WANITA DALAM MENYELAM

“Ratu Manta” Andrea Marshall berbagi pemahaman dahsyat mengenai tantangan tersembunyi bagi para wanita dalam sains.

Scuba Diver (Indonesian) - - WOMEN IN DIVING - Teks oleh Dr Andrea Marshall

Topik terkait dengan gender selalu muncul ketika saya berbicara tentang pekerjaan saya sebagai ilmuwan. Percakapan yang dimulai tentang pekerjaan saya dengan pari manta selalu kembali ke pertanyaan menyelidik tentang tantangan sebagai peneliti wanita. Bagi saya, ketertarikan orang akan subyek ini membingungkan. Menjadi peneliti lapangan sudah pasti susah… tetapi apa hubungannya dengan jenis kelamin saya sebagai wanita? Saya harus meredam perasaan defensif saya ketika melihat orang-orang menaikkan alis keheranan begitu mengetahui bahwa saya adalah CEO sebuah organisasi konservasi internasional… seakan-akan susah bagi mereka untuk percaya akan hal ini.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti ini terkadang membosankan, saya telah mulai berdamai dengan diri saya bahwa masalah ini sungguhlah penting dan patut dihiraukan. Alasan utamanya adalah ratusan, mungkin ribuan, perempuan yang, di sepanjang karier saya, telah menghubungi saya untuk meminta nasihat–perempuan yang melihat saya sebagai seorang panutan, yang bercita-cita untuk berkarir seperti saya, atau yang ingin bekerja di bidang ini; perempuan muda berbagai umur yang mencari rekomendasi atau nasihat; mereka yang ingin mendengar langsung bahwa mereka bisa. Terkadang saya tahu bahwa mereka hanya butuh diyakinkan; yang lainnya sedang mencari cara untuk meredakan rasa takut akan keluarga atau teman mereka. Anehnya, saya tidak pernah mendapat surat, email, atau pertanyaan dari kaum Adam. Apakah ini karena saya bukan panutan mereka, terlepas dari otoritas saya di bidang ini? Ataukah karena mereka tidak seragu-ragu perempuan muda? Logika memberi tahu saya bahwa pertanyaan kedua adalah jawabannya, dan setiap saat saya melihat bukti bahwa perempuan muda cenderung kurang percaya diri untuk berkarir dalam bidang sains, teknologi, engineering, matematika (STEM) dibanding dengan pria muda.

Ketika saya masih muda, saya tidak pernah berpikir bahwa sebagai wanita saya akan menghadapi diskriminasi di tempat kerja atau ditakut-takuti karena saya mengejar mimpi saya untuk menjadi seorang ilmuwan. Saya menyalahkan orangtua saya untuk

ketidakpedulian ini. Saya menyalahkan mereka karena mereka membesarkan saya untuk percaya bahwa saya bisa menjadi apa pun ketika saya besar nanti; bahwa tidak ada tujuan apa pun, tak peduli seberapa mustahilnya, yang tidak dapat saya raih.

Meskipun saya adalah anak tunggal, masa kecil saya sangatlah luar biasa dan penuh dengan petualangan dan bepergian. Ibu saya adalah contoh luar biasa sesungguhnya yang membesarkan saya dalam rumah penuh cinta dan di saat yang sama sukses dalam kariernya. Ia selalu mendukung impian dan cita-cita saya. Saya bersekolah di sekolah-sekolah terbaik, dan ibu saya memastikan bahwa saya sebanyak mungkin terpapar dengan kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan kelautan.

NASIHAT UNTUK “PEREMPUAN MUDA NAN CERDAS”

Di situlah saya, dengan bodohnya mengejar mimpi saya menjadi ahli biologi kelautan. Namun, meskipun saya adalah salah satu murid terpintar di SMA, saya mulai merasakan dorongan halus dari yang lain untuk bekerja di bidang yang lebih sesuai untuk seorang perempuan. Selalu dalam cara yang paling halus, saya diberi tahu bahwa saya adalah penulis yang bagus dan bahwa saya harus mempertimbangkan kuliah jurusan sastra atau creativewriting. Saya diberi tahu bahwa saya adalah pendebat yang hebat dan saya harus mempertimbangkan karier di bidang hukum. Dan setiap saat, juga disarankan bahwa sains adalah bidang yang susah untuk dimasuki. Semua orang tampaknya ingin menyetir saya pada pilihan karier yang lebih praktis, sebab “peneliti hiu” tidak terlihat sebagai karier yang memadai bagi seorang “perempuan muda nan cerdas”.

