Prof. DR. dr. Herkutanto, spF: Merawat Pancasila, Merawat Keberagaman

Kabari - - DAFTAR ISI -

Dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, ratusan dokter yang menamakan dirinya Dokter Bhinneka Tunggal Ika (DBTI) mendeklarasikan Petisi Kebangsaan.

Tujuh puluh dua tahun yang silam Pancasila lahir sebagai ideologi bangsa yang menerima keberagaman. DBTI menggagas sebuah gerakan moral dokter Indonesia sebagai bentuk untuk menjaga dan merawat Pancasila, menurut para dokter tersebut merawat Pancasila adalah merawat keberagaman, mereka mengaku keberagaman bukan sekedar bingkai pemersatu bangsa, namun lebih dari itu, keberagaman merupakan nilai kemanusiaan yang universal.

Kejadian polarisasi rasa kebangsaan yang cukup ekstrem dewasa ini ditambah dengan banyaknya gejolak yang terjadi di masyarakat yang berakibat lunturnya rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan demikian timbul gagasan di antara para dokter Indonesia dengan berkaca pada napak tilas peran para pendahulunya dalam kebangkitan bangsa tahun 1908 untuk membuat suatu gerakan moral meneguhkan kembali kecintaan kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu anggota DBTI yang turut serta dalam gerakan tersebut, Prof. DR. dr. Herkutanto, sp.F(K)

dari Jakarta menjelaskan bagaimana memaknai arti kebangsaan, “Bagaimana kita menghayati, memahami dan mengimplementasikan segala perilaku kita dalam keseharian kita, bahwa kita ini adalah bagian dari suatu komunitas di tanah air yang namanya Indonesia,” jelas Prof. Dr. dr. Herkutanto saat ditemui Kabari disela acara Deklarasi Petisi Kebangsaan, di gedung Stovia, Jakarta Pusat.

Melihat praktek kebangsaan pada saat ini, lebih lanjut ia menambahkan, “Mendapatkan banyak tantangan, berbagai macam pengaruh global masuk dan tantangan-tantangan itulah yang akan kemudian merasuk dan mencoba untuk memorak-porandakan rasa nilai-nilai, sendi-sendi kebangsaan kita, dan dalam hal ini kita mempunyai suatu akar bahwa kita ini banyak suku, agama, ras dan golongan, dari sisi-sisi itulah bisa dimasuki dan mendapat tantangan banyak,” imbuhnya.

Namun demikian sejarah juga membuktikan kita mampu melewati tantangan itu, dengan gerakan-gerakan semacam inilah pada saat-saat yang kritis maka satuan dan kesatuan Indonesia akan tetap terikat menjadi satu hak yang utuh.

Menurut Dokter Ahli Forensik ini, terjadinya distorsi dalam praktek kebangsaan adalah berdasarkan pada kenyataan sosial yang accident, “Apa yang terjadi di jalanan, apa yang terjadi di dalam pemerintahan, khususnya dalam pilkada, di dalam pilpres dan seterusnya dan juga di dalam media sosial, baik yang benar maupun tidak benar, maka kita akan menilai pada saat ini mendapatkan satu tantangan, belum terjadi distorsi artinya adalah satu ancaman untuk menjadikan suatu distorsi”, terangnya.

Dengan demikian, hal yang harus dilakukan agar kebangsaan menjadi membumi adalah mengingatkan kembali, “Apa alasan kita, bangsa yang dua ratus lima puluh enam juta ini tadi kok berkumpul, hal-hal itu yang akan diingatkan kembali dan kembali lagi pada gerakangerakkan yang mengingatkan kita tetap bersatu maka itu akan tetap sangat dihargai,” ungkap Prof. DR. dr. Herkutanto.

Baginya, arti Pancasila adalah suatu sumber yang akan digunakan untuk membentuk berbagai macam norma segala macam permasalahan dan perbedaan serta kemungkinan konflik akan bisa diatasi dengan normanorma yang ada di Indonesia.

untuk SHARE Video atau Artikel ini klik www.Kabarinews.com/93640

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.