NOT YOUR AVERAGE SUPERMODEL

Ia melambangkan selebriti masa kini: model berumur 21 tahun yang suka selfie seharian. Cosmo mencari tahu mengapa seluruh dunia mengikuti tiap langkah Taylor Hill.

Cosmopolitan (Indonesia) - - COVER STORY - Words Francesca Delogu & Lottie Lumsden Photographs Matthew Eades

Anda bisa menggambarkan seseorang dengan melihat jumlah followers mereka di Instagram. Taylor Hill, model berumur 21 tahun dan ambassador Lancôme, memiliki 8,6 juta followers. Di antaranya adalah namanama familar. Pertama, ada Paris Hilton, lalu coba lihat, ada Selena Gomez dan Penelope Cruz. Model Ashley Graham, ada disitu, begitu juga supermodel veteran, Cindy Crawford. Dan... sebentar deh, itu benar Romeo Beckham, Jessica Alba, dan Craig David?

Kenyataan bahwa pasukan penggemarnya adalah guest list untuk The Met Gala (oke, kecuali Craig David) menunjukkan semua yang perlu Anda ketahui tentang Taylor Hill. Seperti Gigi Hadid, Kendall Jenner, dan Hailey Baldwin, wanita muda ini melampaui peranan seorang fashion model.

Direkrut sejak umur 14 tahun, selama 12 bulan terakhir Taylor telah menjadi wajah Lancôme termuda sepanjang masa, berjalan untuk semua fashion show besar, dan duduk di samping Gisele, Kate Moss, serta Cara Delevingne dalam list Forbes untuk 20 model dengan bayaran tertinggi di dunia. Belakangan ini, sebuah posting media sosial akan mendapatkan rata-rata 400 ribu likes, dan betapa desperate para penggemar untuk merasakan hidupnya sampaisampai anjing peliharaannya, Tate, memiliki akun Instagram sendiri, @tatetheminidoodle (26,6 ribu followers dan terus berkembang, thanks).

Cukup beberapa menit bertemu dan Anda akan mengerti hypenya. Tentu ia luar biasa cantik, dengan tulang pipi yang tajam, alis

sempurna, serta senyuman indah. Namun selain itu, ia memilki pesona yang mengagumkan. Bukan pesona seperti Tom Cruise, tapi lebih seperti Daisy Buchanan dari The Great Gatsby: pesona manis yang membuat siapapun ingin mengenalnya lebih jauh.

Ia datang tepat waktu di sebuah studio London, membisikkan “halo” yang lembut saat memasuki ruangan. “Dulu, saya adalah remaja yang sangat pemalu dan sering dicemooh karenanya,” akunya. “Saya tidak pernah jadi bagian grup, dan yang saya inginkan adalah keberadaan teman dekat saja. Saat masih remaja, Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan, Anda masih harus membangun kepercayaan diri. Tapi kemudian Anda bisa membuang kegelisahan tersebut.” Taylor direkrut jadi model saat masih berstatus pelajar di Pomona High School oleh fotografer dan agen, Jim Jordan. Jim sedang melakukan photoshoot di sebuah peternakan saat ia melihat Taylor sedang menunggang kuda. Pada saat itu, Taylor tidak pernah memikirkan modeling dan ia lebih tertarik dengan snowboarding, gimnastik, dan Harry Potter. Taylor, yang memiliki satu kakak dan dua adik, pernah mengaku bahwa ia dan kedua orangtuanya (seorang beautician dan teknisi gas) berpikir bahwa Jim “gila” saat menghampirinya. Ia pernah berkata sebelumnya, “Dulu, saya keterbalikan dari kata keren. Rambut saya frizzy dan saya tidak tahu harus diapakan; saya memakai baju turunan dari kakak, dan karena saya lebih tinggi, tidak ada yang muat.”

Namun Jim melihat sebuah potensi dan tidak lama, Taylor menandatangani kontrak bersama IMG, yang juga membawa nama Bella Hadid dan Miranda Kerr. Apa yang dipikirkan teman-teman sekolahnya? “Saya jadi terkenal, tapi saya tidak merasa berbeda,” ia menjelaskan. “Berkat kasih sayang dari kakak, adik, dan teman-teman, saya bisa jadi diri sendiri. Mereka selalu mendukung dan merupakan penggemar terbesar saya. Mereka adalah sumber dari superpower rahasia saya,” tuturnya. Ia lulus sekolah di umur

"Dulu, saya adalah remaja yang sangat pemalu dan sering dicemooh karenanya."

