Zara Ambadar Pantang Menyerah Menggapai Cita-Cita

PANTANG MENYERAH MENGGAPAI CITA-CITA

Kabari - - DAFTAR ISI -

Wanita kelahiran Jakarta bernama lengkap Zara Ambadar ini merupakan pribadi yang pantang menyerah. Sejak kecil memiliki impian untuk studi ke luar negeri. Mimpinya terwujud dengan mendapat beasiswa di Inggris dan Amerika. Kini ia memilih karir sebagai pengajar di Carlow University, Pittsburgh Amerika Serikat. Bagaimana kisahnya?

Anak ke-10 dari 13 bersaudara ini sejak kecil sudah memiliki cita-cita yang tinggi. Ketika anak-anak lain mesti didorong untuk sekolah, Zara kecil justru sangat senang bersekolah, senang membaca dan senang belajar bahasa Inggris. Tak heran cita-citanya ingin bersekolah ke luar negeri. Zara kecil belajar bahasa Inggris dari membaca buku-buku bahasa Inggris milik kakaknya. “Tapi saya sadar kalau keluarga tak akan mampu membiayai sekolah sampai ke luar negeri. Saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan mendapatkan beasiswa,” ucap Zara Ambara membuka pembicaraan dengan Kabari.

Zara menyenangi dunia pendidikan karena ditularkan dari kedua orang tuanya. Ayahnya yang guru berkutat melakukan berbagai penelitian di bidang fisika dan kimia lalu menghasilkan beberapa penemuan yang kemudian dijadikan usahanya. Ibunya yang kelahiran

tahun 1927 mengenyam pendidikan sampai kelas 5 di Sekolah Madrasah. Itu termasuk pendidikan yang tinggi untuk perempuan pada zamannya. Setelah kelas 5, ibunya dipingit seperti anak perempuan lain di zaman itu padahal ibunya sangat mendambakan kesempatan menggapai ilmu lebih tinggi lagi.

Saat duduk di bangku sekolah menengah atas di SMAN 3 Bogor, Zara sempat mengikuti seleksi program pertukaran pelajar American Field Service (AFS) dan terpilih sebagai salah satu dari 4 pelajar yang akan dikirim ke Australia atau Selandia Baru. Tapi akhirnya dilepas karena pada saat yang sama, Zara diterima di Fakultas Psikologi UI melalui Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Memulai kuliah tahun 1983 dan lulus tahun 1989, wanita kelahiran 17 April 1964 ini langsung bekerja sebagai dosen di fakultas yang sama selama kurang lebih 3 tahun.

BEASISWA

Tahun 1993, Zara kembali mengikuti seleksi dua program beasiswa yang diselenggarakan oleh The British Council untuk ke Inggris dan yang diselenggarakan oleh The American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) untuk ke Amerika. “Saat itu saya berharap bisa mendapat salah satu dari kedua beasiswa itu. The British Council yang lebih dulu memberi kabar gembira, bahwa saya berhasil lolos seleksi dan menjadi salah satu penerima beasiswa the British Chevening Scholarships Awards. Biasanya seleksi yang dilakukan adalah untuk penghargaan yang diberikan tahun berikutnya. Dalam selang waktu antara seleksi dan pemberangkatan, The British Council biasanya memberikan pelatihan tambahan untuk bahasa Inggris dan persiapan lainnya. Tapi menurut mereka, saat itu saya sudah cukup siap, dan mereka masih punya dana untuk dihabiskan di tahun 1993 yang bisa dimanfaatkan. Jadi mereka meminta saya mempertimbangkan untuk berangkat tahun itu juga dan tidak perlu menunggu tahun berikutnya,” ceritanya sambil mengungkapkan perasaan antara senang tapi juga deg-degan karena hanya punya waktu beberapa minggu saja untuk persiapannya.

Kebetulan pada saat yang bersamaan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kedatangan pembicara tamu, Profesor Michael J. Wright dari Brunel University, Inggris. “Beliau bicara tentang proyek penelitiannya di bidang Visual Perception, bidang yang memang menjadi minatnya selama ini. Mentorku Bernadette Setiadi, PhD memberi saran untuk membicarakan masalah beasiswa dan minatnya ke beliau serta memperlihatkan CV dan aplikasinya. Setelah mempelajarinya, Prof Wright langsung memproses penerimaan di Brunel University dan menerimanya di program Intelligent Science yaitu perpaduan antara Psychology dan Computer Science. Saya sungguh seumur hidup berutang budi pada teman dan mentor saya, Mbak Bernadette dan Prof Wright,” katanya.

