CITY SCENE

Lebih dari separuh kedai ganja digusur. Lebih dari 100 rumah bordil ditutup. Di sisi lain, sejumlah museum dipermak dan rumah tepi kanal direnovasi. Amsterdam sepertinya ingin lebih bermartabat dan berbudaya. Kota ini tak mau sekadar menjadi wadah pelampi

DestinAsian Indonesia - - DEPARTMENTS - OLEH SENAY BOZTAS / FOTO OLEH EWOUT HUIBERS

Melalui serangkaian inisiatif mahal, Amsterdam berbenah dan berubah. Selain menutup banyak rumah bordil dan kedai ganja, Ibu Kota Belanda ini merenovasi sejumlah rumah kanal dan museum. Tak semua sisi suramnya telah punah memang, tapi setidaknya kota ini sekarang makin ramah dan berbudaya.

Dari ayunan yang tergantung 100 meter di atas Sungai IJ, Amsterdam menampilkan parasnya yang unik: cincin kanal yang berlapis, jalur sepeda yang cukup panjang untuk melapisi jalan hingga ke London, serta bangunan-bangunan hasil kawin silang antara arsitektur lawas dan kontemporer.

Saya tengah berada di lokasi baru yang paling atraktif untuk menikmati panorama kota. Over the Edge, ayunan hidraulis yang saya naiki, tertancap di atap A’damToren, kompleks hiburan yang menempati bekas kantor Royal Dutch Shell. Selain ayunan, tempat ini menawarkan dek observasi, serta restoran berbalut kaca dengan lantai yang terus berputar.

Amsterdam, domisili saya dalam tujuh tahun terakhir, sedang bertransformasi. Kota ini giat meluncurkan atraksi baru, hotel baru, juga kegiatan baru. Sebagaimana tanah di kakinya yang ajek bergerak, Ibu Kota Belanda ini konsisten berubah. Kondisinya kontras dibandingkan dua dekade silam saat Amsterdam terkesan kumuh, di mana akhir pekan didominasi aktivitas mengisap ganja, menenggak bir, berpesta pora. Tak semua sisi buruknya telah ditinggalkan memang, tapi setidaknya hari-hari yang penuh pengar kian berkurang.

Meninggalkan ayunan yang menguji batas nyali, saya kembali menginjak bumi, kemudian melintasi Sungai IJ dengan kapal feri menuju gedung baru Central Station. Saat saya datang, konstruksi masih berlangsung. Stasiun ini sudah beroperasi sejak Juli 2016, tapi beberapa bagian pendukungnya belum rampung, termasuk terminal metro North-South yang diperkirakan tuntas pada 2018.

Berjalan ke sisi stasiun yang melintang di tepi IJ, saya mampir di I Amsterdam Store, pusat informasi turis yang merangkap toko suvenir khusus produk lokal, misalnya cokelat Tony’s Chocolonely, jin denim G-Star (Pharrell Williams adalah salah satu pemegang sahamnya), peralatan dapur Droog, serta sepatu United Nude buatan Rem D Koolhaas (keponakan arsitek ternama Rem Koolhaas).

I Amsterdam Store juga dihuni vending wall milik FEBO, jaringan cepat saji lokal yang dirintis pada 1941 di Ferdinand Bolstraat, bekas kantong pekerja yang berubah menjadi area trendi. FEBO adalah alasan di balik kelahiran istilah “uit de muur eten,” artinya “makan dari dinding.” Di tiap mesinnya, kita bisa membeli beragam kroket dan burger. Tidak elegan memang, tapi banyak orang menyukainya. Lagi pula metode makan yang pragmatis telah menjadi kelaziman di sini. Warga gemar menyantap brown bread dengan dua helai keju dan ham untuk sarapan, kemudian menyantap menu serupa untuk makan siang.

Di sebuah kafe di I Amsterdam Store, saya menemui Machteld Ligtvoet, staf biro promosi Amsterdam Marketing. “Ada banyak perubahan dalam 20 tahun terakhir,” ujarnya tentang kota kelahirannya. “Banyak gedung renta sudah direnovasi. Sejumlah toko obat keras sudah hengkang. Kanal-kanal sekarang cukup bersih untuk direnangi oleh Ratu Máxima.”

Secangkir teh mentol panas terhidang dan Machteld melanjutkan ceritanya. Katanya, Amsterdam kadang masih terasa tak ramah, tabiat yang telah terpatri dalam DNA kota ini. Tapi setidaknya Amsterdam berhasil mengimbangi sisi buruk itu dengan sikap yang toleran dan pikiran yang terbuka. “Di sini,” ujar Machteld lagi, “Anda bisa menjadi diri sendiri, asalkan tidak mengganggu orang lain. Kami tidak akan langsung murka saat mendapati seseorang melanggar norma.”

