VIEW FINDER

Bagaikan sebuah desa global, kapal pesiar

DestinAsian Indonesia - - CONTENTS - OLEH ATET DWI PRAMADIA

Cukup mencengangkan saat kali pertama menaiki Genting Dream. Panjangnya menembus tiga lapangan sepak bola. Tingginya menyamai gedung 18 lantai. Interiornya menampung 1.600 kamar, 35 restoran, serta beragam fasilitas olahraga. Sebelumnya, saya hanya pernah menaiki kapal pesiar bertubuh ramping di Sungai Mekong.

Dirintis pada pertengahan abad ke-19, wisata pesiar merupakan inovasi Britania Raya yang lantas menular ke banyak negara di Benua Eropa, kemudian ke Amerika dan Asia. Dalam

konstelasi bisnis global ini, Genting Dream tergolong spesies yang unik. Oleh pemiliknya, bahtera gigantik yang diluncurkan pada akhir 2016 ini diklaim sebagai kapal premium pertama yang dilahirkan di Asia sekaligus didedikasikan hanya bagi pasar Asia. Kehadirannya merupakan bagian dari tren pertumbuhan pesat penumpang asal Asia, terutama Tiongkok, di industri pesiar.

Genting Dream, sebagaimana umumnya kapal pesiar, sejatinya merupakan sebuah desa global. Penumpangnya beragam, baik dalam hal usia, selera, juga budaya. Setiap sesi sarapan, setiap pesta di geladak, dan setiap pertunjukan di teaternya selalu terlihat sebagai ruang kosmopolitan yang kaya warna. Keragaman serupa tecermin dari komposisi demografis awak kapal. Mereka datang dari banyak sudut dunia, terutama negara-negara berkembang, termasuk tentu saja Indonesia.

Sebagaimana kapal pesiar umumnya pula, Genting Dream berniat menjadi sebuah destinasi yang mandiri. Akibat perkembangan agresif pesawat komersial bermesin jet pada

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.