Dorong Kemajuan Pendidikan Indonesia, Najelaa Shihab Ciptakan Aneka Inisiatif

Ciptakan Aneka Inisiatif

Kabari - - DAFTAR ISI -

Dua puluh tahun berkontribusi dalam dunia pendidikan, Najelaa Shihab menggagas dan menciptakan beraneka inisiatif demi mendorong pendidikan di Indonesia

Mencintai pendidikan sedari kecil hingga kini waktu dan ilmunya didedikasikan untuk kemajuan dunia pendidikan. Selama dua puluh tahun ia berkontribusi pada dunia pendidikan, bahkan perempuan ini telah mendirikan sekolah bertaraf internasional serta menggagas beraneka inisiatif untuk mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia.

Perempuan kelahiran 1976 ini juga mengaku bahwa cita-citanya mengabdi pada dunia pendidikan turut dibentuk oleh lingkungan keluarga. Terlahir sebagai putri sulung cendekia muslim, Quraish Shihab, membuat Najelaa bisa mendapat teladan langsung dari figur pendidik.

Wanita pemilik nama lengkap Najelaa Shihab, merupakan pegiat pendidikan yang dari kecil memiliki cita– cita menjadi guru, “Jadi dari awal pada saat membayangkan karir memang terbayang bahwa dunia pendidikan ini, dunia yang bisa memberikan manfaat untuk banyak orang,” tutur Najelaa saat wawancara bersama Kabari di kediamannya, di kawasan Jakarta Selatan. “Sejak kecil, kalau kata temen-temen saya, saya selalu kepengin jadi guru,” imbuhnya.

Berkelana memperjuangkan pendidikan hingga menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Psikologi

Universitas Indonesia, ia pun mendirikan sekolah Cikal serta menggagas terbentuknya ‘pesta pendidikan’.

Sejak sekolah, perempuan yang akrab disapa Elaa ini selalu berprestasi dengan nilai bagus dan membanggakan, bahkan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri saja tidak perlu mengikuti tes. Meski demikian, Elaa justru memiliki kegelisahan, bagi dirinya sistem pendidikan yang digunakan di Indonesia sebenarnya sistem pendidikan yang kadang kala kesuksesannya tidak berkaitan dengan kesuksesan yang sesungguhnya. “Kadang-kadang tidak melibatkan anak, apa yang dipelajari tidak relevan, jadi memang punya banyak kegemasan di dunia pendidikan dan ingin melakukan perubahan sejak dulu,” ujarnya penuh semangat.

Saking menyukai dunia pendidikan anak, ia pun sampai malang maelintang mendirikan situs inibudi.org yakni sebuah media belajar digital yang pas untuk mendampingi proses belajar anak.

Elaa memaparkan bagimana menjalankan pendidikan non formal yang ia ciptakan, “Kalau berbicara pendidikan memang kita tidak bisa hanya bicara pendidikan formal, karena kalau anak kita tumbuh dengan utuh maka semua yang ada di lingkungan harus terlibat,” paparnya.

Karena menurutnya, perubahan dunia pendidikan dan inisiatif sangatlah penting untuk kemajuan anak yang tidak mengenyam pendidikan formal ataupun anak putus sekolah. “Memang ada beberapa inisiatif, saya fokusnya bukan ke sekolah formal, sejak awal inibudi.org itu membuat video-video pelajaran yang dilakukan oleh guruguru dengan sukarela, guru berbudi tapi penggunaannya bukan hanya di sekolah-sekolah formal,” ujar Najelaa.

Ela memaparkan, dalam situs inibudi.org memberikan manfaat bagi masyarakat. “Banyak juga digunakan di rumah oleh muridmurid home schooling digunakan oleh orang-orang yang putus sekolah dan kemudian ikut kejar paket berbagai bentuk pendidikan non formal dan seterusnya,” kata Elaa.