Dalam banyak hal, Amsterdam kini terlihat kian “alim.” Sesuai kebijakan toleransi

terbitan 1980, kedai-kedai kopi masih diizinkan menjajakan ganja, tapi regulasi tentang lokasinya, lisensinya, juga metode penjualannya, belakangan diperketat. Banyak kedai digusur lantaran berjarak terlalu dekat dengan sekolah. Sejak 1995, jumlah kedai di kota ini telah menyusut dari 350 menjadi 167 buah.

Distrik lampu merah, area remang-remang yang membuat Amsterdam terkenal sekaligus tercemar, juga tak lepas dari aksi sikat maksiat. Melalui Project 1012, inisiatif yang dicetuskan 10 tahun silam untuk “membersihkan” kota, pemerintah telah menutup sekitar 150 rumah bordil (“prostitusi etalase”).

“Kami tak mau orang-orang hanya memanfaatkan Amsterdam sebagai latar pesta semata,” tambah Machteld. “Kami ingin mereka menikmati kanal, mengunjungi museum, mencicipi kuliner lokal. Kami ingin mereka mengalami Amsterdam yang autentik.”

Menengok sejarah kota, Amsterdam versi “autentik” itu bermula sebagai sebuah desa nelayan yang merekah di dekat bendungan di Sungai Amstel. Secara etimologis, “Amsterdam” berasal dari “Amstelledamme” (“Dam on the Amstel”), kata yang muncul pertama kali dalam secarik dokumen yang bertitimangsa 1275—tahun yang kemudian ditetapkan sebagai tahun kelahiran Amsterdam.

Pada abad ke-17, periode yang dijuluki Zaman Keemasan di Belanda, rumah-rumah nelayan di lahan becek itu secara bertahap bersalin rupa menjadi hunian permanen bertubuh batu. Dananya tentu saja didapat dari penjajahan, perdagangan rempah, serta

ekspansi Kerajaan Belanda ke Timur Jauh. Di zaman itu pula Amsterdam menikmati pertumbuhan signifikan di bidang seni, budaya, sains, juga arsitektur. Sejumlah struktur monumental dikerek, umpamanya Royal Palace di Dam Square, Gereja Westerkerk (tempat maestro Rembrandt dimakamkan), serta jaringan kanal yang kemudian dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia pada 2010.

Melompat ke abad ke-21, Amsterdam versi autentik itu tidak lantas menghilang. Melalui serangkaian prakarsa, pemerintah berusaha merawat dan menghidupkannya. Rumah-rumah perahu (houseboat) dikoneksikan ke sistem pembuangan limbah; jalan-jalan batu kembali dibentangkan; rumah-rumah kanal didandani memakai bantuan dana hibah dan insentif publik. Terobosan cerdas juga diterapkan pada kedai kopi dan rumah bordil yang ditutup. Bangunan-bangunan ini tidak dibiarkan terbengkalai, melainkan ditawarkan dengan tarif sewa yang murah kepada para seniman dan pemilik butik—sebuah proyek yang dicanangkan bergulir hingga 2018.

Beragam prakarsa itu sukses melambungkan pamor kota. Mendekati ulang tahunnya yang ke-750 pada 2025, Amsterdam terlihat kian menawan di usia tua. Kota kanal ini lebih resik, lebih tampan, juga lebih nyaman, baik bagi turis maupun 820.000 warganya.

Seiring meningkatnya karisma kota, bisnis pun tumbuh, contohnya di sektor perhotelan. Properti baru bermunculan di Amsterdam. Pada 2011 hadir Conservatorium, hotel yang menempati bekas markas Sweelinck Music Conservatory. Pesona lawas bangunan dipertahankan, mulai dari lantai kayu jati hingga tegel art deco. Setahun berselang, Andaz Prinsengracht diresmikan. Interiornya ditaburi mebel dan ornamen eksentrik seperti kursi tulip merah dan permainan motif nautikal yang bertujuan mengenang riwayat Belanda sebagai kekuatan maritim dunia.

Terpisah persis dua kanal dari Andaz, The Hoxton membuka pintunya pada 2015. Tubuhnya tua, tapi konsepnya muda. Hotel yang menempati rumah tepi kanal ini ditaburi perabot uzur. Untuk menikmati sarapan, tamu cukup menggantung tas di luar pintu kamar, maka staf hotel akan mengisinya dengan beragam camilan sehat. Hotel lain yang juga menyita perhatian adalah Pulitzer. Sebenarnya ini bukan hotel baru. Pulitzer sudah beroperasi sejak 47 tahun silam. Akan tetapi, pada 2013, hotel ini direnovasi, dan proyek tersebut menjadi sorotan berhubung 25 rumah yang ditempatinya berusia empat abad. Pulitzer bersemayam di salah satu alamat termahal di Amsterdam: bantaran di antara kanal Keizersgracht dan Prinsengracht. Menginap di sini serasa bermalam di museum.

