SELEPAS SANKSI

DestinAsian Indonesia - - CONTENTS - MUHAMMAD FADLI TEKS DAN FOTO OLEH THE POPO ARTWORK OLEH

Akibat sanksi ekonomi, Iran meringkuk dalam periode suram yang membuatnya terkucil dari pergaulan dunia. Tapi kondisinya kini telah banyak berubah. Selepas embargo, industri pariwisata menggeliat, objek-objek wisata baru bermunculan, dan warga mulai menikmati kebebasan berbicara. Oleh Muhammad Fadli

Setelah sanksi ekonomi dicabut bertahap, Iran membuka lembaran baru dengan semangat baru, termasuk di sektor pariwisata. Operator tur bermunculan. Objek-objek baru terpetakan. Perusahaan asing, termasuk hotel dan maskapai, berdatangan. Negara ini kian terbuka. Kini kita hanya perlu melihatnya dengan kaca mata baru.

Kami punya Trump sebelum Amerika,” kata Sorena. “Selama delapan tahun negeri ini bagai diperintah oleh orang sinting.”

Dalam sedan Peugeot butut yang membelah Shiraz, kota terbesar di selatan Iran, Sorena tak henti-hentinya berbicara soal politik. Mahasiswa yang merangkap pramuwisata cabutan ini dengan tajam berkoar, berkhotbah, dan mengumpat, salah satunya ditujukan kepada Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran periode 2005-2013 yang dijulukinya “orang sinting” tadi.

Ahmadinejad, kata Sorena, adalah politisi sembrono yang gemar melontarkan narasi bombastis. Baru setahun menjabat, presiden yang mencitrakan dirinya hidup sederhana ini mengancam akan melenyapkan Israel dari peta dunia. Setelah itu, dia menggenjot program nuklir Iran dengan tujuan riset dan penyediaan energi—dalih yang tak dipercaya banyak negara, hingga Iran pun pada 2006 diganjar sanksi ekonomi oleh PBB, Uni Eropa, serta Amerika. “Masa-masa yang sulit,” kenang Sorena dalam bahasa Inggris beraksen Amerika. Saya tak tega menceritakan kepadanya betapa Ahmadinejad sempat populer di Indonesia.

Ini kunjungan kedua saya ke Iran. Saya datang pertama kalinya lima tahun silam, saat Ahmadinejad masih bertakhta dan politik adalah topik yang kelewat sensitif untuk dibicarakan. Jangankan bicara politik, saya bahkan pernah digelandang polisi di Teheran akibat perkara sepele: memotret mural Ayatollah Khomeini di tembok stasiun kereta. Kini, kondisinya telah banyak berubah. Orang makin bebas bicara, juga memotret dan mengumpat.

Kali ini saya datang saat seantero negeri sedang dibalut suasana pesta. Ini hari ketiga Nowruz, Tahun Baru Persia yang bertepatan dengan datangnya musim semi. Suasananya mirip Lebaran di Indonesia. Selama dua pekan, jutaan manusia mudik ke kampung halaman demi menjumpai sanak famili. Itu sebabnya, ketika saya mendarat di Teheran dua hari sebelumnya, jalan-jalan begitu lengang

Nowruz, warisan kebudayaan Persia, dirayakan habis-habisan, dan salah satu tempat selebrasi favorit warga ialah Persepolis, reruntuhan ibu kota imperium Persia. Bersama Sorena sang analis politik gadungan, saya meluncur ke sana.

Memasuki pinggiran Shiraz, mobil melambat, lantas berhenti. Macet menghadang. Demi mengusir suntuk, Sorena memutar musik. Meski tampil jantan, dia menggemari tembangtembang cengeng dari biduan semacam Taylor Swift dan Selena Gomez. Saya melongok ke jendela. Di bawah langit kelabu, bukit-bukit gundul terkangkang.

Mendarat di Persepolis, ribuan orang menyemut di lapangan parkir. Meski bentuknya hanya reruntuhan, Persepolis masih tampak gagah. Usia tak mengikis kemegahannya. Menaiki Tangga Agung, saya mampir di Gerbang Semua Bangsa dan Istana 100 Pilar. Tak seberapa jauh dari kompleks utama, makam raja bertaburan di lereng cadas. Sulit membayangkan semua ini dibangun beberapa abad sebelum milenium pertama.

