Pelupa dan Gangguan Emosi

Anda sering lupa pada hal-hal yang baru saja dilakukan? Hati-hati, bisa saja itu penyakit Alzheimer. Bagaimana mendeteksi penyakit ini?

Hidup Sehat - - DAFTAR ISI -

Setiap

orang dalam hidupnya pernah melupakan sesuatu. Apalagi kalau kejadiannya telah berlangsung lama. Demikian pula tampaknya semua orang pernah merasakan emosi dan marah, yang mungkin disebabkan karena harapan tidak kesampaian.

Sehingga dengan demikian lupa dan marah merupakan sifat dasar manusia. Namun kalau terlalu sering melupakan sesuatu, misalnya lupa meletakkan kunci mobil, lupa nomor telepon, lupa kardus obat, lupa mencampurkan gula dalam minuman, bahkan disorientasi waktu, tempat dan orang seperti keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak mengenali rekanrekan atau anggota keluarga terdekat. Demikian pula, perubahan mood dan perilaku, seperti menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya, bahkan menjerit, terpekik yang tidak terkontrol. Tentunya keadaan semacam itu merupakan hal yang tidak normal, bahkan ini merupakan tanda khas penyakit alzheimer.

Berbeda dengan penyakit Parkinson yang disertai dengan gangguan psikomotorik, penyakit Alzheimer didasarkan pada penurunan kemampuan mengingat yang sangat progresif. Serangan penyakit Alzheimer ditandai dengan kehilangan daya pikir secara bertahap, dan akhirnya dapat menjadi cacat mental total. Gejala awal Alzheimer adalah mudah lupa pada hal-hal yang sering dilakukan dan hal-hal baru. Penderita juga mengalami disorientasi waktu dan mengalami kesulitan berpikir yang kompleks seperti matematika atau aktivitas organisasi.

Alzheimer berat ditandai dengan kehilangan daya ingat yang progresif sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, disorientasi tempat, orang dan waktu, serta mengalami masalah dalam perawatan diri, seperti lupa mengganti pakaian. Penderita penyakit itu biasanya juga mengalami perubahan tingkah laku seperti depresi,

paranoia, atau agresif. Orang yang mempunyai riwayat keluarga Alzheimer mempunyai risiko mengalaminya dan risiko tersebut makin meningkat apabila kedua orangtua mengidap Alzheimer.

PENYEBAB ALZHEIMER

Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis kumpulan gejala dengan gambaran sel-sel otak mengalami degradasi, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Risiko untuk mengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan usia. Dalam gambaran otak ditemukan perubahan struktur di mana otak terlihat mengkerut, yang dipenuhi dengan sedimen protein yang disebut amiloid dan serat-serat neuro fibrillary. Berdasarkan gejala, ditemukan fakta bahwa Alzheimer disebabkan oleh kerusakan vascular, peradangan otak, aterosklerosis, penurunan atau hipoperfusi otak akibat stroke.

Secara umum penyakit ini ditandai dengan perubahan-perubahan yang bersifat degeneratif pada sejumlah sistem saraf, termasuk perubahan fungsi pada sistem saraf yang disebut neurotransmiter. Demikian pula terjadi perubahan degeneratif yang terjadi pada beberapa bagian otak seperti lobus temporal dan lobus parietal, dan beberapa bagian di dalam korteks yang disusul dengan kematian sel-sel saraf dan sinapsisnya.

Penyakit hipertensi, diabetes millitus (kencing manis), tingkat kolesterol yang tinggi, dan faktor keturunan merupakan faktor-faktor yang mempertinggi risiko seseorang menderita penyakit Alzheimer.

PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN

Pengobatan penyakit Alzheimer dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup, serta diperkuat oleh beberapa obat-obatan kimia, seperti Donepezil (obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium), dan Rivastigmine (obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf medium hingga berat).

Selanjutnya, karena Alzheimer merupakan penyakit degeneratif, maka pengobatannya membutuhkan waktu yang panjang. Sehingga hal yang terbaik dilakukan adalah pencegahan sebelum penyakit ini menimpa diri seseorang.

Adapun beberapa tips yang diberikan oleh para ahli adalah mengonsumsi minyak ikan, berolahraga, suplemen vitamin B, dan interaksi sosial yang baik, diyakini dapat mencegah penyakit degenerasi otak tersebut.

HARAPAN MASA DEPAN PENGOBATAN ALZHEIMER

Dewasa ini pengobatan yang diberikan kepada penderita Alzheimer berupa kombinasi obat kimia dan intervensi tindakan klinik yang dapat memperbaiki gejala menjadi lebih baik. Namun kedua pengobatan tersebut masih memiliki keterbatasan karena tidak mampu menyembuhkan secara total.

Oleh karenanya, para ahli senantiasa berusaha

secara maksimal untuk menemukan obat dan teknik pengobatan yang efektif. Beberapa ahli dari Jepang, Tabira dan koleganya, telah menemukan bahwa Yokukansan dan Juzentaihot (sejenis tumbuhan yang bisa bersifat muscarinic dan agonist nicotinic acetylcholim) dapat memperbaiki gejala baik psikologi atau keadaan umum penderita Alzheimer. Selanjutnya para ahli farmakologi sedang memodifikasi zat yang disebut immunotherapy, sehingga gangguan Alzheimer berupa pikun dapat diperbaiki.

Demikian pula lagi dikembangkan neuroreplacement (penggantian sel-sel saraf yang rusak), sehingga degenerasi sel-sel saraf dapat dicegah bahkan diperbaiki. Teknik ini dimungkinkan, atas kemajuan teknik isolasi dan pemeliharaan serta pengembangbiakan Neural Stem cells (NSCs). Pada awalnya ini dilakukan secara invitro di laboratorium kemudian dapat ditransplantasikan ke dalam otak manusia yang menderita penyakit Alzheimer.

Selain dengan teknik Herbal therapy, Immunotherapy, Neuroreplacment Therapy dan stem cell, di masa depan dibutuhkan kerjasama antara berbagai bidang, mulai dari kedokteran dasar sampai kedokteran klinik dan regenerative medicine. (Dr. Ikrar)

Perubahan Struktur Otak Penderita Alzheimer

Beberapa factor pencetus Alzheimer

Ilustrasi emosional dan kemampuan Memori Penderita Alzheimer

Tips Pencegahan Alzheimer

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.