MER­MAID DI ASIA

Scuba Diver Australasia + Ocean Planet - - Feature: Mermaid -

Figur air ini juga muncul di leg­enda dan mi­tologi Asia, terkadang digam­barkan mirip den­gan mer­maid Barat, tetapi ser­ingkali digam­barkan se­ba­gai sesosok mon­ster den­gan fisik yang tidak lazim.

JEPANG

Mer­maid di Jepang digam­barkan se­ba­gai seten­gah-manu­sia seten­gahikan yang di­pang­gil ningyo, dan cerit­era terke­nal adalah ten­tang Ama­bie dan Yao Bikui. Ke­dua ini adalah makhluk yang memi­liki karak­ter­is­tik makhluk air dan manu­sia meskipun ben­tuknya berbeda dari mer­maid Barat: Mereka memi­liki jari-je­mari yang pan­jang, cakar yang ta­jam, sisik emas yang bersi­nar, kepala berben­tuk aneh, tan­duk, dan gigi yang menon­jol. Mereka juga berpe­nampi­lan seperti se­tan, jauh dari bayan­gan mer­maid yang meng­goda. Air mata mereka berubah menjadi mu­tiara dan dag­ing mereka, ketika di­makan, men­jadikan si pe­makan awet muda. Satu fi­tur yang mem­buat mereka mirip den­gan mer­maid Barat adalah suara mereka yang in­dah. Seir­ing den­gan ber­jalan­nya waktu, terutama sete­lah akhir abad ke-19, kata ningyo berkono­tasi sama den­gan kata mer­maid di Barat: cantik dan meng­goda –ini adalah se­ba­gian ak­i­bat dari kisah-kisah mer­maid yang dicer­i­takan oleh pelaut Barat yang berla­yar ke Jepang. Di abad ke-19, ribuan orang, terutama di Amerika Serikat dan Ing­gris, men­gun­jungi acara mauneh un­tuk meli­hat tengko­rak dan mumi yang diper­caya se­ba­gai sisa-sisa mer­maid asli. Be­ber­apa dike­nal se­ba­gai “mer­maid Jepang” karena dikatakan bahwa mereka di­tangkap di Jepang oleh pelaut yang mem­bawa para makhluk ini kembali ke Barat. Sete­lah pub­likasi The Lit­tle Mer­maid di tahun 1837 oleh Hans Chris­tian An­der­sen, ide ten­tang pen­gantin mer­maid menjadi be­gitu laku, tetapi yang mereka li­hat bukan­nya mer­maid yang cantik melainkan makhluk den­gan bagian bawah ikan dan kepala serta tubuh monyet. “Mer­maid bu­atan tan­gan” ini dibuat be­gitu baik sam­pai tidak mungkin mende­teksi bagian mana yang di­jahit. Bangsa Jepang pun menjadi terke­nal se­ba­gai ahli mem­buat mer­maid palsu. Mer­maid palsu yang pal­ing terke­nal adalah “Mer­maid Fiji”, yang dik­laim di­tangkap di sek­i­tar kepu­lauan Fiji di Pasi­fik Se­la­tan, tetapi mungkin dibuat oleh nelayan Jepang sek­i­tar tahun 1810.

IN­DIA

Dalam bu­daya In­dia, ada Mat­sya yang meru­pakan avatar ikan dewa Wisnu dalam mi­tologi Hindu. Terkadang Mat­sya digam­barkan memi­liki bagian atas se­o­rang pria dan bagian bawah seekor ikan. Na­mun, ser­ingkali Wisnu digam­barkan keluar dari mu­lut ikan. Mat­sya bukan makhluk am­fibi seperti Naga, makhluk antropo­mor­fik seten­gah­manu­sia seten­gah-ular, yang digam­barkan dalam leg­enda dan mitos dari In­dia dan Asia teng­gara se­ba­gai roh air. Naga adalah ular yang menghuni sun­gai dan ko­lam yang bisa berubah ben­tuk se­maunya. Terkadang naga digam­barkan se­ba­gai se­tan, tetapi Naga betina, yaitu Nagini, digam­barkan se­ba­gai wanita sen­sual, yang di­a­sosi­asikan den­gan badan sun­gai, ke­sub­u­ran, dan per­lin­dun­gan, yang memi­liki peran serupa seperti mer­maid di bu­daya Barat.