Anehnya, nasihat ini biasanya datang dari orang-orang yang terlihat peduli tentang saya, orang-orang yang “tampaknya” tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya dibuat merasa bahwa saya akan menyesali keputusan saya untuk mengejar karier dalam sains, bahwa saya akan menghabiskan waktu yang berharga hanya untuk, nantinya, memahami bahwa ini bukanlah pilihan yang “layak” bagi saya.

Hingga saat itu saya bahkan tidak pernah menganggap apa artinya untuk menjadi seorang wanita muda cerdas dengan pilihan; saya tidak pernah menduga bahwa menjadi seorang perempuan dapat mempersulit pilihan saya. Saya akui bahwa saya bingung dengan semua nasihat yang tidak diminta ini. Saya selalu ingin menjadi ahli biologi kelautan semenjak saya berusia lima tahun. Bahkan, banyak orang memberi tahu saya bahwa mereka belum pernah bertemu dengan anak lain yang fokus seperti saya—rasanya saya tidak pernah goyah dalam perjalanan menuju profesi pilihan saya.

Dengan tekad bulat, saya mencoba untuk tidak membiarkan opini-opini baru yang tidak begitu mendukung memengaruhi kepercayaan diri saya. Saya terus-menerus meyakinkan diri bahwa ini hanyalah omongan para orang dewasa yang mencoba mengusik ekspektasi generasi yang lebih muda–dengan ceramahceramah usang tentang kepraktisan dan akal sehat. Masalahnya adalah teman-teman lelaki saya tidak mengalami tekanan serupa, bahkan mereka sekalipun yang mempertimbangkan bidang yang sama menentangnya atau sulit diprediksi. Pada akhirnya saya menyadari bahwa orang-orang memperingatkan saya hanya karena saya adalah seorang perempuan. Saya pun tidak terima.

Di universitas, tekanannya menjadi lebih intens. Para laki-lakilah yang mendominasi kelas-kelas sains; sebagian besar profesor saya adalah lelaki, dan ketika saya mencari mentor dan panutan di dunia nyata, saya melihat bahwa sebagian besar orang-orang di bidang yang saya pilih juga adalah lelaki. Klub selam yang saya masuki, magang sains yang saya jalankan, dan pelatihan fotografi yang saya ikuti juga dipenuhi oleh para lelaki. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mulai goyah. Saya mulai merasakan sedikit keraguan. Perempuan bisa menjadi ilmuwan sukses… ya kan?

PARADIGMANYA MASIH BERGESER

Kurang-lebih saat itu adalah waktunya saya berburu wanita terkemuka dalam ilmu kelautan atau peneliti lapangan sukses—wanita-wanita ikonik seperti Sylvia Earle, Eugenie Clark, Jane Goodall, dan Rachel Carson. Ada banyak bukti bahwa wanita tidak hanya bisa sukses di semua

bidang ini, tetapi juga bahwa mereka bisa mengubahnya. Meskipun saya bahagia telah menemukan beberapa panutan bagi diri saya, jauh di dalam sanubari saya menjadi frustrasi karena jumlahnya hanya sedikit.

Tampaknya pergeseran paradigma yang jelas terjadi di antara tahun 1970-an dan 1990-an yang menandai kebangkitan signifikan wanita dalam ketenagakerjaan. Wanita seperti Jane Goodall, yang memulai karier sebagai sekretaris bagi si hebat Louis Leakey, yang maju ke depan sebagai ilmuwan menonjol di bidang STEM. Namun, semenjak lonjakan signifikan pada beberapa dekade pertama tersebut, saya kecewa mengetahui bahwa hanya ada kenaikan tiga persen dalam mempekerjakan wanita di bidang STEM.

