan pembayaran termin dan masih mengikuti sistem retur,” timpal pria yang hobi membaca buku ini.

Demi meningkatkan jumlah pembelian Tokezi, Galih kerap menempatkan SPG atau SPB (sales promotion girl/ boy) setiap Jumat hingga Minggu, di saat ramai pengunjung. Ada pula, staf penjualan yang ditugaskan untuk mengecek stok produk Tokezi secara berkala.

DIBANTU RESELLER

Ada 2 jenis ukuran Tokezi yang dipasarkan, yakni 70 gram dan 100 gram. Keripik keju seberat 70 gram dibanderol seharga Rp 18 ribu-Rp 20 ribu dan dikemas menggunakan plastik zipper, sehingga awet dikonsumsi hingga lebih dari 7 bulan.

Sedangkan ukuran 100 gram, dijual seharga Rp 26 ribu-Rp28 ribu dan dibungkus dalam plastik bening dalam kemasan kertas duplex. “Keripik keju yang 100 gram tahan lamanya sekitar 4-5 bulan,” timpalnya sambil mengatakan rumah produksi keripik kejunya terletak di Jakarta Selatan.

Untuk memperluas penjualan keripik kejunya, Galih saat ini sudah menerapkan sistem reseller. Untuk saat ini, kata Galih, para calon reseller cukup memberikan identitas diri saja. “Saya belum menerapkan biaya pendaftaran, masih gratis. Pada pembelian di awal minimal 20 pak, kami juga ada sistem trial order bagi para reseller, untuk percobaan penjualan,” jelasnya. Reseller Tokezi kini telah berjumlah 65 orang, tersebar di berbagai wilayah Jabodetabek yang kerap memasukkan ke market place ternama, hingga mencapai Sumatera dan Kalimantan.

Dengan jumlah reseller yang semakin bertambah di banyak tempat, tidak heran bila setiap bulannya keripik keju kreasi Galih bisa terjual sampai 5 ribu pak. Untuk menyediakan stok ribuan pak, saat ini Galih dibantu 5 karyawan di bagian produksi dan 7 orang dibidang non produksi.

Upaya pemasaran Tokezi rupanya tak hanya sebatas di Indonesia. Galih kini sedang menyusun strategi guna membuka pasar Tokezi di salah satu negara di Asia, yakni Tiongkok. “Sekarang ini masih dalam tahap perundingan dengan calon mitra,” tuturnya.

Tak hanya itu, Galih juga berencana menghadirkan varian baru Tokezi, yakni pedas dan barbeque yang sedang dikembangkannya. Menurutnya, kedua varian itu menjadi cita rasa yang juga banyak digemari masyarakat. “Pengembangan ini tentunya demi memuaskan para pelanggan,” pungkas Galih.

HAL. 12

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.