Tapi Persepolis sebenarnya tak cuma memancarkan keindahan. Situs ini juga menyimpan sebuah episode monumental yang berbuntut pada karut-marutnya perpolitikan Iran. Syahdan, di sinilah pada 1971 Mohammad Reza Pahlavi menanggap hajatan paling hedonis sejagat. Memperingati 2.500 tahun berdirinya

imperium Persia, Shah Iran itu menggelar jamuan berisi berton-ton makanan yang diterbangkan dari Prancis. Tenda-tenda mewah dikerek. Lusinan kepala negara diundang. Padang tandus disulap jadi hutan artifisial yang ditingkahi kicauan 50.000 ekor burung asal Eropa (yang lalu mati akibat perbedaan iklim).

Menurut kalkulasi The New York Times, setidaknya $200 juta menguap demi kegilaan berdurasi tiga hari itu. Majalah Stern menjulukinya “ibu dari segala pesta.” Dan semua itu berlangsung saat Iran tengah didera kemiskinan. Tak heran, rakyat meradang, lalu melawan. Pada 1979, Revolusi Iran di bawah komando Khomeini melengserkan Shah sekaligus menutup periode monarki di Iran. Dalam proses itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran diduduki demonstran. Setelahnya, perang melawan Irak pecah. Dipicu oleh pesta yang berkilau di Persepolis, Iran memasuki zaman gelap yang penuh gejolak: dimusuhi Amerika dan sekutunya, dikucilkan banyak tetangganya.

Masa-masa suram itu kini perlahan dilewati. Menyusul tercapainya kesepakatan nuklir dengan negara-negara adidaya, sanksi atas Iran dicabut bertahap pada 2016 dan perekonomian pun mulai bergairah. Mei 2017, pemilu presiden digelar di mana Hassan Rouhani yang maju sebagai petahana berhasil memperpanjang masa jabatannya. Kaum moderat percaya, sang presiden mampu membawa perubahan. “Dia perlu diberi waktu lebih,” ujar seorang teman di Teheran. “Cuma dia pilihan terbaik,” timpal teman lainnya. Iran sedang bertransformasi, dan saya datang untuk memahaminya.

Melihat karya Picasso, Pollock, dan Monet barangkali hal terakhir yang dipikirkan siapa saja yang berkunjung ke Iran. Tapi negeri ini memang tak melulu seperti yang dibayangkan banyak orang. Di Tehran Museum of Contemporary Art, saya menyaksikan langsung karyakarya maestro tersebut untuk pertama kalinya.

Judulnya Selected Works of Tehran Museum of Contemporary Art. Ekshibisi berdurasi tiga bulan ini memajang beragam koleksi permanen museum yang jarang ditampilkan ke publik. Biaya tiketnya, jika dikonversi, cuma Rp20.000, nominal yang kelewat murah untuk menyaksikan kreasi seniman setengah dewa.

Di ruang pamer, saya terpaku di hadapan lukisan Mural on Indian Red Ground ciptaan Pollock. Di sebelahnya terpajang karya surealis Picasso berjudul Painter and His Model. Lukisan bertitimangsa 1927 ini disebut-sebut sebagai salah satu pencapaian penting Picasso sepanjang kariernya. Melangkah ke sudut lain saya menjumpai karya pop buatan Warhol dan Roy Lichtenstein. “Museum ini mengoleksi karya

seni kontemporer Barat paling bernilai di luar Eropa dan Amerika,” ujar seorang pengunjung, Ali Reza, mahasiswa Universitas Islam Azad, “walau, jujur, saya tak bisa membedakan lukisan seharga $1 atau $1 juta.”

Benda-benda seni di museum ini dikumpulkan tatkala Iran berada di bawah kekuasaan Shah. Otak di balik perburuan karya tersebut adalah Farah Pahlavi, permaisuri yang dikenal gemar mensponsori perupa-perupa kondang. Akibat Revolusi, Farah dan suaminya terpaksa hidup di pengasingan, sementara koleksi seninya disembunyikan dari pandangan publik dan baru dipamerkan lagi setahun terakhir. Pemerintah Iran memang tak lagi menganggap seni sebagai proyek dekadensi moral dari Barat.

Saya kembali mengarungi museum. Pengunjung kian membeludak. Beberapa remaja melewati garis pembatas demi berswafoto hingga memicu alarm dan membuat penjaga museum kalang kabut. Tiap karya dijaga ketat karena harganya memang sangat mahal. Koleksi museum ini ditaksir bernilai Rp40 triliun, setara anggaran belanja Kementerian Pendidikan Indonesia selama setahun.