TIONGKOK

Mer­maid dise­but dalam be­ber­apa karya Tionghoa, seperti Shan Hai Jing, se­buah kom­pi­lasi ge­ografi dan mi­tologi Tiongkok dari abad ke-4 SM yang menye­but mer­maid se­ba­gai ling yu atau ren yu. Buku ini juga menye­butkan je­nis-je­nis mer­maid lain­nya, seperti chi ru, di ren dan hu ren. Me­nariknya lagi, be­ber­apa mer­maid ini memi­liki em­pat kaki dan bisa mengeluarkan suara seperti tangisan bayi, dan yang lain bisa bangkit dari ke­ma­tian.

Sou Shen Ji, se­buah buku yang di­t­ulis se­masa Di­nasti Ming (13681644), meny­atakan bahwa mer­maid hidup di Laut Cina Se­la­tan. Para mer­maid ini di­pang­gil jiao ren dan meru­pakan para wanita yang sangat li­hai dalam mem­buat baju yang tidak per­nah basah. Mer­maid hermaprodit den­gan kulit berwarna hi­tam, be­ram­but kun­ing, bermata manu­sia, tan­gan dan kaki berse­la­put, serta memi­liki sayap berwarna merah dise­but di dalam buku Hai Cuo Tu yang di­t­ulis oleh ahli bi­ologi Nie Huang dari Di­nasti Qing (1644-1911).

Mirip den­gan ningyo dari Jepang, mer­maid Tionghoa terke­nal atas air matanya yang berubah menjadi mu­tiara. Karena in­i­lah dalam lit­er­atur mer­maid ser­ingkali digam­barkan se­ba­gai figur ke­sepian yang men­gor­bankan dirinya bagi cinta.

MALAYSIA

Dalam mi­tologi Malaysia, mer­maid dike­nal se­ba­gai duyung yang be­rarti “Wanita Lau­tan”, yang menjadi asal muasal nama dugong. Dugong adalah ma­malia laut dari ke­tu­runan Sire­nia yang hidup di daerah In­doPasi­fik bagian barat. Gam­bar-gam­bar dugong, yang diperki­rakan dibuat sek­i­tar 2,000 hingga 5,000 tahun yang lalu, dig­oreskan di dalam Gua Tam­bum di Ipoh. Be­ber­apa orang men­gatakan bahwa dugong adalah in­spi­rasi don­geng ten­tang siren dan mer­maid dari para pelaut karena alasan bu­daya serta karak­ter­is­tik fisik yang sama: Mereka memi­liki tubuh fusiform yang serupa dan tidak memi­liki sirip pung­gung, yang mem­buat mu­dah bagi orang un­tuk meli­hat dugong se­ba­gai mer­maid dari ke­jauhan.

IN­DONE­SIA

Mer­maid In­done­sia dise­but se­ba­gai pu­tri duyung. In­done­sia memi­liki keper­cayaan yang kuat dalam leg­enda ten­tang keku­atan penyem­buh dari air mata pu­tri duyung, dan bahkan telah mem­buat minyak pu­tri duyung yang di­ang­gap bisa mem­buat orang jatuh cinta. Karena air mata pu­tri duyung tidak bisa di­da­pat se­cara alami, yang di­lakukan adalah mengam­bil air mata dugong dalam kon­disi khusus dan rit­ual khusus demi pem­bu­atan minyak yang terke­nal ini.

THAI­LAND

Dalam Ra­mayana, se­buah karya lit­er­atur In­dia yang sangat dipuji, versi Thai­land kita bisa men­e­mukan Su­van­na­mac­cha, “Si Mer­maid Emas”. Su­van­na­mac­cha, se­o­rang tuan pu­tri mer­maid dan anak dari Tosakanth, jatuh cinta den­gan Hanu­man, salah satu karak­ter utama dalam berba­gai versi epik kuno ini. Su­van­na­mac­cha men­coba meng­ga­galkan ren­cana Hanu­man un­tuk mem­ban­gun jem­batan dari In­dia ke Sri Lanka un­tuk menye­la­matkan Sita, figur utama lain­nya dalam kisah ini. Alih-alih, Su­van­na­mac­cha pun jatuh cinta den­gan Hanu­man. Su­van­na­mac­cha adalah figur pop­u­lar dalam kisah rakyat Thai­land, den­gan patungnya didirikan di dalam rumah dan toko un­tuk ke­berun­tun­gan. Karak­ternya pal­ing mungkin terin­spi­rasi oleh Sun­thorn Phu, se­o­rang pu­jangga Thai­land yang men­cip­takan “Mer­maid Emas” lain un­tuk bukunya Phra Aphai Mani, yang pop­u­lar di Thai­land se­jak abad ke-19. Se­buah patung mer­maid emas di Pan­tai Laem Samila di provinsi Songkhla didirikan un­tuk Su­van­na­mac­cha.

