MUSISI LOKAL

Kabari - - COVER STORY -

Tak hanya musisi mancanegara yang di tunggu penampilannya di Java Jazz Festival, musisi dalam negeri juga ditunggu perform-nya. Sebut saja Iwan Fals. Pria bernama asli Virgiawan Listianto ini dalam ajang kali ini berkolaborasi dengan dua musisi jazz asal Amerika, yakni Maurice Brown dan Kirk Whalum.

Diawali dengan lagu hitsnya di era 80-an Yang Terlupakan, musisi legendaris ini menampilkan aransemen jazz yang mampu memukau dan membuat penonton berteriak histeris. Saat membawakan lagu Bento, kembali sontak teriakan histeris mewarnai panggung. Lantunan instrumen dari kedua musisi asal Negeri Paman Sam ini mampu memberikan warna pada musik jazz untuk lagu Bento dan Kuda Lumping.

Sementara musisi Indonesia lainnya yang turut mewarnai Java Jazz Festival adalah Glenn Fredly. Mantan suami Dewi Sandra berbicara tentang toleransi dalam keberagaman di panggung Java Jazz Festival. “Setiap kali saya menyanyikan lagu ini mereka berdansa, enggak lihat kiri dan kanan. Jadi kota yang tadinya rata karena perang antaragama sekarang kota itu jadi city of music. Kota itu namanya Ambon,” kata Glenn yang disambut tepuk tangan meriah penonton yang memenuhi BNI Stage Hall B3.

Glenn kemudian menceritakan kuatnya semangat toleransi di tengah masyarakat di ibukota Provinsi Maluku itu. “Jakarta, let me tell you kalian harus belajar dari Timur Indonesia,” ucap Glenn, merujuk maraknya isu SARA pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Ia mengulanginya dua kali sebelum mengajak penonton bergoyang dengan lagu “Rame Rame” “Hee... rame-rame // Mari katong badansa rame-rame // Hee... rame-rame // Badansa goyang badan manise,” Glenn menyanyi.

Penonton pun bergoyang bersama diiringi lagu berirama rancak tersebut. Suasana semakin hangat karena Glenn menyambungnya dengan lagu Rasa Sayange. Glenn menutup penampilannya dengan lagu Januari sambil memainkan keyboard. Ciamik bung!.

Jika Glenn bicara toleransi, penyanyi asal Aceh, Tompi membawa nuansa politik pemilihan kepada daerah DKI Jakarta di sela penampilannya dalam gelaran Java Jazz Festival 2017.

“Zaman sekarang Indonesia perlu orang sombong, tapi sombong yang bermartabat, bukan sombong yang berjanji manis,” kata Tompi.

Pernyataan tersebut otomatis menuai sorakan dari arah penonton. “Siapa pun yang menang mudahmudahan Indonesia, Jakarta lebih baik. Buat saya pribadi siapa pun boleh menang yang penting Jakarta lebih baik,” lanjutnya.

Tembang hitsnya Selalu Denganmu dan Sedari Dulu sebagai pembuka penampilan Tompi dan disambut riuh para penonton.

Pria berprofesi dokter ini selanjutnya membawakan potongan lagu baru berjudul Sandiwara. Katanya, lagu tersebut terinspirasi dari dua sahabatnya, Glenn Fredly dan Sandy Sandoro.

Tak berhenti di situ, saat intro lagu Bawa Daku dimainkan oleh band pengiring, namun selanjutnya penonton dikejutkan dengan sosok gitaris Incognito, Jean Paul “Bluey” Maunick. Tampilan Bluey disambut tepuk tangan penonton. Sesekali Bluey menunjukkan kemahirannya bermain gitar.

Tompi juga berkolaborasi dengan musisi jazz handal Nita Aartsen membawakan lagu Setengah Hati, alunan keyboard Nita mengalun merdu bersama suara Tompi.

Iwan Fals, Iwa K, Armand Maulana, Tompi.

Endah n Rhesa

Harvey Malaiholo

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.