Dengan metrik apa pun, wanita telah berpengaruh dengan signifikan di tempat kerja. Hanya tampaknya ada hambatan tersendiri di bidang sains. Bahkan, ketika rasio yang lebih seimbang ada di antara pria dan wanita di bidang STEM, wanita tidaklah sering direpresentasikan sebagai pemimpin, digaji secara adil, atau melaju dengan cepat dalam kariernya. Topik ini sepertinya telah dibahas oleh semua orang, mulai dari NYTimes, AmericanScientist dan NationalGeographic, hingga ke HuffingtonPost dan Nature. Jadi, apa masalahnya? Apakah ini karena wanita kurang mampu atau kurang produktif sebagai ilmuwan?

Tidak (dan saya tidak hanya omong kosong karena ini telah dibuktikan). Ini merepresentasikan tren budaya yang berbahaya, budaya di mana kita merendahkan wanita atau membatasi kemampuan mereka.

PENGKONDISIAN BAWAH SADAR

Saya harus mengakui bahwa saya pernah berkhayal tentang pidato “HeforShe” oleh Emma Watson ketika sedang meninjau beberapa statistik daring terbaru, dan saya terus berpikir, “Kapan pria akan mulai memberikan wanita lebih banyak kredit? Bagaimana gender masih saja menjadi masalah hingga sekarang ini?” Lalu saya menemukan kajian terbaru oleh ilmuwan Yale (Racusin dkk 2012 dalam Proceedingsofthe NationalAcademyofSciences), yang dengan jelas menangkap prasangka gender di mana mahasiswa pria lebih disukai dalam sebuah departemen di universitas tersebut. Hasil kajian tersebut tidaklah begitu mengejutkan. Yang membuat saya kaget adalah prasangka gender ini ditunjukkan oleh pria dan wanita. Mungkinkah wanita merendahkan dan meremehkan kaumnya sendiri? Benarkah bahwa kita juga telah dikondisikan untuk berpikir bahwa kita tidak bisa bekerja sama baiknya dengan pria atau kita tidak cocok dalam peran-peran tertentu? Saya tentu berharap tidak demikian, tetapi tampaknya tidaklah mengejutkan bahwa perempuan muda memiliki keraguan tentang berkarir di bidang sains. Kita tentunya belum menjadi inspirasi bagi kepercayaan diri mereka ‘ kan?

Namun, ini adalah sesuatu yang bisa saya hadapi. Ini adalah sebuah cara yang saya secara pribadi dapat tanggulangi sebagai wanita, dan saya telah menghabiskan sebagian besar dekade terakhir ini memilih untuk tidak hanya berinvestasi dalam menggapai dan mendidik, tetapi secara khusus juga fokus mendorong wanita muda ke dalam bidang STEM. Untungnya ada banyak wanita dan pria di luar sana yang

Semenjak lonjakan signifikan pada beberapa dekade pertama tersebut, saya kecewa mengetahui bahwa hanya ada kenaikan tiga persen dalam mempekerjakan wanita di bidang STEM

melakukan hal serupa.

Salah satu kesukaan pribadi saya adalah OceanGEMS, sebuah inisiatif penjangkauan multimedia yang ingin secara khusus menargetkan perempuan muda dan mengarahkan mereka pada karier di bidang sains kelautan dengan mendorong mereka melalui panutan nyata dan memberikan mereka kesempatan untuk membantu memulai karier mereka. Sama halnya dengan tanggung jawab guru dan penasihat di luar sana untuk melepaskan prasangka mereka dan mendukung murid sama rata sepanjang pendidikan akademik mereka, tanggung jawab ilmuwan jugalah untuk membuat diri mereka mudah diakses bagi para pemuda dan untuk menginspirasi serta membimbing mereka yang butuh dorongan ekstra.

“PENGHALANG BIOLOGIS”?

