Sosok Kartini Menginspirasi Dian Sastro

Diandra Paramita Sastrowardoyo adalah nama lengkapnya. Publik lebih mengenal dengan nama Dian Sastro. Film Ada Apa dengan Cinta melambungkan namanya. Kini 13 film telah diperankan istri dari pengusaha Indraguna Sutowo ini. Yang teranyar, ia memerankan tok

Kabari - - DAFTAR ISI -

Nama Dian Sastro menjadi jaminan sebuah film. Beberapa film yang diperankannya melejit di pasaran. Setelah sukses dengan film Ada Apa dengan Cinta 2 di tahun 2016, tahun 2017, Dian terlibat dalam film biopik RA Kartini.

Meski telah membintangi ragam peran, Dian mengaku melakukan persiapan khusus dalam memerankan tokoh Kartini. “Ini film periodik pertama saya, sekaligus film biopik pertama juga buat saya. Kesempatan ini tidak mungkin datang dalam 20 atau 30 tahun. Jadi saya harus mempersiapkan sungguh-sungguh, lahir dan batin, untuk menjadi Kartini. Makanya, dari ketika menjalani casting pun, saya bertekad untuk membaca semua tulisan-tulisan Kartini yang sudah diterbitkan dan membaca semua referensi pustaka yang bisa saya dapatkan. Dan semakin dalam saya membaca tentang Kartini, melihat tempat tinggal Kartini, berdiskusi dengan orang-orang tentang Kartini, semakin saya merasa kagum terhadap beliau. Kenapa Kartini penting? Karena yang dia lawan adalah bagian dari dirinya sendiri, kekangan tradisi yang masuk dalam ruangruang paling domestik dalam hidupnya,” tutur Dian yang ditemui Kabari dalam press screening film Kartini di XXI Plasa Indonesia. tentang kekagumannya pada sosok Kartini.

OBSERVASI

Dalam film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini, Dian melakukan berbagai observasi dan membaca beragam buku tentang Kartini. Mulai dari karangan Pramoedya Ananta Toer hingga Joost Cote. “Banyak sejarah tentang Kartini itu didapatnya dari banyak buku,

“Saya rasa dari bajunya saja sudah sangat membatasi gerak kita sebgai manusia, mengurangi kebebasan. Dari bajunya, cara berinteraksinya, cara menatapnya, cara berbicara aja perempuan harus selalu nunduk dan nggak boleh ngeliat mata langsung bahkan seorang istri sama suami nggak boleh melihat mata langsung. Paling tinggi melihat dagu, bagaimana manusia segitu ekspresif kalau melihat mata saja nggak bisa.

yang menjadi sumber bacaan. Ada banyak tulisan yang dibuat sendiri oleh Kartini yaitu catatan Kartini sendiri yaitu surat-surat Kartini. Kita juga dapat satu buku Joost Cote itu lengkap banget. Saya juga baca buku Panggil Aku Kartini saja oleh Pramoedya Ananta. Jadi dari semua buku itu kita punya gambaran besar tentang sejarah Kartini,” terang ibu dari Syailendra Naryama Sastraguna Sutowo dan Ishana Ariandra Nariratana Sutowo.

Berperan sebagai perempuan Jawa, Dian yang pernah meraih penghargaan Pemeran Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 2004 ini merasakan bagaimana terbatasnya peran perempuan dalam adat Jawa kala itu yang membatasi segala ruang geraknya dalam berbagai hal. “Saya rasa dari bajunya saja sudah sangat membatasi gerak kita sebgai manusia, mengurangi kebebasan. Dari bajunya, cara berinteraksinya, cara menatapnya, cara berbicara aja perempuan harus selalu nunduk dan nggak boleh ngeliat mata langsung bahkan seorang istri sama suami nggak boleh melihat mata langsung. Paling tinggi melihat dagu, bagaimana manusia segitu ekspresif kalau melihat mata saja nggak bisa. Jadi memang sudah ada di posisi yang nggak boleh berekspersi dan nggak boleh diketahui perasaanya dan bahasanya selalu hirarkis, selalu mengakui kelebihtinggian orang yang diajak ngomong,” kata Dian.

“Yang saya rasakan itu adalah semua emosi yang saya bangun pada saat disampaikan di depan kamera itu tetap harus ditahan lagi karena adatnya memang tidak boleh ekspresif,” tambahnya.

Aktris 34 tahun ini juga membagikan pandangannya mengenai perayaan Hari Kartini yang diadakan setiap tanggal 21 April. Menurutnya dalam satu hari bangsa Indonesia diajak untuk melihat kembali dan memperingati gebrakan-gebrakan Kartini di zamannya.

Dian yang menyelesaikan studi S1 Jurusan Filsafat, Universitas Indonesia ini menilai di zaman modern ini sudah tidak ada lagi pemisahan kasta antara kaum ningrat dan kaum biasa. Kesetaraan gender semakin meningkat, terbukti dengan adanya presiden wanita.

“Kalau di zaman modern sekarang, Alhamdulilah kita bisa punya presiden perempuan, jadi banyak banget yang bisa kita capai.

untuk SHARE Artikel ini klik www.Kabarinews.com/92705

dok. Legacy Pictures

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.