FILIPINA

Dalam mi­tologi Filipina, mer­maid dise­but bagai sirena karena pen­garuh bu­daya Spa­nyol. Sirena jauh berbeda dari siren dalam mi­tologi Yu­nani, yang digam­barkan se­ba­gai makhluk wanita-bu­rung. Sirena di­ang­gap se­ba­gai en­gkanto, yaitu roh yang bisa muncul dalam wu­jud manu­sia. En­gkanto adalah salah satu Ban­tay Tu­big, yaitu pen­jaga air mistis dan sangat mirip den­gan mer­maid cantik versi Barat, meskipun mereka, bersama den­gan en­gkanto pria, yaitu siyokoy, digam­barkan ganas ter­hadap manu­sia. Sirena adalah makhluk cantik, sedan­gkan siyokoy ter­li­hat menakutkan den­gan in­sang, kulit berin­sang ke­coke­la­tan atau ke­hi­jauan, dan kaki bersisik dan berse­la­put yang terkadang ter­li­hat seperti ekor. Sekarang ini Asia marak den­gan film, gam­bar-gam­bar, dan buku-buku yang berik­san ten­tang mer­maid yang lebih mirip den­gan mer­maid versi Barat. Den­gan pop­u­lar­i­tas mer­maid yang terus tum­buh, se­jum­lah seko­lah serta per­tun­jukan mer­maid mu­lai bermuncu­lan di be­nua Asia.

MER­MAID HIDUP

Weeki Wachee bisa di­ang­gap se­ba­gai salah satu per­in­tis kon­sep per­tun­jukan mer­maid hidup.

Awal­nya Amerika Serikat­lah yang per­tama men­gomer­sial­isas­ikan mer­maid me­lalui ke­las, per­tun­jukan bawah air, film ataupun fo­tografi, dan tren ini sekarang telah menye­limuti sean­tero planet Bumi. Di Amerika Se­la­tan dan Eropa, su­dah ada be­gitu banyak mer­maid di pasaran dan menawarkan jasa baru seperti pe­nampi­lan di pesta serta per­tun­jukan di kasino.

Asia pun tidak mau ket­ing­galan tren ini. Kita hanya perlu meli­hat be­tapa menon­jol­nya para mer­maid di salah sati fes­ti­val lau­tan terbe­sar di Asia Teng­gara, yaitu Asia Dive Expo (ADEX) di Sin­ga­pura, yang sekarang telah menye­bar di selu­ruh be­nua. Mer­maid telah menjadi bagian be­sar ADEX, den­gan pe­nampi­lan dan bin­cang-bin­cang den­gan para mer­maid se­ba­gai duta lau­tan.

Seir­ing den­gan per­tum­buhan pasar, “mer­maid­ing” den­gan cepat menjadi hobi pop­u­lar, dan seko­lah­seko­lah mer­maid pun bermuncu­lan. Den­gan adanya potensi re­siko dalam olahraga ini, para in­di­vidu yang ter­tarik harus jeli dalam memilih seko­lah den­gan kuriku­lum kom­pre­hen­sif dan pen­didikan berkual­i­tas, seperti Mer­maid Fed­er­a­tion In­ter­na­tional (MFI).

Tetapi ger­akan ini lebih dari sekedar komer­sil saja. Has­rat un­tuk menjadi mer­maid (atau mer­man) be­rasal dari keing­i­nan yang lebih dari sekadar kete­naran dan glamor: Pang­gi­lan dari lau­tan be­gitu kuat, dan kerind­uan un­tuk ter­hubung kembali den­gan air terus mem­buncah. Menjadi mer­maid tidak hanya be­la­jar cara berpose di de­pan kam­era atau ber­e­nang den­gan in­dah di bawah air. Bagian be­sar train­ing menjadi mer­maid adalah be­la­jar bagaimana se­cara fisik dan men­tal ter­hubung den­gan air.