Saat kuliah di Inggris mendapat kabar gembira dari AMINEF yaitu Zara lolos seleksi dan menjadi salah satu penerima beasiswa Fulbright untuk program tahun 1994. Karena beasiswa dari Inggris dimajukan menjadi tahun 1993, Zara memiliki kesempatan untuk bisa memanfaatkan kedua beasiswa tersebut (Chevening dan Fulbright), tanpa harus memilih. Tapi masalahnya program studi di Amerika dimulai pada bulan September 1994, padahal program studi di Inggris berlaku 1 tahun, dari Oktober 1993 sampai Oktober 1994. Jadi tantangannya adalah menyelesaikan program master di Inggris dalam kurun waktu 10 bulan, lebih awal dari

jadwal normal yang 1 tahun. “Kebetulan program di Inggris terdiri dari 6 bulan kuliah wajib dan 6 bulan master project. Jadi saya berkesempatan menyelesaikan master project dan menulis master thesis saya dalam waktu kurang dari 4 bulan. Sebuah tantangan yang berat. Bersyukur berhasil melakukan itu dengan kerja keras sehingga akhirnya pertengahan bulan Agustus 1994 saya kembali ke Indonesia untuk kemudian berangkat lagi ke Amerika dua minggu kemudian,” ucap Ibu dua orang anak

Agustus 1994, Zara tiba di Amerika untuk melanjutkan belajar di University of Pittsburgh setelah menerima beasiswa Fulbright untuk tingkat master. Program beasiswa yang diikutinya adalah Cognitive Psychology. Tapi sebenarnya program ini tidak menerima graduate student yang hanya bertujuan meneruskan sampai tingkat master. Program di University of Pittsburgh (UPitt) adalah program tingkat PhD jadi graduate student yang mengikuti program ini haruslah yang berminat meneruskan sampai ke PhD. Saat itu Zara tertarik untuk melanjutkan ke tingkat PhD tapi sebelum berangkat ke Amerika sudah diperingatkan oleh AMINEF bahwa beasiswa ini hanya mengurus sampai tingkat master. Jadi Zara harus mencari beasiswa tambahan untuk menyelesaikan PhD. “Selain memikirkan biaya kuliah juga biaya hidup di Pittsburgh. Jadi saya harus berhemat dan berhati-hati menggunakan dana beasiswa. Beruntung setelah menyelesaikan 2 semester, saya dapat bekerja sebagai Graduate Teaching Assistant di Dept of Psychology, UPitt sehingga mendapat biaya tambahan,” kata istri dari Bambang Parmanto ini.

PENGAJAR

Tahun 2002, Zara bekerja sebagai Post-doc associate di Department of Psychology, University of Pittsburgh bersama dengan Dr. Jeffrey Cohn. Di situ Zara mengelola the Face Lab dan melakukan beberapa penelitian tentang ekspresi emosi di wajah. Salah satu proyek mereka saat itu adalah mengembangkan program Automatic Recognition of Facial Expression. “Beruntung sekali saya bisa bekerja dengan tim yang menyenangkan dan dalam bidang yang sesuai dengan minat saya. Saya bekerja di lab Dr. Cohn sejak sebelum lulus dari PhD program sebagai Graduate Research Assistant, sampai anak kedua saya, Alex, lahir di tahun 2009. Saat itu saya terpaksa berhenti bekerja untuk sementara karena kondisi kehamilan yang agak sulit,” katanya. Sekarang ini Zara bekerja part-time mengajar di Carlow University, Pittsburgh dan juga menjadi project coordinator di University of Pittsburgh Medical Center (UPMC).

Menurutnya mengajar di Amerika terasa sangat berbeda dengan mengajar di Indonesia. Ini menjadi satu tantangan ketika mulai mengajar. Tuntutan pekerjaan lebih besar dan mahasiswanya juga lebih berbeda, lebih demanding, selain berbeda dalam budaya sosial. Pada awalnya ada saja mahasiswa yang mulanya tidak yakin dengan kemampuan pengajar yang ‘orang asing’ dan cenderung memandang rendah. Bekerja di Amerika ini benar-benar menggunakan sistem Merit yaitu mereka mempekerjakan dengan dasar kemampuan kita, jadi semua sangat tergantung pada kemampuan dan prestasi yang kita miliki. Bisa sangat kompetitif di bidang-bidang tertentu tapi banyak kesempatan untuk maju. Kita yang menentukan sejauh mana tantangan yang kita mau hadapi. Kita punya pilihan,” jelasnya lugas.

Sebagai wanita, Zara memiliki banyak kesempatan tetapi harus siap menangani berbagai tugas dan kewajiban, terutama setelah berumah tangga dan menjadi ibu. Karena segala sesuatu harus dikerjakan sendiri. “Tantangan sebagai orang Indonesia dan sebagai wanita sebenarnya hampir tidak saya rasakan dalam bidang pekerjaan, karena masyarakat Amerika, terutama dalam lingkungan akademis, sangat hati-hati dan ‘politically correct’ dalam hal yang menyangkut masalah ras dan gender,” ujar Zara yang waktu senggangnya diisi dengan liburan bersama keluarga atau menekuni hobi menanam bunga, merapikan taman, dan membuat kerajinan tangan. (Kabari1004)

Zara bersama keluarga kecilnya

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.