VAKSINASI PENYAKIT MALARIA

Hidup Sehat - - DAFTAR ISI - (Dr. Ikrar, foto: dok. ist)

Malaria

merupakan penyakit infeksi yang ditularkan dengan perantaraan nyamuk Anopheles. Penyakit ini telah berkembang secara sporadik ke seluruh penjuruh dunia. Berdasarkan sejarah, Malaria telah menjangkiti manusia selama lebih 5000 tahun, seperti dilaporkan bahwa di China pada 2700 SM, ditemukan penderita demam berkala yang gejalanya seperti demam Malaria.

Setiap tahun, penyakit Malaria menjangkiti lebih dari 225 juta jiwa penduduk dunia, dan 781.000 orang di antaranya meninggal dunia. Karena penyakit ini ditularkan dari manusia yang sakit ke orang yang sehat lewat perantaraan nyamuk, maka sangat sulit dicegah atau dimusnahkan dari bumi ini, selama vektor perantaranya, yaitu nyamuk Anopheles, masih hidup.

Dewasa ini, sebuah harapan pencegahan malaria dengan menggunakan vaksin akan terealisasi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Vaksin anti Malaria ini telah dicoba dengan menggunakan uji klinis pada manusia. Vaksin ini dapat digunakan untuk menghambat siklus spora parasit malaria yang merupakan protein yang secara konsisten menunjukkan perlindungan terhadap malaria Plasmodium Falciparum (Circumsporozoite).

PENULARAN MALARIA

Malaria adalah penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk ke manusia dan hewan lain yang disebabkan oleh protista eukariotik sejenis plasmodium. Infeksi parasit yang berupa plasmodium dalam sel darah merah, menyebabkan gejala yang biasanya ditandai demam dan sakit kepala, bahkan pada kasus yang berat hingga koma atau kematian. Penyakit ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, termasuk banyak dari Sub-Sahara Afrika, Asia, dan Amerika.

Lima spesies plasmodium dapat menginfeksi dan ditularkan oleh manusia. Penyakit berat ini sebagian besar disebabkan oleh plasmodium falciparum. Sementara penyakit yang disebabkan oleh plasmodium

vivax, plasmodium ovale, dan malariae plasmodium, umumnya merupakan penyakit ringan yang jarang berakibat fatal.

Penularan malaria dapat dikurangi dengan mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu dan penyemprotan insektisida.

Siklus hidup parasit malaria dalam tubuh manusia terjadi pada saat nyamuk menginfeksi seseorang dengan mengambil atau mengisap darah. Bersamaan saat mengisap darah tersebut, nyamuk menginfeksi sporozoit dengan memasukannya ke aliran darah dan bermigrasi ke hati. Sporozoit ini selanjutnya menginfeksi sel-sel hati ( hepatosit), di mana mereka bisa berkembang biak menjadi merozoit, selanjutnya mengakibatkan pecahnya sel-sel hati, dan kemudian kembali ke aliran darah. Selanjutnya, merozoit menginfeksi sel darah merah, di mana mereka mengembang ke dalam bentuk cincin yang disebut trophozoites dan schizonts yang pada gilirannya menghasilkan merozoit lebih lanjut.

GAMBARAN KLINIS

Malaria ditandai dengan demam dan gejala seperti flu, termasuk menggigil, sakit kepala, sakit seluruh otot-otot tubuh ( mialgia), dan merasa lemas ( malaise). Gejala-gejala tersebut dapat terjadi pada fase interval. Demikian pula bisa menimbulkan komplikasi penyakit yang berhubungan dengan anemia dan ikterus. Pada penyakit yang lebih berat, gejalanya antara lain: kejang, gangguan mental, gagal ginjal, gangguan pernapasan akut, koma, bahkan pada anak-anak yang menderita Malaria sering menunjukkan sikap yang abnormal, sebagai tanda kerusakan otak yang parah. Sehingga malaria dapat menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada anak-anak akibat kerusakan neurologis atau otak, dan bisa berakhir dengan kematian. Gejala Malaria dapat berkembang mulai 7 hari (biasanya ≥ 14 hari) setelah terpapar oleh plasmodium.

