Mingliarti Tjahjana Berjuang Mewujudkan Harapan

Jangan berkecil hati, dimana ada kemauan pasti ada jalan. Itulah yang membuat Mingliarti Tjahjana sukses menjadi salah satu dokter asli Indonesia di Amerika. Perjuangannya bukan hanya belajar lebih keras tapi juga berjuang menepis rasa rindu jauh dari kel

Kabari - - DAFTAR ISI - untuk SHARE Artikel ini klik www.Kabarinews.com/92711 Mingliarti Tjahjana, DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM

Wanita kelahiran Bandung ini datang ke Amerika, 19 tahun lalu bersama suami untuk menimba ilmu. 13 hari setelah mereka menikah. Saat itu suami diterima untuk program MBA di University of Maryland. Mingliarti pun merencanakan mengambil spesialisasi penyakit dalam. “Pada saat itu jalur untuk melanjutkan spesialisasi di Amerika belum banyak diketahui di Indonesia, maka kami putuskan untuk datang dulu ke Amerika, kemudian mencari jalan untuk melanjutkan sekolah,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Dalam bayangan Mingliarti, di Amerika semuanya adalah kota besar seperti Jakarta atau New York. Dan bayangan itu buyar saat datang dan bertempat tinggal di College Park, Maryland. Kota kecil itu merupakan kota pelajar yang kecil dan tenang. Tentunya berbeda dengan Bandung, tempat Mingliarti dan keluarga tinggal. Tahun pertama membuatnya sering rindu dengan keluarga di Indonesia. Tapi karena harapan mereka datang ke Amerika adalah mempelajari ilmu yang maju, memperluas wawasan serta mendapat pengalaman baru, maka ditepislah rasa rindu dan berjuang untuk mewujudkan harapan itu.

Wanita lulusan dari Fakultas Kedokteran di Universitas Padjajaran ini merasa sungguh beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung dan memberikan kepercayaan penuh dengan apapun yang dilakukan dan segala keputusannya. Kedua orangtuanya bergerak dalam bidang yang sama yaitu bidang kesehatan. Mereka adalah akupunturis yang sampai saat ini masih praktek di Bandung. Didikan dan dukungan orangtuanya juga yang membuat Mingliarti sejak kecil senang melakukan aktivitas bersama teman-teman. Menjadi panitia, menggalang acara atau sekadar rekreasi bersama.

“Waktu kecil, saya sering diajak orangtua untuk hiking dan pesiar melihat alam. Dari situ tumbuhlah kecintaan saya pada alam sekitar dan kebudayaan yang ada,” ujarnya.

Salah satu kegiatan yang paling mengesankan saat kecil adalah kegiatan Pramuka. Karena di situ diajarkan untuk selalu siap dalam menghadapi segala keadaan, baik yang menyenangkan atau yang menantang.

Karena itulah sampai sekarang pun saat liburan, wanita yang memiliki dua anak, Keenan (16) dan Darren (12), bersama suami sering pergi hiking, mengunjungi kota-kota yang cantik, tempat bersejarah, Science Museum serta ke tempat favorit mereka, National Park. “Tempat-tempat seperti itu sangat menginspirasi,” tukasnya. Kalau di rumah, bersama keluarga main board game, Wii (konsol permainan video) dan nonton film pendek. Kadang mereka juga pergi volunteer bersama.

Dokter yang bekerja di One Health Medical Care, Reston, Virginia ini mengatakan merasa senang sudah mencapai tahap tertentu, mendapatkan Board Certified untuk Internal Medicine & Obesity Medicine. Kepuasan lain adalah karena dapat menentukan standar yang ingin dicapai dalam pelayanan, menentukan tujuan serta membangun diri sendiri dan karyawan agar kompak dan dapat maju bersama. Karena itu tidak mudah. Ada tantangan dalam mengurus hal-hal yang berkaitan dengan administrasi, asuransi, karyawan dan yang lainnya. “Tahun lalu, saya juga merintis klinik di Reston yang selain mengobati penyakit, juga menekankan gaya hidup sehat dan pencegahannya,” kata Dokter yang berbicara empat bahasa, Indonesia, Inggris, Chinese/Mandarin dan Spanyol ini.

Bukan hal yang mudah menjadi seorang dokter asing di Amerika. Harus melewati ujian-ujian persamaan dan belajar penyakit yang agak berbeda dari penyakit di Indonesia. Rumah sakit yang mau menerima juga terbatas. “Sesudah lulus, kadang orang masih berpendapat bahwa orang asli Amerika lebih kompeten,” terangnya.

Menurutnya ada satu hal yang menarik, yaitu ada penelitian yang melihat bahwa ternyata pasien-pasien yang ditangani oleh dokter lulusan luar lebih rendah tingkat kematiannya dibandingkan dengan pasien-pasien yang ditangani oleh dokter lulusan Amerika sendiri. Jadi itu dapat diartikan semua dokter, baik dari luar maupun asli Amerika sendiri, memiliki kemampuan, keahlian dan kepintaran setara, tak perlu orang melihat dan membandingkan mana yang lebih kompeten.

Jadi itu dapat diartikan semua dokter, baik dari luar maupun asli Amerika sendiri, memiliki kemampuan, keahlian dan kepintaran setara, tak perlu orang melihat dan membandingkan mana yang lebih kompeten.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.