Mengintip Keseruan Anak-anak Penyandang Tunanetra Rayakan Hari Kemerdekaan RI

RAYAKAN HARI KEMERDEKAAN RI

Kabari - - DAFTAR ISI -

Ada berbagai cara untuk tetap mencintai Indonesia, walaupun dalam kondisi keterbatasan. Cacat fisik tidak menjadi halangan untuk berpartisipasi merayakan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun.

Beberapa waktu yang lalu, sebanyak 36 anak-anak penyandang tunanetra yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Anak-Anak Buta (YPAB) Sukolilo, Surabaya turut serta memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia dengan cara yang sederhana. Meski menggunakan alat bantu (tongkat) semua anak nampak bergembira dan semangat mengikuti lomba 17an. Di samping untuk memeriahkan HUT Republik Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 17 Agustus, acara ini juga bertujuan untuk memupuk kecintaan mereka terhadap bangsa dan negara.

“Untuk jenis lomba tahun ini, ada makan kerupuk, meletuskan balon, memindahkan belut, orientasinya memakai tongkat, dan joget,” Kata Eko Purwanto, Kepala Sekolah YPAB.

Keceriaan nampak jelas di wajah mereka, dengan penuh semangat semua siswa mengikuti lomba memindahkan belut. Belut yang licin berusaha ditangkap untuk dipindahkan ke ember satunya. “Hii.. geli. Ayo mana embernya,” celetuk Charisa.

Siswi kelas 9 YPAB yang sejak lahir mengalami kebutaan ini, terus berusaha menangkap belut yang

jatuh ke lantai. “Senang banget sih, tapi geli pas waktu di tanah (lantai-red) tadi. Sulit Charisa merabaraba terus untuk ngambil,” kata Charisa. Kemeriahan bertambah saat sesi lomba makan kerupuk. Gelak tawa pun terdengar saat pemandu acara memberi tahu kerupuk yang dimakan salah satu peserta terjatuh.

Suasana hidup dengan tawa dan celotehan anak-anak, mereka semua bergembira dan mengikuti perlombaan hingga tuntas. Seperti yang dilakukan Rene, siswa kelas 8 YPAB yang terus ingin menyelesaikan perlombaan. Ia sadar dengan kondisi yang dialaminya. Namun baginya, itu tidak seberat yang dilakukan para pejuang untuk merebut kemerdekaan.

“Arti kemerdekaan ya terbebas dari penjajahan. Dan sebagai seorang pelajar saya harus semangat,” ujar Rene.

Tiba saatnya memasuki lomba memindahkan air. Di sesi ini, gelak tawa kembali menggelegar ketika siswa-siswa yang terbagi dalam 4 kelompok mencoba memindahkan air secara estafet menggunakan gelas plastik yang telah dilubangi. Tak pelak mereka pun harus basah-basahan karena terlalu lama mengoper gelas plastik berisi air di atas kepala ke temannya. Ada pula airnya habis sebelum sempat mengoper ke teman timnya. Inilah potret kegembiraan anak-anak tuna netra, meski dengan keterbatasan mereka tetap semangat untuk jadi pemenang.

Momen ini sangat dinantikan Eko setiap tahun, hari dimana ia bisa menyaksikan anakanak bergembira, tertawa lepas dan percaya diri. Ia ingin semua anak didiknya tumbuh mandiri, karena itu ia menerapkan konsep keseharian mandiri, jadi setelah diantar orang tua atau pendamping, anak-anak tidak lagi ditunggu atau diladeni. “Kalau sudah di sekolah mereka harus dilepas, harus diusahakan mandiri. Dengan latihan semacam ini, ADL-nya akan lebih bagus lagi,” terang Eko.

Ia pun berharap, perlombaan yang digelar setiap tahun ini jadi penyemangat bagi anak didiknya untuk percaya bahwa mereka punya kemampuan, terlebih bisa melayani diri sendiri. Karena ia merasa, anak-anak penyandang tuna netra masih sering dibantu oleh orang tua mereka. (Kabari 1003)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.