Diagnosa penyakit Malaria ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikroskop. Demikian pula dengan menggunakan teknik pemeriksaan mikroskop, dokter dapat menentukan spesies atau jenis parasit Malaria yang menghinggapi penderita. Pemeriksaan lainnya, deteksi antigen yang berasal dari parasit Malaria. Seperti imunologi ( immunochromatographic) tes yang paling sering menggunakan format dipstick atau kaset dan memberikan hasil dalam 2-15 menit.

Malaria dapat diobati secara efektif pada awal perjalanan penyakit, tetapi penundaan pengobatan dapat berakibat serius atau bahkan fatal. Pilihan pengobatan tergantung pada spesies Malaria, dan kemungkinan resistensi obat (berdasarkan di mana infeksi diperoleh), usia pasien, status kehamilan, dan tingkat keparahan

infeksi.

Dewasa ini tersedia berbagai obat anti malaria, yang pengobatannya berdasarkan tingkat keparahan dan jenis parasit yang menginfeksi. Malaria berat diobati dengan penyuntikan kina secara intravena atau intramuscular, sejak pertengahan 2000-an juga telah tersedia Artesunat, yang merupakan obat anti malaria turunan Artemisinin.

Pada kasus Malaria ringan umumnya diobati dengan obat oral. Hal ini juga sangat penting untuk memastikan asupan cairan terus-menerus sehingga tubuh tidak mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Kina sulfat, Malarone, bersama dengan doksisiklin, diresepkan untuk masa satu minggu.

VAKSINASI ANTI MALARIA

Dewasa ini para dokter merekomendasikan pencegahan lebih baik daripada pengobatan malaria. Berbagai cara pencegahan dilakukan, mulai dari menggunakan obat-obatan (kemoprofilaksis), menggunakan kelambu, peringatan pada masyarakat yang akan berkunjung ke daerah rawan atau endemik malaria, hingga penggunaan vaksin.

Vaksinasi adalah pemberian bahan antigenik (vaksin) untuk merangsang sistem kekebalan individu untuk mengembangkan kekebalan adaptif terhadap suatu penyakit. Vaksin dapat mencegah atau memperbaiki efek dari infeksi patogen. Vaksinasi umumnya dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk mencegah penyakit menular. Agen aktif dari vaksin ini bisa dalam bentuk (bakteri atau virus) yang utuh tetapi tidak aktif (non-infektif) atau dilemahkan (infektivitas dikurangi) sehingga tidak menyebabkan penyakit atau komponen yang telah dimurnikan dari bakteri atau virus tersebut.

Banyak cara yang bisa digunakan dalam rangka untuk mencegah penyebaran penyakit, atau untuk melindungi masyarakat di daerah rawan malaria, termasuk dengan menggunakan obat-obatan profilaksis, pemberantasan nyamuk dan pencegahan gigitan nyamuk.

Hasil penemuan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, edisi Oktober 2011, merilis berita yang sangat diharapkan, yaitu: telah ditemukan vaksin malaria dan diuji secara klinis terhadap ribuan masyarakat di rawan Malaria. Hasil menunjukkan bahwa (Vaccine-RTS-S/AS01) yang diujikan kepada lebih dari seribu orang tersebut, menunjukkan berkurangnya infeksi malaria lebih 50%, khususnya pada anak-anak usia 5 sampai 17 tahun. Sehingga di masa depan, dokter berkeyakinan bahwa keampuhan vaksin tersebut dapat digunakan untuk mengendalikan penyebaran penyakit malaria.

Berbagai cara pencegahan dilakukan, mulai dari menggunakan obat-obatan (kemoprofilaksis), menggunakan kelambu, peringatan pada masyarakat yang akan berkunjung ke daerah rawan atau endemik malaria, hingga penggunaan vaksin.

Nyamuk Malaria dan Plasmodium Falciparum

Mekanisme Penularan Plasmodium Malaria lewat Vektor Nyamuk

Gambaran Klinik Penderita Malaria

Vaksin Anti Malaria

untuk SHARE Artikel atau Video ini klik www.HidupSehatMedia.com/86256

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.