Mendorong Sertifikasi Pengusaha Kuliner di Kota Kembang

SEDAP - - Komunitas -

Berbisnis kafe dan restoran memang kini jadi pilihan usaha yang empuk bagi siapa saja. Sayangnya standar pelayanan,hingga penyajian yang dimiliki para pelaku usaha belum sama. Bahkan tak semuanya memiliki izin usaha. Padahal dalam bisnis makanan,

semua poin di atas sangat penting, karena menyangkut kepentingan orang banyak (konsumen). Kesadaran akan pentingnya pengetahuan dan perizinan dalam berbisnis kafe dan restoran ini dipelopori pertama kali oleh AKAR (Asosiasi Kafe dan Restoran). Sebuah komunitas berbentuk asosisasi ini berpusat di Bandung, kota wisata yang punya

pertumbuhan bisnis kuliner yang sangat pesat.

Menurut Dedie Soekartin (65), ketua sekaligus salah satu pendiri AKAR Bandung, asosiasi ini terbentuk, salah satunya dari dorongan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bandung. Tujuannya untuk membantu perkembangan industri Food & Beverage khususnya restoran dan kafe di Bandung yang berada di luar hotel. Karena selama ini PHRI lebih banyak mengelola kafe dan restoran yang ada di dalam hotel dan sertifikasinya sudah jelas. Namun restoran dan kafe di luar hotel inilah yang belum punya standar sama sekali,” urai Dedie.

Bangun standarisasi melalui pelatihan

Asosiasi ini terbentuk tiga tahun lalu dan terpilihlah Dedie sebagai ketuanya. Koki senior yang sudah malang-melintang dalam dunia chef profesional sejak tahun 1978 ini segera membuat program pelatihan bagi para anggotanya agar bisa memiliki keterampilan dan pengetahuan di bidang bisnis kafe dan restoran secara baik dan terukur.

Anggota yang bergabung ke dalam AKAR adalah para pemilik usaha kafe maupun restoran yang berdiri sendiri atau tidak berada di dalam sebuah hotel di Bandung. Ada sekitar 2000 kafe dan restoran dan sekitar 600 usaha terdaftar di bawah asosiasi ini.

Bagi para pengusaha kafe dan restoran di Bandung, banyak sekali manfaat yang didapatkan ketika bergabung di AKAR. Di antaranya beragam pelatihan yang agendanya sudah disusun Dedie. Mulai dari pelatihan manajemen yang materinya meliputi izin usaha, izin bangunan, manajemen produksi di dapur, higienitas, standar peralatan, hingga pelayanan, dan attitude para karyawan

Menurutnya, banyak sekali pengusaha kuliner yang membangun usahanya tanpa manajemen yang tepat sehingga tak lama setelah berdiri, operasional usahanya macet, lalu tutup. “Jadi salah satu hal penting adalah manajemen pemiliknya juga,” cetusnya.

Lalu ada pelatihan mengenai langkah operasional usaha sehari-hari “Operasional sehari-hari ini sangat penting batasannya sehingga tugas satu karyawan dengan yang lain jelas dan tidak terjadi gesekan,” imbuhnya.

Begitu juga SOP alias standar operational procedure. Hal ini penting agar standar hidangan maupun pelayanan di sebuah restoran tidak asal-asalan dan merugikan konsumen. “Jika melenceng, tentu saja konsumen bisa kecewa, baik soal hidangan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.