PAUS SPERMA: PENGEMBARA BERBUDAYA

Scuba Diver (Indonesian) - - BRIEFING -

Peneliti telah menemukan bahwa paus sperma adalah pengembara budaya, dengan kelompok berbeda-beda menempuh jarak yang luar biasa akibat perubahan habitat. Sejauh ini, keteguhan budaya tersebut terlihat tidak lazim dalam lingkungan kelautan, dengan sebagian besar binatang memilih untuk tetap tinggal di habitat mereka melewati periode perubahan lingkungan dan mengadaptasi budaya mereka sesuai dengan perubahan.

Penemuan ini didapat dari sebuah kajian di Galápagos, di mana perairannya pernah didominasi oleh dua klan paus sperma hingga mereka pergi pada tahun 1990-an. Namun, sekarang perairan ini menjadi rumah bagi dua populasi yang sangat berbeda yang telah berpindah dari seberang Samudra Pasifik, ribuan kilometer jauhnya. Populasi berbeda ini dapat ditentukan melalui “coda” mereka, atau dialek vokal, yang spesifik bagi beberapa klan.

Co-author kajian tersebut, Dr Shane

Gero yang merupakan ahli biologi kelautan pascasarjana di Universitas Aarhus, Denmark, memberi tahu Mongabay bahwa pergantian budaya seperti ini belum pernah terjadi kecuali pada manusia. “Contohnya seperti Anda pergi ke Kanada selama 20 tahun dan orang-orang di sana berbahasa Inggris dan Perancis, tetapi 10 tahun kemudian tidak ada lagi yang tinggal di Kanada,” kata Gero. “Lalu, Anda kembali lagi dan orang-orang di sana berbicara bahasa Spanyol dan Portugis.”

“Budaya paus sperma muncul untuk mengatasi perubahan lingkungan yang dramatis,” kata Mauricio Cantor, mahasiswa pascasarjana di Universitas Federal Santa Catarina, Brazil, dan lead author penelitian tersebut. “Batasan budaya ini bukanlah hal sepele dan tidak pula ditinggalkan ketika menghadapi tantangan baru.”

Penelitian ini menunjukkan bahwa untuk melindungi paus sperma mungkin membutuhkan pelacakan populasi berdasarkan budaya dibanding geografi.

2016: TAHUN TAMAN LAUT

Terlepas dari drama dan keputusasaan yang ada di tahun 2016, tahun ini bisa dianggap sebagai tahun di mana dunia menjadi serius tentang konservasi laut; beberapa kawasan laut terlindung yang terluas di planet ini dideklarasikan pada tahun 2016:

UNTUK DIRINYA SENDIRI

Seekor hiu zebra betina di sebuah akuarium di Australia telah mencengangkan komunitas ilmiah dengan melahirkan tiga ekor bayi meskipun telah terpisah dari pasangan jantannya selama beberapa tahun. Hiu ini sebelumnya telah melahirkan 24 ekor bayi selama 12 tahun di akuarium sebelum dipindahkan ke tangki terpisah di tahun 2012.

Diketahui bahwa beberapa spesies vertebrata memiliki kemampuan untuk bereproduksi secara aseksual. Hal ini telah diamati pada ular, beberapa hiu, dan pari. Namun, bentuk reproduksi ini biasanya terjadi pada individu yang sama sekali belum pernah bereproduksi secara seksual. Pergantian reproduksi dari seksual menjadi aseksual sejauh ini baru ditemui sebanyak dua kali: sekali pada seekor boa pembelit dan sekali pada pari elang.

Tim di akuarium tersebut memverifikasi bahwa hiu zebra tersebut tidak menyimpan sperma pasangannya selama bertahun-tahun setelah dipisah; tes DNA menunjukkan bahwa para bayi hiu hanya memiliki materi genetik induk mereka.

Bentuk reproduksi ini tidaklah disukai dalam spesies vertebrata karena berakibat pada rendahnya keragaman genetik, rendahnya kemampuan beradaptasi, serta terbatasnya daya tahan. Namun, hal ini dipercaya berfungsi sebagai mekanisme sementara demi keberlangsungan spesies hingga pasangan jantan berikutnya ditemukan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.