Nyate di Hari Libur

SEDAP - - Editor’s Corner -

Anda yang memiliki anak-anak yang sudah besar, pasti mengalami kesulitan mencari waktu berkumpul bersama anak-anak. Mereka sudah punya agenda sendiri yang superpadat. Dan kumpul keluarga pastinya tidak termasuk dalam agenda kecuali hari libur seperti Lebaran. Semua orang mengikuti tradisi memang ada bersama keluarga. Kantor, sekolah, universitas pun libur.

Nah, saat-saat seperti itu merupakan saat terbaik untuk kumpul bersama. Itu sebabnya saya hanya menghadiri acara silaturahmi di hari Lebaran pertama saja. Setelah itu silaturahmi saya lakukan setelah liburan usai. Alasannya, ya, itu tadi. Saya kepingin berkumpul bersama anak-anak.

Kegiatan paling menyenangkan adalah menggelar barbeque. Namun karena sulit mencari bahan baku yang beragam, seringkali kami nyate bersama. Tentu sate yang berbeda dengan yang dijual orang. Kalau sama, pasti anak-anak komplen. Buat apa repot-repot mengipasi arang, kalau akhirnya cuma makan sate pinggir jalan.

Karena saya suka rempah, anak-anak tentu sudah saya biasakan menyantap makanan berempah dari kecil. Maka sate yang dilumuri bumbu rempah tak asing buat mereka. Agar meresap, tentu harus direndam semalaman. Nah, sambil menusuki ayam di tusuk sate, kami bisa mengobrol seru. Obrolan yang tak pernah muncul di hari –hari sibuk, saat itu bisa mengalir keluar.

Kata orang, yang terpenting pada komunikasi keluarga adalah kualitas, bukan kuantitas. Meski saya orang yang tidak terlalu sependapat dengan pernyataan itu, toh, kalau sedang kumpul begitu, jadi sepakat juga. Pertemuan singkat, hanya satu dua hari, tetapi komunikasi bisa intens.

Tentu tidak asyik kalau di acara seperti itu, Anda hanya menyediakan satu jenis sate. Harus ada beragam sate yang membuat kita bisa makan banyak. Maka muncullah aneka jenis sate yang sebetulnya tak jauh dari sate Nusantara kita. Mulai dari sate maranggih yang “dipindahkan” dari daging sapi jadi ayam, sampai sate madura yang kacangnya diganti kacang mede. Hasilnya, seru abis.

Contoh nyata yang kami lakukan sebetulnya memperlihatkan bahwa komunikasi antar keluarga bisa terbentuk lewat sajian makanan. Makanan yang dibuat ramai-ramai lantas disantap bersama-sama. Rasanya? Mungkin saja memang enak. Mungkin juga kurang enak (menurut saya pasti enak), tetapi kebersamaan mengubah yang kurang enak jadi enak. Sementara itu komunikasi yang terjalin akan diingat oleh anak-anak sepanjang waktu. Bahkan ketika kita sekeluarga tinggal berjauhan. “Aduh aku kangen sate waktu Lebaran itu, deh.”

Sate buatan kita yang menurut mereka lezat itu membantu mereka ingat kepada ayah ibunya, kepada adik atau kakaknya.

Ayo, masak, Bu. Ciptakan kerukunan dan keakraban keluarga lewat masakan yang kita buat sendiri atau bersama seluruh keluarga. Masakan yang berbeda dengan masakan yang dijual orang atau yang dijajakan di pinggir jalan. Tak sulit menyediakan sedikit waktu untuk mengolah satu dua macam masakan karena dasarnya cukup cinta kasih saja.

Kelak bila anak-anak sudah berkeluarga dan mereka menceritakan masakan buatan Anda kepada istri, suami, atau anak-anaknya, Anda bukan saja merasa bangga, tetapi tahu mereka ternyata bisa merasakan cinta kasih Anda yang dikemas lewat masakan yang Anda buat sendiri.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.