SAAT HIU BERANJAK PUNAH

Scuba Diver (Indonesian) - - CELEBRATING SHARKS - Teks: Adi Ahdiat Data dan Infografis: WWF Indonesia

Apa Yang Terjadi Ketika Hiu Punah?

Di suatu kawasan Samudra Atlantik, penurunan populasi 11 jenis hiu mengakibatkan populasi 12 jenis ikan pari meledak hingga 10 kali lipat. Jenis kerangkerangan (bivalvia) yang merupakan mangsa ikan pari pun habis dengan cepat di luar batas normal karena jumah predatornya meningkat drastis.

Hilangnya bivalvia lalu mengakibatkan tingkat kekeruhan air meningkat hingga kemampuan fotosintesis lamun (seagrass) menurun. Pada kelanjutannya, hilangnya lamun menyebabkan ikan-ikan juga hilang, berpindah ke tempat lain atau mati karena kekurangan oksigen, hingga kawasan itu disebut dead zone. Hilangnya spesies kerang menyebabkan bisnis kuliner di kawasan tersebut juga runtuh, sehingga perekonomian terganggu. Bukankah ini sebuah bencana?

Menurut data yang dihimpun WWF Indonesia, saat ini ada 100 juta ekor hiu yang ditangkap manusia tiap tahunnya di seluruh dunia. Seandainya tidak ada perubahan signifikan dalam praktik bisnis perikanan global, hiu terancam punah sepenuhnya dalam 50 tahun ke depan, atau mungkin lebih cepat.

Hukum Perlindungan Hiu di Indonesia

Fenomena penurunan populasi hiu juga dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia. Menurut data survei yang dihimpun WWF Indonesia, 89% nelayan menyatakan jumlah hiu yang tertangkap terus menurun, dan 44% menyatakan bahwa lokasi menangkap hiu bergeser semakin jauh dari pantai. Dengan kata lain: hiu di Indonesia sudah semakin berkurang dan sulit ditemukan.

Menanggapi kondisi ini, pemerintah Indonesia telah menerbitkan sejumlah peraturan yang bertujuan melindungi populasi hiu, yaitu:

1. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 12 Tahun 2012 yang mewajibkan dilepaskannya anak hiu, hiu hamil, serta hiu monyet yang tertangkap. 2. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 30 Tahun 2012 menegaskan bahwa hiu monyet harus dilepaskan bila tertangkap.

3. Seruan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 7 Tahun 2014 mengimbau seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk tidak mengedarkan/menyediakan atau mengonsumsi segala produk berbahan dasar hiu. 4. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 menetapkan Hiu Paus (Rhincodon typus) sebagai ikan yang dilindungi.

5. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 59 Tahun 2014 tentang Larangan Pengeluaran Ikan Hiu Koboi dan Hiu Martil dari Wilayah Negara Republik Indonesia ke Luar Wilayah Negara Republik Indonesia.

Kalau dibandingkan dengan praktik penangkapan hiu yang sudah marak sejak berdekade-dekade lalu, semua peraturan ini terhitung relatif baru, usianya belum sampai 10 tahun. Penegakkannya di lapangan

juga mungkin masih terhambat berbagai kendala yang belum banyak dikaji secara mendalam. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika penelitian tentang hiu di Indonesia terus dikembangkan, demi kelestarian hiu serta ketahanan sumber daya bahari Indonesia di masa depan.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Permasalahan hiu tentu merupakan permasalahan yang berskala global. Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa ikut terlibat di dalamnya. Berikut adalah tindakan yang bisa kita ambil untuk mendukung para hiu:

• Tidak mengonsumsi sirip atau daging ikan hiu

• Menghindari makan di restoran yang

menyediakan sup sirip hiu

• Menegur atau melaporkan pihak hotel/restoran

yang menyajikan sup sirip hiu

• Tidak membeli produk-produk berbahan hiu

• Menjelaskan pada orang lain alasan untuk tidak

makan atau menyajikan sup sirip hiu

• Melakukan kampanye online baik lewat blog atau

media sosial untuk perlindungan hiu

• Mendukung wisata selam di daerah habitat hiu

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.