Lebih lanjut ia menjelaskan mengenai akses pendidikan, “Akses pendidikan tidak semua anak Indonesia itu bisa masuk ke pendidikan formal dalam bentuk sekolah, sehingga pada saat bicara tentang perubahan pendidikan dan membuat inisiatif memang ada beberapa inisiatif saya yang fokusnya bukan ke sekolah formal, sejak awal inibudi.org itu membuat video-video pelajaran yang dilakukan oleh guruguru dengan sukarela guru berbudi,” ujar Elaa

Sebagai penggerak perubahan serta penggagas ‘pesta pendidikan’ Elaa ingin menciptakan banyak kolaborasi. Apa itu pesta pendidikan? pesta pendidikan merupakan inisiasi yang tujuannya menciptakan lebih banyak kolaborasi antara pemangku kepentingan pendidikan. Meurutnya, perubahan pendidikan itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh salah satu pihak sendirian. Pemerintah dalam hal ini memiliki kemampuan, namun di sisi lain punya banyak keterbatasan baik pemerintah pusat atau daerah. Misalnya, para guru memiliki banyak kompetensi namun di sisi lain Elaa menilai harus lebih banyak ditingkatkan, begitu pun dengan orang tua.

Dengan demikian, sektor yang bergerak di bidang korporasi atau bisnis juga sebetulnya bisa banyak berkontribusi di pendidikan, komunitas dan organisasi pendidikan sudah sangat banyak yang melakukan berbagai inisiatif keren, namun menurut Elaa lebih banyak yang kerja sendirian, “Nah, pesta pendidikan ini sebagai simpul kolaborasi yang membuat pemangku kepentingan dari berbagai bidang itu bisa bekerja sama,” katanya.

Yang harus dilakukan untuk program ‘pesta pendidikan’ adalah janji publik yang secara bersama-sama melakukan perubahan pendidikan serta mendukung berbagai inisiatif pendidikan yang sudah terbukti berhasil. Di mulai dari skala kecil kemudian bisa ditingkatkan ke skala yang lebih besar sehingga dampak dirasakan semua pihak, dan tidak hanya menyasar ke daerah, sekolah, atau komunitas tertentu. Karena jika program ini dijalankan dengan sistem yang benar akan memberikan dampak pada daerah yang lebih besar, seluruh anak-anak bahkan para pendidik yang terlibat dalam masalah pendidikan Indonesia.

Suka Duka

Sebagai seorang pegiat pendidikan tentu menemukan banyak kendala, tapi memang dasarnya ia sangat mencintai pendidikan terkadang kesulitan pun tidak dirasakannya, dan menilai permasalahan sebagai hal positif yang mendorongnya ke arah yang lebih baik lagi. ”Alhamdulillah sukanya jauh lebih banyak dari pada dukanya, kalau ngga mungkin saya tahan 20 tahun ngerjain ini (pegiat pendidikan, red), dan mungkin sampai 30 tahun berikutnya masih akan bekerja di maraton pendidikan ini,” katanya optimis.

Najelaa bercerita, ada hal yang paling membuat dirinya senang adalah

ketika bisa melihat perkembangan dan progres setiap hari dari hal yang terkecil sekalipun. “Saya selalu merasa sangat beruntung karena bisa melihat perkembangan anak-anak dari mulai yang betul-betul sangat kecil, dari awal sampai mereka lulus SMA, kemudian kita juga ada interaksi dengan anak-anak SMA yang kemudian menjadi calon guru,” ungkapnya.

Sebagai jiwa pendidik sejati, bahagia lainnya yang dirasakannya yakni saat mendapatkan kesempatan dan pengalaman untuk belajar hal baru. Namun tak menutup kemungkinan hampir setiap guru juga mendapati duka, “Sebetulnya sama dengan banyak pendidik, di antara kita yang merasa kadang kala perubahan yang dilakukan itu berarti, tapi masih sangat kecil dibandingkan dengan masalah dalam pendidikan Indonesia yang sebetulnya itu luar biasa,” terang Elaa.