16 dan dalam waktu dua tahun, ia dipekerjakan oleh beberapa nama besar di industri fashion. Di tahun 2013, ia berjalan untuk Victoria’s Secret dan menjadi angel di tahun 2015. Taylor dikabarkan menghasilkan USD154 juta tahun lalu dari

modeling. Siapa yang jadi inspirasinya? “Model favorit saya adalah Christy Turlington,” ujarnya. “Ia merupakan wanita hebat, magnetis, dan manis dengan kepribadian yang sangat saya kagumi. Namun wanita yang menginspirasi saya setiap hari adalah adik dan kakak saya.”

Seperti yang dikatakan oleh desainer, Thakoon Panichgul, saat Taylor berjalan untuknya dalam New York Fashion Week bulan September silam, “Anda mengenal wanita seperti dia di sekolah. Anda ingin berteman dengannya. Semuanya mengenai kepribadian dan karisma, dan Taylor memiliki semua itu.” Taylor mengatakan pada saya, “Untuk saya, hal paling dasar dalam menjalankan media sosial adalah jadi diri sendiri. Saya berkomunikasi dengan followers seperti mereka teman saya sendiri, walaupun saya tidak mengenal mereka. Tapi banyak dari mereka akhirnya benar jadi teman saya!” Ia menambahkan, “Saya tidak memerhatikan kejelekan online. Saya belajar untuk tidak fokus pada sisi negatifnya.” Sekarang, Taylor (atau “Tay” bagi temannya) tinggal di New York bersama pasangannya, Michael Stephen Shank, 31, dan anjingnya.

Saat ia di New York, ia suka berkumpul dengan kawan modelnya, Romee Strijd dan Jasmine Tookes, makan pizza, nonton film, dan pergi berbelanja seperti wanita 21 tahun pada umumnya. Ia pun biasanya low-key dalam berpenampilan. Ibunya masih memotong rambutnya seperti saat ia masih kecil dan ia suka makeup yang senatural mungkin. “Bulu mata yang tebal itu selalu seksi,” tekannya. Sebagai ambasador Lancôme, ia bersumpah bahwa Monsieur Big Mascara adalah yang terbaik. “Ia menebalkan bulu mata saya tanpa membuatnya seperti palsu. Biasanya saya menambahkan winged eyeliner untuk membuat mata saya pop. Itu adalah gaya andalan saya.”

Taylor sangat dekat dengan saudara kandungnya. Seperti keluarga Hadid dan Delevingne, keluarga Hill juga tenar secara perlahan. Mackinley dan Chase memiliki kontrak dengan IMG, sedangkan Logan Rae adalah seorang fotografer. Keempatnya memiliki channel Youtube bernama The Hills Sisters And Chase, yang memiliki hampir 40 ribu subscribers dan mendokumentasikan segalanya, mulai dari liburan keluarga ke perjalanan menuju mall. Tiap video bisa mencapai hampir 1 juta views masingmasing. Taylor tersenyum ketika saya menunjukkan kemiripannya dengan keluarga Hadid. “Anda tidak bisa membandingkan kami berdua, walaupun kami di area yang sama,” ujarnya. “Tidak ada perselisihan di antara kami.” Setelah tujuh tahun di industri tersebut, Taylor memastikan bahwa para adiknya mendapatkan saran terbaik. “Saya selalu mengatakan bahwa dunia fashion seperti sebuah panggung, namun sangat penting untuk tetap menjadi diri sendiri, untuk tidak bersembunyi di balik topeng. Inilah yang memberikan Anda kekuatan untuk maju, menghadapi apapun yang menghalangi Anda, dan mengatasi saat ditolak. Itu merupakan bagian dari rutinitas pekerjaan, konyol rasanya jika membiarkannya membuat Anda down.”

Saatnya Taylor untuk pergi. Ia akan terbang ke New York malam ini dan mobilnya menunggu di luar. Sebelum ia pergi, saya bertanya tentang apa yang ingin ia lakukan berikutnya. Sudah jelas, fashion month akan segera tiba dan tentu saja, ada banyak kampanye yang harus di-shoot, tapi lebih dari itu? “Di masa depan, saya ingin masuk ke dunia bisnis dan meluncurkan lini pakaian saya sendiri. Kami para model memiliki banyak kesempatan dibandingkan wanita lain. Kami hidup dikelilingi banyak orang menarik. Kami harus menggunakan pengalaman ini sebaik mungkin... Yang bagi saya adalah kerja keras, untuk orang lain adalah sebuah mimpi. Saya tidak akan melupakan hal itu.”

"Untuk saya, hal paling dasar dalam menjalankan media sosial adalah jadi diri sendiri."

Blazer, Max Mara. Cincin, Pandora.

Dress,

Jaket, Stefano De Lellis. Swimsuit, Michael Kors Collection. Kalung, Bijou Brigitte. Gelang, Pandora. Shoes, Primadona.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.