Mengenal Lebih Dekat Happy Djarot

Kabari - - DAFTAR ISI -

Supel, ramah dan keibuan, inilah sosok yang tergambar dari Dra. Hj. Happy Farida, istri dari Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat. Seperti kita tahu, Djarot telah dilantik pada 15 Juni 2017 menggantikan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga akhir Oktober mendatang.

Happy Djarot, begitu sekarang ia akrab disapa. Sebagai seorang istri, Happy merasa wajib mendampingi sang suami, meski tak dipungkirinya banyak kegiatan yang menyita waktu. “Secara tugas, sekarang memang harus di-handle oleh bapak, tentu ini menjadi berbeda, dari segi waktu sekarang lebih banyak, sebenarnya dari dulu sih Bapak mendampingi Pak Basuki juga waktunya sangat banyak untuk melayani warga masyarakat,” ungkap Happy saat wawancara dengan Kabari di rumah dinas gubernur DKI, Jakarta.

Lebih lanjut ia mengatakan, “Sekarang bedanya Bapak sendiri tentu secara otomatis dengan ritme waktunya sangat padat dibanding yang dulu. Kalau yang dulu kan bisa dibagi-bagi tugas antara Pak Basuki dengan Pak Djarot, jadi semua di-handle oleh bapak sendiri, tentu lebih banyak menyita waktu di dalam melayani warga masyarakat DKI,” tutur Happy.

Tugas utama gubernur adalah melayani, dimana kepentingan warga DKI didahulukan dengan harapan segala permasalahan dapat teratasi dengan cepat. Meski hanya untuk beberapa bulan ke depan saja, sebelum pelantikan gubernur terpilih, Happy berharap semua agenda yang sudah diprogramkan berjalan lancar. Di sinilah peran istri cukup penting,

Tak hanya romantis, baginya Djarot mer memilki banyak ide. “Kadang-kadang kalau yang original, dan beliau juga pekerja k

karena itu ia selalu memberi dukungan pada suaminya.

Tak hanya Djarot yang berjibaku merampungkan agenda kerja, Happy pun disibukkan dengan berbagai kegiatan, di antaranya program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK yang juga menjabat Ketua Dekranasda (Dewan Kesenian Daerah) ia punya kewajiban untuk menyelesaikan program PKK dan Dekrnasda sebelum masa jabatan selesai. Dan sebenarnya, tugas ini bukanlah hal baru bagi Happy, karena sebelumnya program sudah berjalan sejak ia berdampingan dengan Veronica Tan untuk merealisasikan visi misi memberdayakan perempuan.

“Keluarga-keluarga yang ada di DKI ini supaya sejahtera semuanya, sebenarnya program PKK ini kan sudah berjalan, dekranasda juga sudah berjalan yang mana sekarang menjadi tugas saya bahwa apa yang sudah menjadi visi dan misi bagi tahun 2012 waktu itu, ini harus bisa terselesaikan secara maksimal sampa akhir oktober 2017,” jelas ibu tiga putri itu.

Selain menjalankan program pokok PKK, DKI Jakarta juga memiliki RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) program yang diciptakan Ahok saat kepemimpinannya. RPTRA merupakan implementasi dari 10 program pokok PKK. Sedikit Happy menjelaskan apa itu RPTRA, karena itu ia mengajak keluarga DKI yang ingin tahu kegiatan PKK bisa datang ke RPTRA, dimana tempat ramah anak ini dilengkapi dengan fasilitas sesuai dengan kebutuhan program PKK serta kebutuhan warga masyarakat. “Misalnya anak-anak kita juga harus diberi fasilitas berolahraga, supaya anak-anak kita ini tidak menjadi anak-anak yang asyik hanya dengan gadget, tetapi mereka juga harus beraktivitas, bersosialisasi dengan warga sekitar,” terang wanita berusia 48 tahun itu.

Dalam sebuah keluarga menanamkan pendidikan sangatlah penting, hal ini pun ia terapkan kepada tiga buah hatinya, yakni mendidik cara bersosialisasi di lingkungannya. Happy bercerita saat anak-

“Karena dari ibu lah nantinya yang akan mencetak generasigenerasi yang hebat, generasigenerasi yang berkualitas, saya inginnya sih, perempuan-perempuan Jakarta bisa melakukan itu”

anak usia masih kecil, ia memberikan pendidikan karakter seperti mengajarkan kepedulian terhadap sesama.