Lebih lanjut ia memaparkan duka yang setiap kali jadi kendala namun sekaligus menjadi penyemangatnya untuk mencapai yang dicitacitakannya, “Saya sering bilang adanya sekarang di tingkat gawat darurat. Kenapa? Karena perubahan dunia begitu cepat sementara perubahan dalam sektor pendidikan kita itu masih sangat sedikit, jadi gap atau kesenjangan yaitu menjadi semakin lebar dan itu kadangkadang jadi duka,” tambahnya.

Bekerja dengan berbagai pihak juga memberikan perspektif yang lengkap bahwa pendidikan itu sebenernya kompleks. Namun, dirinya merasa beruntung bisa mendapat kesempatan untuk melihatnya dari sudut studi kebijakan, dari sudut guru atau pendidik, dari sudut orang tua, bahkan penggunaan teknologi.

Tak ada kata putus asa maupun menyerah, Elaa akan terus berjuang mengatasi setiap tantangan yang berfokus pada berbagai program kecil, merayakan berbagai praktek baik dalam skala kecil dan terus mengajak sebanyak mungkin orang untuk bekerjasama sehingga dampak yang semula kecil ini semakin menjadi besar.

Pencapaian dalam meraih mimpinya menjadi seorang pendidik, Elaa mengatakan bahwa ini tidak salah pilih menjadi pendidik, baginya cita-citanya sejak kecil sudah tercapai. Namun untuk berjuang lebih lanjut mengenai kemajuan pendidikan di Indonesia, ia belum mendapatkan hasil yang dicapai.

“Kan ini perjalanan yang panjang, dan Insya Allah kita semua masih akan kerja barengan, jadi saya sangat bersemangat sih melihat

perubahan-perubahan yang akan muncul kemudian dan mudahmudahan kita bisa mencapai citacita bersama,” ungkapnya optimis.

Berharap Indonesia maju dengan pendidikannya, Elaa berfokus pada tiga hal, yakni Akses, Kualitas, Kesetaraan. Ia menilai, untuk Akses sudah cukup banyak seperti bantuan dana beasiswa misalnya. Namun, menurutnya masih banyak masalah lain seperti sulitnya perjalanan ke sekolah atau tingkat drop out yang masih tinggi, dengan demikian, Najelaa berharap, mungkin untuk beberapa tahun ke depan bisa teratasi, sehingga dengan nyata kenyataannya tidak ada hambatan buat anak Indonesia dimana pun untuk bisa mendapatkan pendidikan. “Yang tidak selalu berarti pendidikan di sekolah formal tetapi bisa juga di dalam berbagai bentuk non formal atau pendidikan masyarakat,” katanya.

Selain itu, harapan kedua mengenai percepatan peningkatan kualitas, karena peningkatan saja dinilainya tidak cukup, karena kesenjangannya sudah begitu jauh, oleh karena itu harus lebih cepat peningkatan kualitasnya, misalnya seperti literasi, masih banyak anak yang belum bisa baca, masih banyak anak yang sudah bisa baca namun tidak bisa berpikir kritis, masih banyak berbagai bidang ilmu pengetahuan yang tingkat pemahaman anak-anak kita ini perlu ditingkatkan.

Dengan demikian, ia berharap kualitas pendidikan Indonesia bisa meningkat dengan cepat dan diawali dengan kualitas guru yang terus meningkat, karena itu adalah hulu dari peningkatan kualitas. Dan untuk harapan yang ketiga adalah mengatasi masalah kesenjangan di Indonesia, “Untuk mengatasi hal ini adalah butuh kerjasama yang sangat intens antara berbagai pihak,” ujar Elaa

Dalam hal ini, secara keseluruhan, Elaa berharap akan pendidikan yang merata di seluruh pelososk nusantara, “Semoga jika pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas dan organisasi pendidikan, hingga orang tua, murid, guru di semua daerah kita bekerja barengan, pada akhirnya kita tidak melihat hanya sebagian daerah yang maju, atau satu, dua, berapa puluh sekolah yang bagus, atau sekian murid yang berhasil meraih prestasi di olimpiade, tapi semakin banyak anak Indonesia yang sebetulnya mendapat pendidikan yang merata baik dari sudut akses maupun kualitasnya,” pungkasnya. (Kabari1008)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.