Batik Cafe & Lounge

Kabari - - DAFTAR ISI -

Bagi Anda penikmat kuliner, mencari ragam makanan yang enak merupakan hal yang wajib. Jika ingin menikmati makanan Jawa yang uenak ditambah dengan interior batik, pilihan tepat jika menyambangi Batik Cafe & Lounge pusat perbelanjaan Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan. Yuks cicipi ragam makanan yang mengugah selera.

Batik Cafe & Lounge berdiri sejak tahun 2014 oleh Abdul Latief. Mantan menteri ini sekaligus pemilik Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan. Sebelum bernama Batik Cafe & Lounge, hanya dinamakan Cafe Batik. Baru satu tahun belakangan namanya diubah. Cafe ini berlokasi di lantai 2 Pasaraya Blok M. Lokasi cafe berdekatan dengan produk-produk batik. “Cafe ini dibuat di lantai ini, bukan di food court karena harapannya orang yang belanja batik, kalau lelah bisa mampir ke sini,” cerita Patricia Veronica, Sales & Event Manager DapuRaya.

Sesuai namanya, cafe ini didominasi interior bernuansa batik. Hal ini karena pemilik Pasaraya Blok M, yakni Abdul Latief dan sang istri, Donna Latief sangat mencintai batik. “Kalau dilihat dari konsep interior yang sekarang itu kami banyak menggunakan sofa motif batik dominasi lebih kepada batik kawung dan batik mega mendung. Kemudian dari interior kalau dulu lebih kepada etnik Jawa, kalau sekarang lebih kepada modern etnik,” terang Patricia.

Interior batik memang menjadi kekuatan cafe ini. Alasan karena sejak berdirinya Pasaraya Blok M 23 tahun lalu, pusat perbelanjaan ini menonjol dengan produk batik dan handicraft asli Indonesia.

MENU

Karena interior sangat khas Indonesia, ragam menu yang ditawarkan adalah makanan dan camilan khas Jawa. Mulai dari Iga Bakar Rawon dari Madiun, Nasi Gudeg dari Yogyakarta, Sate Ayam Ponorogo, Nasi Goreng Rempah

dan masih banyak lagi. Sementara camilan yang tersedia, seperti Lumpia Semarang, Colenak, dan Tahu Brontak. Sedangkan minuman antara lain Bir Pletok dan Es Sereh. Ragam minuman, camilan dan makanan ini harganya terjangkau antara Rp 25 ribu – Rp 100 ribu/porsi.

Di antara berbagai menu, yang menjadi favorit adalah Nasi Goreng Rempah dan Tahu Brontak. “Khusus Nasi Goreng Rempah, unik aja rasanya. Jarang ada Nasi Goreng Rempah. Indonesia banget itu kan. Indonesia kaya dengan rempah. Jadi itu mewakili citarasa Indonesia banget. Gak seperti Nasi Goreng pada umumnya,” jelasnya. “Kalau Tahu Brontak, mungkin dari namanya sudah ear catchy, orang penasaran seperti apa,” sambungnya.

Pengunjung Batik Cafe & Lounge tidak hanya orang-orang yang sedang berbelanja di Pasaraya Blok M, para karyawan kantor yang pulang kerja suka mampir ke sini. “Di sini juga jadi tempat pertemuan seperti arisan keluarga,” ucap Patricia. (Kabari1008)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.