“Pendidikan yang waktu itu kami berikan ke anakanak pada waktu tinggal di Blitar, Bapak sebagai Wali Kota Blitar selama 10 tahun, anak-anak kami waktu SD, mereka kami masukkan di sekolah negeri, dengan alasan bahwa kalau sekolah di sekolah negeri, anak-anak ini bisa bergaul dengan banyak teman dengan berbeda latar belakang, ada yang dari anak-anak pejabat, ada yang dari anak-anak pengusaha ataupun dari warga masyarakat yang tidak mampu,” ungkap Happy.

Meski sebagai anak wali kota dilengkapi dengan berbagai fasilitas di rumah, namun saat itu ia berpikir bagaimana mendidik anak-anak untuk bisa melihat keberagaman, karena itu ia dan suami ingin anakanaknya mengenyam pendidikan di sekolah negeri. Dengan harapan anak-anaknya bisa melihat kondisi yang berbeda latar belakang. “Ini yang kita harapkan supaya mereka nanti tumbuh dewasa menjadi anak-anak yang mempunyai empati, mempunyai kepedulian dengan semuanya, dan menghormati satu sama lain,” kata Happy.

Seiring berjalannya waktu hingga anak-anak tumbuh dewasa, ia bersyukur, kini mereka (ketiga anaknya) sudah memahami kesibukan kedua orang tuanya, bahkan mereka juga sudah bergaul dengan banyak kalangan, menerima keberagaman, perbedaan, “Mereka menerima itu, karena itu semua sudah kami lakukan, sudah kami perkenalkan dengan anak-anak sedari kecil” imbuh Happy.

Romantisme Happy & Djarot

Pada kesempatan ini juga, Happy bercerita sedikit tentang bagaimana awal dirinya mengenal dan dekat dengan Djarot. Keduanya dipertemukan di sebuah kampus di Jawa Timur. Saat itu Happy masih berstatus mahasiswi, sementara Djarot menjabat sebagai Dekan di Universitas 17 Agustus, Surabaya. Setelah pertemuan tersebut mereka berpisah karena kesibukan masingmasing. Namun takdir berkata lain, meski sudah berpisah bertahun-tahun, akhirnya mereka bertemu kembali dan sepakat untuk membangun bahtera rumah tangga pada tahun 1999. Dari pernikahannya Happy dan Djarot dikaruniai tiga putri yakni Safira Prameswari, Karunia Dwi Hapsa, Meisya Rizky Berliana.

Bagi Happy, Djarot adalah suami romantis yang selalu bisa membuat dirinya nyaman meski tidak harus menyampaikan perasaannya melalui bunga atau makan malam romantis di restoran mewah. “Bapak romantis. Setiap orang melihat sisi romantis kan berbeda, mungkin ada sebagian melihat pria romantis itu dengan memberi bunga, tapi kalau saya melihat sisi romantis Bapak itu berbeda. Ketika Bapak ingin berduaan, biasanya mengajak ke warung-warung pinggir jalan,” ungkapnya. Inilah yang tidak bisa terlepas dari beliau, sambung Happy. “Karena makan di warung, di kaki lima, kita bisa berinteraksi dengan banyak orang. Nah ini yang tidak bisa terlepas dari Bapak, bahwa ia ingin berkomunikasi, berinteraksi dengan warga”.

‘Pak Djarot orang yang sabar dan penuh ide’

Tak hanya romantis, baginya Djarot merupakan sosok yang sabar dan memilki banyak ide. “Kadang-kadang kalau kita berdiskusi, muncul ide-ide yang original, dan beliau juga pekerja keras,” terang Happy. Lebih lanjut ia berkata, bahwa suaminya juga termasuk orang yang tidak tega dengan orang yang mengalami kesulitan dan kesusahan.

Happy dengan sang suami Djarot Saiful Hidayat

untuk SHARE Video atau Artikel ini klik www.Kabarinews.com/93634

Happy bersama suami dan 3 anaknya

Mendampingi suami dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.