Meninggalkan museum yang riuh, saya beranjak ke sisi lain Teheran. Usai melewati jalan-jalan yang sepi di musim libur panjang, saya tiba di sebuah apartemen yang berada di dekat bekas Kedutaan Amerika yang pernah diokupasi demonstran. Saya datang ke sini untuk menemui Navid Yousefian, seorang pemuda yang tengah jadi pergunjingan belakangan ini. Dia sedang menempuh program doktoral di jurusan ilmu politik Universitas California. Sayang, akibat kebijakan anti-imigran Donald Trump, nasibnya kini terkatung-katung.

“Negeri ini butuh narasi baru, kisah-kisah bebas sensor,” jelas Navid. “Selama ini Iran telanjur dikenal untuk alasan yang salah. Apa yang sebenarnya terjadi sering kali berbanding terbalik.” Berangkat dari pemikiran itu, Navid dan beberapa konconya iseng menggagas See You in Iran (SYI), sebuah inisiatif yang mengusung iktikad sederhana: mengajak pelancong berkunjung ke Iran agar mereka lebih mengenal realitas kontemporer negeri ini. Untuk saluran komunikasinya, SYI memanfaatkan Facebook. Pilihan yang ironis mengingat media sosial ini (juga Twitter) diblokir oleh pemerintah.

Dalam setahun, grup Facebook SYI berhasil merangkul lebih dari 100.000 anggota lintas negara. Berhubung misinya terpaut agenda “penyadaran sosial,” SYI pun berkembang menjadi semacam ruang diskusi yang politis. Tema yang dikupas tak sekadar tempat-tempat

pelesir, tapi juga isu-isu hangat yang menyangkut hajat hidup orang banyak. “Target kami juga orang-orang Iran diaspora,” jelas Sogand Afkari, manajer pemasaran SYI. “Pemahaman mereka tentang Iran acap kali lebih keliru ketimbang orang asing.” Sogand sepertinya menyinggung pengalaman pribadinya. Dia terlahir dalam keluarga imigran Iran di Amerika.

Dalam ikhtiarnya, SYI berharap dunia memandang Iran lebih adil dan bijak. Bagi mereka, Iran sepatutnya tak dilihat semata sebagai negara Syiah berisi para mullah yang galak. Banyak orang tak tahu, Iran sejatinya negara yang paling “ter-Barat-kan” di Timur Tengah. Hampir 100 persen warganya melek huruf, dan lebih dari 60 persen mahasiswanya berjenis kelamin wanita. Dalam peta sinema dunia, Iran dihormati lantaran telah menyabet empat Piala Oscar. Dan saat Jakarta masih pusing mengurai problem transportasi publik, pelosok Teheran sudah dilayani enam rute MRT.

Navid dan Sogand mungkin benar, pemahaman dunia tentang Iran kerap keliru. Revolusi dan bias berita-berita media mengakibatkan persepsi atas negeri ini kerap tercampur prasangka dan paranoia.

Padang gersang terhampar sejauh mata memandang. Samar di kejauhan, pegunungan berselimut salju menjulang mendominasi cakrawala. Saya baru saja meninggalkan Kota Kerman. Setelah lebih dari seminggu berkelana di kota-kota yang ramai di selatan, saya kini bergeser ke tenggara negeri, dan Kerman adalah basis utama eksplorasi kawasan ini.

Beberapa abad silam, seorang pengelana juga bertolak dari kota yang sama. “Tiga hari pertama,” catatnya kala itu, “tak seorang pun bisa dijumpai. Hanya ada gurun dengan kekeringan yang luar biasa. Tak ada binatang buas, sebab memang tak ada yang bisa dimangsa.”

Marco Polo, pengelana itu, sedang menceritakan Dasht-e Lut (Gurun Lut), padang pasir yang membentang di tenggara Iran hingga perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Melihat citra satelitnya, wujudnya hanyalah bidang kosong yang penuh kerutan—imaji yang cocok dengan namanya yang berarti “tanah hampa.”

Luasnya 51.800 kilometer persegi, kira-kira 10 kali luas Bali. Di musim panas, suhu permukaannya menyentuh 70 derajat celsius. Jangankan binatang, rumput pun malas hidup di sini. Sejumlah penelitian menobatkan Lut sebagai tempat paling kering di muka bumi. Medan ekstrem inilah yang dulu dilewati Marco Polo saat menuju Teluk Persia. Ekspedisinya mahaberat sampai-sampai dia harus rela kudanya dibarter unta. “Tak sebatang pohon pun terlihat, dan air yang tersedia rasanya pahit,” tulisnya.