Beralih dari jantung Amsterdam yang dibelah-belah kanal, saya menaiki sepeda dan mulai mengarungi area lain kota. Meluncur ke utara, saya mendarat di De Pijp, zona kuliner yang kosmopolitan. Selanjutnya, saya menembus distrik lampu merah, berpapasan dengan banyak calo, melewati gadis-gadis seksi yang berpose panas di etalase. Saat peluh kian deras, saya berhenti sejenak untuk menyeruput koktail yang tengah menjadi tren di Amsterdam: gin yang dicampur elderflower tonic dan dihiasi irisan mentimun.

Amsterdam mengoleksi 300 festival per tahun (mayoritas gratis), jadi selalu ada yang bisa ditonton di sini. Dan jika festival sedang absen, warga melakoni ritual normal mereka. Sepanjang musim panas, Amsterdammers hobi berjemur di bawah mentari. Di musim dingin, mereka meluncur di kanal beku atau meringkuk di kedai untuk menghangatkan

tubuh dengan glühwein dan bitterballen. Sementara saat hujan turun, mereka menenggak Hemelswater, bir yang diracik dari air hujan.

Kembali ke sepeda, saya berpindah dari satu atraksi ke atraksi lain, memasuki beragam permukiman yang tampak seragam tapi sejatinya menyimpan tawaran yang berbeda. Tiap kali berhenti, saya selalu mengunci sepeda. Amsterdam mungkin salah satu kota paling aman di dunia, tapi maling sepeda sebenarnya merajalela.

Dalam perjalanan kembali ke pusat kota, saya melawat Museum Square, kompleks megah berisi tiga museum paling ternama di Belanda. Ketiganya belum lama dipermak, bagian dari investasi miliaran dolar pemerintah Belanda di bidang budaya.

Pertama-tama, saya mengunjungi Rijksmuseum, museum yang dibuka kembali pada 2013 usai melewati proyek bedah wajah yang kolosal: berdurasi 10 tahun dan menghabiskan hampir setengah miliar dolar. Menembus terowongan baru yang dimeriahkan pemusik jalanan, saya berpindah ke Van Gogh Museum. Tempat ini, sesuai namanya, membeberkan segala hal tentang Vincent van Gogh. Kita bisa menemukan 200 lukisan, 500 gambar, 700 surat pribadi, serta beberapa benda yang terkait dengan kehidupan (dan kematian) Van Gogh, misalnya sepucuk pistol yang diduga dipakai sang seniman untuk menembak dirinya sendiri. Pada akhir 2015, mengenang 125 tahun kepergian Van Gogh, museum ini melansir atrium baru yang mentereng.

Selemparan batu dari Van Gogh Museum terdapat Stedelijk Museum yang dibuka kembali pada 2012 usai direnovasi selama delapan tahun. Perubahan terbesar terlihat pada sayap barunya yang dijuluki “bathtub,” karena bentuknya memang menyerupai bak berendam. Walau tampilan anyar itu sempat dikritik, Stedelijk tetap berhasil menuai banyak penggemar, seperti terlihat pada pamerannya yang mengangkat Amsterdam School, aliran desain yang muncul pada awal abad ke-20.

Keluar dari pintu Stedelijk, saya melayangkan pandangan ke kompleks Museum Square dan menatap sepenggal wajah kota yang merayakan kreativitas manusia. Proyekproyek renovasi museum dan bangunan tua memang sangat menguras biaya, tapi semua itu berhasil menyuntikkan energi baru pada Amsterdam sekaligus meningkatkan magnet kota ini di mata dunia.

Bangku Buaian Ayunan Over the Edge bertengger di atas A’damToren dan menawarkan panorama kota.

Rute Penerbangan langsung Jakarta-Amsterdam dilayani oleh Garuda Indonesia (garudaindonesia.com), sementara penerbangan dengan satu kali transit dilayani oleh banyak maskapai, di antaranya KLM (klm. com) via Kuala Lumpur dan Cathay Pacific (cathaypacific.com) via Hong Kong.

Elan Urban Searah jarum jam, dari kanan: Art Collector’s Suite di Hotel Pulitzer; menu pembuka berisi foie gras organik, buah bit, dan steak tartare di Moon, restoran di A’damToren; dua punggawa restoran Moon: koki Jaimie van Heije dan chef de cuisine Tommy den Hartog. Kiri: Batangan cokelat Tony’s Chocolonely di I Amsterdam Store, pusat informasi turis yang merangkap toko suvenir berisi beragam produk lokal.

Atraksi Seni Atrium baru di muka Van Gogh Museum, museum yang menyimpan 200 lukisan karya sang maestro.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.