MER­MAID LAU­TAN

Kita tahu bahwa ke­se­hatan lau­tan, sun­gai, dan danau kita sedang dalam ba­haya –baik fauna dan flora terancam han­cur ak­i­bat ulah manu­sia. Dalam be­ber­apa dekade ter­akhir, mer­maid telah menjadi duta lau­tan da nada di garis ter­de­pan dalam berba­gai proyek kon­ser­vasi yang berkai­tan den­gan po­lusi laut, penangka­pan ikan berlebih, dan berba­gai an­ca­man lain­nya bagi ke­hidu­pan laut.

Mer­maid mewak­ili para makhluk yang ter­lahir di laut; tetapi tidak seperti ke­hidu­pan laut lain­nya, mer­maid bisa mem­beri pe­san penting ten­tang kon­ser­vasi. Mer­maid sekarang ini mu­lai ser­ing ter­li­hat di me­dia massa, dan menjadi tren univer­sal. Tetapi menjadi mer­maid lebih dari sekadar tenar: Mer­maid hadir un­tuk mem­bantu kita men­jaga planet me­lalui pe­san yang mereka bawa. Pa­tri­cia Fur­tado de Men­donça adalah pendiri Ac­qua Mater, su­atu or­gan­isasi yang per­caya den­gan ter­hubungnya manu­sia den­gan air. Ia juga adaah duta Mer­maid Fed­er­a­tion In­ter­na­tional, se­buah or­gan­isasi yang berdedikasi dalam pelati­han menjadi mer­maid dan men­dorong pengem­ban­gan diri, keti­dak bergan­tun­gan, serta ke­sadaran diri bagi wanita.

Has­rat un­tuk menjadi mer­maid (atau mer­man) be­rasal dari keing­i­nan yang lebih dari sekadar kete­naran dan glamor: Pang­gi­lan dari lau­tan be­gitu kuat, dan kerind­uan un­tuk ter­hubung kembali den­gan air terus mem­buncah

TERATAS Ilus­trasi dari tahun 1805 (sen­i­man tidak dike­tahui) be­rasal dari Mu­seum Teater Univer­si­tas Waseda dan menunjukkan mer­maid yang menu­rut la­po­ran di­tangkap di Teluk Toyama

Indis­cher Maler um 1640, The Yorck Project (2002)/Wi­ki­com­mons

Wi­ki­com­mons

ATAS Bagian bawah “mer­maid Jepang” ini ter­buat dari kulit dan sisik ikan mas yang ditem­pel di badan yang ter­buat dari kayu

Baik mi­tologi Malaysia dan In­done­sia mengk­laim bahwa mer­maid “mereka” be­rasal dari dewi Assyria Atargatis yang mening­galkan Suriah sam­bil menangis sete­lah menderita ak­i­bat cinta. Mi­tologi In­done­sia mengk­laim bahwa Atargatis ber­e­nang ke In­done­sia, sedan­gkan mi­tologi Malaysia per­caya bahwa Atargatis ber­e­nang ke Malaysia.

Photo Dharma, Sadao, Thai­land/Wi­ki­com­mons

Shan Hai Jing, a clas­sic Chi­nese text from the fourth cen­tury BC

BAWAH Foto Dada Li ber­e­nang ke dalam gerom­bolan ikan, di­am­bil oleh Yue Hong Jun dan di­ta­mpilkan di bukunya, El­e­ments

TERATAS Pen­gun­jung berkeru­mun di per­tun­jukan mer­maid di ADEX Sin­ga­pura 2018KIRI ATAS Pe­serta Mer­maid Chal­lenge di ADEX Shen­zhen 2017 bersi­ap­siap un­juk ke­bole­hanKANAN ATAS Mer­maid Fed­er­a­tion In­ter­na­tional menawarkan kur­sus pelati­han mer­maid mu­lai dari tingkat pem­ula hingga in­struk­tur

Newspapers in English

Newspapers from Australia

© PressReader. All rights reserved.