Berbeda dari Marco Polo, saya melesat ke Lut dengan menaiki sedan impor asal Korea. Bukan berarti prosesnya lebih nyaman. Warga Iran terkenal beringas jika sedang menyetir. “Dua mata saja tidak cukup untuk mengemudi di jalanan Iran,” canda Shiva Boruomand, pemandu saya.

Lut adalah magnet wisata terbaru Iran. Dulunya menebar horor, tempat ini sekarang justru ramai disambangi. Setidaknya ada dua penyebabnya: popularitas yang meroket usai dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia pada 2016, serta kian terbukanya Iran pada dunia luar. Jeli membaca kesempatan, Shiva mendirikan operator tur Visit Kalouts yang menawarkan aktivitas pelesir padang pasir.

Selepas embargo, pariwisata Iran memang memasuki babak baru. Kunjungan turis asing merangkak naik, dari sekitar 2,9 juta di 2010 menjadi 4,9 juta di 2016. Akses ke Iran juga kian terbuka, antara lain berkat keputusan British Airways dan Air France melayani kembali penerbangan langsung ke Teheran. Di bidang akomodasi, menyadari Iran masih kekurangan kamar hotel, Accor meluncurkan dua hotel di bandara Teheran, sementara Meliá mengerek sebuah hotel bintang lima di Salman Shahr, kota di tepi Laut Kaspia.

Menjelang tengah hari, saya dan Shiva transit sejenak di sebuah caravanserai, wadah rehat para saudagar dari era Jalur Sutra. Belasan pekerja tampak sibuk merestorasi bagian bangunan yang ringsek dimakan usia. Selemparan batu dari sini terdapat kompleks Qanat, saluran irigasi kuno yang diciptakan bangsa Persia guna menjawab tantangan hidup di alam yang tak ramah. Marco Polo mencatatnya sebagai satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan di Lut.

Kembali ke jalan, mobil melaju di lintasan lurus. Selama dua jam, kami hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan lain. Pemandangannya monoton, tapi tak membosankan. “Jika sedang sial kita bisa dihadang badai pasir,” ujar Shiva merusak lamunan saya. “Badainya bisa berlangsung berhari-hari tanpa henti.”

Seraya menikmati panorama, saya membuka obrolan. Saya masih penasaran, apakah Iran benar-benar sudah berubah. “Tentu saja, tapi tak secepat yang dibayangkan. Mungkin masih perlu beberapa tahun sampai semuanya normal,” jawab Shiva. “Kalangan tertentu sepertinya malah lebih senang ada embargo. Mereka mengeruk keuntungan di tengah kondisi sulit.”

Usai melahap jarak seratusan kilometer, kami tiba di Kalout. Sekilas mirip onggokan kastel, Kalout adalah fenomena geologi yang tercipta akibat erosi angin gurun. Kami mengelilingi tempat ini hingga sore, berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya. Mendaki salah satu bukit, saya menatap lanskap berundak yang dipacak matahari sore. Berdiri di tempat yang sama, Ben Affleck barangkali akan mendapatkan ide segar untuk sekuel film Argo.

Di sebuah stasiun kereta bawah tanah di utara Teheran, seorang perempuan muda sedang menunggu saya. Sebagaimana mayoritas gadis belia di Ibu Kota, dia mengenakan kerudung ala kadarnya, karena itu saya bisa mengintip rambutnya yang dicat pirang. Satu hal yang membuatnya mencolok adalah taburan tato di tubuhnya. Salah satunya terpampang tepat di bawah tulang bahunya. Di situ tertulis: “Never Give Up.”

Leila Sotoudeh, generasi yang lahir pascaRevolusi, adalah seorang atlet sekaligus pelatih kickboxing. Selain itu, dia bekerja sebagai manajer perusahaan teknologi informasi, model pakaian olahraga, sekaligus influencer Instagram, media sosial yang tidak dilarang di Iran. “Kombinasi yang aneh memang,” timpal Leila saat saya mengomentari profesinya yang beragam, “tapi ini satu-satunya cara untuk bertahan hidup di kota sebesar ini.”

