Komunitas

SEDAP - - Daftar Menu -

APJI, Jakarta

Untuk mencapai standar tinggi dalam mengelola usaha jasa boga, sebuah organisasi yang menaungi para pelaku usaha katering terbentuk dalam wadah Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI). Asosiasi ini merangkul para pengusaha jasa boga dari berbagai segmen untuk meningkatkan pengetahuan, standar mutu hidangan, sampai perkembangan usaha.

Merintis usaha katering (jasa boga) tak semudah kelihatannya. Karena memasak dalam jumlah besar dan banyak, selain kualitas rasa yang harus stabil terjaga, standar kelayakan maupun higienitasnya harus memenuhi syarat. Hal inilah yang terus disebarluaskan oleh Siti Djumiadini, Ketua DPD APJI DKI Jakarta. “Jadi upaya untuk standarisasi pelayanan, kualitas makanan, higienitas, hingga sertifikasi selalu menjadi perhatian utama kami agar setiap pengusaha katering dapat bergerak maju,” tegas perempuan yang akrab disapa Dini ini.

Mendorong profesionalisme

Menurut data yang dimilikinya, saat ini terdapat 1.500 katering yang membuka usaha di Jakarta. Dari jumlah itu, 700 di antaranya sudah bergabung ke APJI DKI Jakarta dan yang aktif sekitar 300 orang.

Untuk bergabung dengan APJI, tak ada batas dalam skala besar-kecil usaha. Selama usaha bergerak di bidang katering atau jasa boga, bisa bergabung di sini. Mulai dari katering harian dalam rantang, pesta, jamaah haji, hingga katering offshore (lepas pantai).

Kegiatan yang dilakukan APJI sangat beragam dan pasti berkaitan dengan kelancaran usaha jasa boga. Mulai dari pelatihan manajemen usaha, higienitas, standar operational procedure, dan juga sertifikasi usaha agar lebih berkembang.

Sertifikasi yang sering diabaikan para pengusaha makanan justru dipopulerkan APJI. Di antaranya untuk memperoleh SIUP (Surat Ijin Usaha Pariwisata), sertifikasi layak sehat dari dinas kesehatan, bimbingan perpajakan, hingga sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dengan memenuhi persyaratan ini, usaha yang kecil berkesempatan naik kelas dengan memasuki pasar yang lebih besar, misalnya melayani perkantoran. “Karena untuk melayani di gedung perkantoran atau melakukan tender di perusahaan besar, diwajibkan memiliki sertifikasi dari dinas terkait, dan juga sertifikasi dari APJI sebagai jaminan kredibilitas usaha,” paparnya.

Selain itu, pengusaha jasa boga juga diarahkan mengurus pajaknya agar tidak terjadi persaingan kurang sehat, khususnya dalam pemberian harga. “Jika tidak membayar pajak, otomatis tidak ada cost, sehingga harganya lebih

murah. Tetapi kan merugikan negara juga,” argumennya.

Untuk menjadi anggota APJI, khususnya DKI Jakarta, saat ini dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 500 ribu, dan biaya iuran tahunan Rp 500 ribu. “Semuanya dialokasikan untuk kegiatan pelatihan, seminar, sertifikasi, dan banyak program lainnya yang bersifat pengetahuan seputar jasa boga,” ujarnya.

Tak hanya seputar usaha jasa boga, kegiatan APJI juga kini meliputi pendidikan boga untuk generasi muda. Saat ini, APJI sedang melakukan upaya negosiasi dengan Pemprov DKI mengenai kerjasama untuk program magang bagi siswa kejuruan boga. Tujuannya ketika mereka memasuki dunia kerja yang sebenarnya sudah memiliki bekal pengalaman bekerja. “Jadi sejak dini, kami juga turut mempersiapkan generasi muda yang hendak terjun ke bidang usaha jasa boga,” tutupnya.

Sejarah panjang

APJI mulai dirintis tahun 1976. Kala itu sekelompok ibu-ibu PKK yang dipimpin Ny. Nokowati. Pada tahun 1978, sekelompok pengusaha katering ini kemudian mendirikan Himpunan Perusahaan Catering Jakarta (HPCJ). Namanya berubah jadi Asosiasi Catering Seluruh Indonesia (ACSI) pada tahun 1984, dan menjadi APJI 3 tahun kemudian.

Pada perkembangannya, APJI membentuk Dewan Pimpinan Pusat yang berpusat di Jakarta, serta didukung beberapa Dewan Pimpinan Daerah, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Saat ini, menurut Dini, DPD APJI sudah tersebar di belasan provinsi, termasuk Palu, Medan, dan Papua. “Target kami tahun ini bisa mencapai 20 DPD,” jelasnya.

Beberapa hal penting yang menjadi dasar pemikiran organisasi ini terbentuk meliputi beberapa hal, antara lain mengangkat harkat dan martabat pengusaha yang bergerak dalam jasaboga, memantapkan cita-cita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menumbuhkan semangat wirausaha, dan memperkenalkan masakan tradisional di mancanegara.

Nah, Anda yang sudah menjadi pengusaha katering, tetapi belum ikut serta dalam komunitas ini, segeralah mendaftar agar usaha Anda makin berkembang.

Tulisan mifTakh faried foto dOk. PriBadi mifTakh f. | Visual Benyamin w.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.