Ketika saya beranjak dewasa, saya menyadari bahwa tidak hanya perempuan muda sajalah yang butuh dorongan atau didukung dalam sains. Di pertengahan jalan karier, saya menemukan diri saya dikelilingi oleh para wanita cakap yang menunjukkan kefrustrasian atau keraguan mereka atas kemampuan mereka untuk menyeimbangkan karier mereka sebagai ilmuwan dengan kemampuan mereka sebagai istri dan ibu yang baik. Dikatakan

bahwa salah satu masalah berkepanjangan adalah wanita berkualifikasi yang harus meninggalkan karier sains mereka di tahap awal. Pernikahan, anak-anak, dan tekanan untuk menyesuaikan diri sering kali berperan dalam keputusan ini.

Tampaknya tidaklah adil bahwa ketika banyak perempuan muda yang telah mencapai titik stabil dalam karier mereka, setelah bertahun-tahun bekerja keras menyelesaikan pendidikan atau berjibaku di tempat kerja, harus menghadapi tekanan biologis yang mengancam kemajuan mereka. Dan ya, beberapa ilmuwan wanita terpengaruh lebih banyak dibanding yang lain. Sebagai contoh, peneliti lapangan yang bekerja di ranah yang tidak kondusif untuk membesarkan anak sering terpaksa untuk membuat keputusan yang mengubah karier ketika mereka memutuskan untuk berkeluarga. Apa pun itu, bertarung demi keseimbangan antara kehidupan berkeluarga, terutama tahun-tahun yang ketat di mana mereka harus menghabiskan banyak waktu setelah melahirkan, dengan ambisi profesional tidaklah mudah bagi banyak wanita.

Beberapa wanita merasa perlu untuk kompensasi berlebihan; yang lain memilih untuk tidak terlibat dalam hubungan ataupun memiliki anak yang kiranya dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk bersaing dengan rekan kerja pria mereka. Secara pribadi, bagi saya ini menyedihkan. Sedih rasanya bahwa wanita mendapatkan begitu banyak tekanan, entah itu tekanan yang disebabkan oleh diri mereka sendiri ataupun oleh yang lain. Para wanita membutuhkan dukungan kita, dan dukungan tersebut harus diulurkan pada semua jenjang karier mereka. Kita tidak hanya perlu mendorong wanita ke dalam bidang STEM, tapi juga harus mempertahankan mereka di sana.

MENGASUH PERBEDAAN

Menulis artikel ini merupakan latihan penting bagi saya, sebab hal ini mengingatkan saya betapa pentingnya wanita bagi sains dan betapa jauh serta cepatnya kita melaju dalam bidang STEM; dengan masukan dari kedua gender. Pada akhirnya, pria dan wanita berbeda dalam banyak cara dan semua perbedaan ini, baik tersembunyi maupun gamblang, sering kali melengkapi satu sama lain atau memberikan hasil akhir yang lebih baik.

Mungkin inilah intinya. Ini bukanlah tentang wanita mampu melakukan pekerjaan yang sama, menunjukkan bakat yang sama dalam sains, maupun mampu memberikan hasil yang sama dengan pria. Ini adalah tentang mengasuh dan mendorong keberagaman yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang lebih komprehensif. Begitu kita dapat benar-benar mengakui dan merangkul kualitas unik yang dimiliki pria dan wanita dan menerima bahwa mereka dapat memberikan sesuatu yang berharga, kita bisa mematahkan penghalang yang tersisa dan akhirnya mendapat representasi yang lebih seimbang.

Seekor manta berenang di belakang kawanan ikan bermata besar di Mozambik, tempat di mana Andrea Marshall menemukan spesies pari manta baru, sebuah penemuan yang mungkin tidak akan terjadi jika saja ia mendengarkan mereka yang menyuruhnya untuk belajar sastra atau hukum.

Tofo, Mozambik, di mana Dr Andrea Marshall bermarkas.

This article was first published on www.queenofmantas.com

Saya tidak pernah bersaing demi sebuah tempat bagi wanita di dunia pria.” – Dr Jane Goodall, ahli ekologi primata.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.