Wanita kelahiran Kota Rasht ini sudah dua tahun menetap di Teheran. Walau kariernya moncer, Leila berpikir untuk eksodus, kemungkinan ke Australia, karena mulai merasa kebebasannya terancam. Popularitasnya di media sosial memang mulai meresahkan aparat.

“Saya pernah dua kali ditelepon polisi,” ujarnya. Penyebabnya adalah foto-foto tanpa kerudung yang diunggahnya ke Instagram. “Tapi tak saya gubris,” lanjutnya seraya memperlihatkan linimasanya kepada saya.

Kegelisahan senada diungkapkan oleh seorang jurnalis kawakan (dia meminta namanya tak dikutip) yang saya jumpai di Gilac, sebuah restoran mewah di kawasan elite Teheran. “Bayangkan jika negara merasa berhak terlibat dalam urusan pribadi Anda. Saya tak heran jika banyak yang ingin kabur ke tempat lain,” ujarnya seraya menyantap fesenjan, hidangan tradisional khas Persia. Kendati begitu, sang jurnalis belum berencana pindah. Menurutnya, kondisi Iran sekarang jauh lebih baik. “Ketimbang dua puluh tahun lalu, hari ini bagaikan surga,” simpulnya.

Blokade ekonomi selama bertahun-tahun memang memukul Iran. Sejumlah aset negara ini dibekukan, bank-banknya tak bisa melakukan transaksi internasional, ekspor migasnya mandek. Akan tetapi, isolasi dunia itu secara bersamaan memaksa Iran belajar hidup berdikari. Sekarang, selepas sanksi, negeri ini tampil percaya diri ibarat seorang petapa yang lolos dari ujian semadi di gua.

Lihat saja bagaimana perusahaan-perusahaan asing yang dulu angkat kaki, kini melirik kembali peluang investasi. Juli 2017, Iran meneken kontrak eksplorasi ladang gas alam dengan Total, raksasa asal Prancis. Kabar gembira juga berembus dari sektor aviasi. Langit Iran tak akan hanya didominasi pesawat usang lantaran dua maskapainya telah memesan lebih dari 100 armada buatan Airbus dan Boeing.

Masih di utara Teheran, saya menuju ke Bam-e Tehran, “atap Teheran” yang berada di Pegunungan Alborz. Musim semi sudah tiga minggu bergulir, tapi salju tebal masih menyelimuti lereng. Menaiki gondola, saya menggapai Tochal Ski Resort. Iran barangkali salah satu destinasi ski yang paling tak dikenal dunia. Aktivitas ski di sini bisa dilakoni delapan bulan saban tahunnya. Saya pun bergabung dengan warga kota yang sedang merayakan hari-hari terakhir liburan mereka.

Dari ketinggian 300 meter, saya menatap lanskap Teheran. Memalingkan mata ke sekitar saya, Iran tampak begitu “profan.” Saya tak lagi menemukan wanita berkerudung. Muda-mudi berjalan mesra seraya bergandengan tangan. Tanpa cadar dan mullah, Iran memang tak jauh berbeda dari kita.

Tanah Mullah Seorang pria memegang potret Ali Khamenei, mantan presiden yang kini menjabat Pemimpin Agung Iran. Kanan: Pilar-pilar gemuk yang menjulang di kompleks reruntuhan Persepolis, bekas ibu kota imperium Persia.

Babak Baru Kanan: Lukisan Painter and His Model karya Pablo Picasso di Tehran Museum of Contemporary Art. Bawah: Leila Sotoudeh, atlet kickboxing dan influencer Instagram. Kiri: Lorong reservoir air di Shahdad, kota di dekat Gurun Lut.

Warisan Zaman Bengkel berisi sebuah sedang Paykan, mobil nasional Iran yang diproduksi antara 19672005. Kiri: Tiga orang pria sedang berziarah di Shah Cheragh, monumen dan masjid bersejarah di Shiraz.

Elan Iran Dua gadis Iran di dalam Masjid Imam di Isfahan, kota yang berjarak sekitar 340 kilometer di selatan Teheran. Kanan: Panorama kota Teheran dipotret dari dek observasi Milad Tower, menara tertinggi keenam di dunia.

Buana Persia Kanan: Menu sarapan khas Iran yang lazim dihidangkan di rumah. Bawah: Pasangan muda sedang menggelar piknik di dekat Persepolis, situs ziarah dan wisata yang sangat populer di Iran. Kiri: Seorang penggemar ski di Tochal, destinasi ski di...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.