SAYAP

Esquire (Indonesia) - - Insight - Oleh: A. Warits rovi

Tak ada yang paling kuinginkan selain sayap. Sayap yang lekat di kedua bahu, dilipat memanjang ke punggung pada saat henti sejenak di tempat yang kuingankan. Sayap yang bisa lenyap pada saat yang kuinginkan pula, agar tubuhku normal kembali menjadi manusia. Aku yakin sepasang sayap bisa mengantar seseorang kepada seratus cita-cita. Sejak aku punya keinginan untuk memiliki sayap, sejak saat itu aku merasa bodoh bila harus bercita-cita menjadi ini atau itu, karena dengan sayap semua cita-cita pasti akan tercapai, kira-kira demikian kesimpulan pikiranku. Dan keinginan itu muncul sejak aku putus sekolah, sejak ayah dan ibu sering bertengkar, saling tuding, adu mulut, saling pukul, dan berujung dengan pemandangan tak sedap; ayah membanting perabot hingga pecah, keluar rumah sambil marah-marah dan ibu menangis seharian. Atau ibu yang keluar entah ke mana, ayah hanya terdiam murka seraya meninju tembok. Jika itu yang terjadi aku tak berani ikut campur.

“Pinto, ini sudah siang, tapi ibu belum sempat memasak. Jika kamu lapar silakan memasak sendiri. Beras ada di rak lemari terbawah. Silakan menggoreng telur, ambil di sisi belakang kandang sapi. Ayam pemberian nenekmu bertelur di sana,” kata ibu datar, matanya terlihat sembab, beberapa saat disapu juntaian rambutnya yang helai memanjang. Ia kelihatan seperti belum mandi, padahal sudah jam sepuluh. Belum sempat aku merespon, ibu sudah keluar tergesa, sembari batuk-batuk, menutup pintu dan gerak langkahnya terdengar menjauh ke sisi samping rumah.

Hampir setiap hari aku harus memasak, mencuci, menyapu dan memberi pakan ternak sendirian. Bagiku kehidupan terlalu rimba, di tengah dada tegar untuk terus bertahan, tak jarang pula aku kadang mengaduh dan ingin segera bertemu dengan ajal. Beruntung ketika pikiranku sekacau itu, selalu ada keinginan untuk membuka jendela, kubiarkan jari angin mengusap lembut seluruh tubuh, hingga lelehan keringat yang membutir bisa kering dengan sendirinya. Dan aku akan dihibur oleh belasan burung yang melesat dan bertengger di pohon seberang jendela. Burung yang entah apa namanya, ukuran tubuhnya sangat kecil dengan bulu halus didominasi warna ungu, yang ketika berbunyi selalu menggerakkan ekor sambil memanjangkan leher dan mendongak ke langit. Tentu dari segala keindahan yang ia punya, aku tetap tertuju ke satu titik; sayapnya. “Andai sayapmu kau berikan padaku. Pasti aku bahagia. Aku akan terbang ke mana pun yang aku suka, tentu ke tempat yang aman dari kesedihan. Aku terlalu tersiksa

oleh kesedihan,” ucapku lirih, kuulur tangan ke arah burung-burung itu, jariku menggesek pinggir jendela. Dan aku merasakan kebahagian yang tak terhingga meski burung-burung itu tiada peduli, bahkan tidak menoleh sedikit pun padaku.

“Pinto! Ayo cepat masak! ayah sangat lapar,” suara keras ayah seketika membuatku terperanjat. Ia keluar dari kamar, berjalan kelimpungan dengan mata masih sedikit terpejam menahan rasa kantuk, sebelum akhirnya terhempas di sofa. Jika aku menolak permintaan ayah, sudah pasti sebuah tamparan akan mendarat di pipi.

Tak pernah kubayangkan, di malam dingin yang mengiris, saat sesabit bulan tenggelam di perut jendela, aku tiba-tiba menyeka air mata, dan sebagaimana di tv, tangisku spontan berubah jadi sesungging senyum. Kulirik jam sudah pukul 00.15, dan di luar jendela, daunan bergerak pelan.

Di sepasang bahuku kini terpacak sepasang sayap. Aku tak bosan mengamatinya dari ujung hingga pangkal, dipenuhi bulu-bulu halus dan kasar mirip janur, berwarna kuning dan abu-abu. Bertulang lentur, membuatku selalu berkeinginan untuk mencoba mengepakkannya. Jika sudah kukepak dengan pelan. Sayap itu mengembang, membuat lembar kertas dan pakaian di sekitarku tersapu angin. Jika kukepak dengan lebih keras lagi, maka tubuhku akan terangkat. Tak sabar aku ingin keluar menembus jendela dan terbang ke mana-mana. Tapi seorang lelaki tua yang mendatangiku itu mengangkat tangan kanannya, pertanda ia menyuruhku berhenti mengepak.

Aku masih belum tahu siapa lelaki tua itu. Tiba-tiba ia datang di depanku ketika aku menangis terisak sambil memukul-mukul dada, terguling-guling seraya membenturkan kepala ke tembok. Aku tidak kuat dengan keadaan di mana ayah dan ibu selalu bertengkar setiap waktu.

“Apa sayap ini benar-benar akan diberikan kepada saya, Kek?”

“Iya. Sayap itu akan kuberikan kepadamu. Maka aku harap kau jangan selalu menangis, Nak!” suara lelaki tua itu lirih, nyaris hilang dilinting detak jarum jam. Aku tersenyum, dan lelaki tua itu pun melepas senyum, di balik bibirnya yang hitam, gusi keringnya tak ditumbuhi gigi sama sekali. Sedang lidahnya kulihat bercahaya. Ia berdiri amat wibawa dengan jubah putih menyentuh lantai. “Silakan duduk, Kek!” “Tidak usah, sebentar lagi aku akan pamit.”

“O, ya. Sedari tadi saya terlalu bahagia dengan sayap ini hingga lupa menanyakan nama kakek. Kakek sebenarnya siapa?”

“Aku adalah seorang petapa dari negeri angin. Namaku Silma.”

“Silma? Kok saya seperti pernah mendengar nama itu.”

“Hehe, syukur kalau kamu pernah mendengar namaku. Ini sudah larut malam. Aku harus pulang. Jaga sayap ini baik-baik. Jangan selalu menangis. Hadapi hidup dengan senyum!” pesan lelaki tua itu sambil menepuk pundakku. Ia sedikit mendekatkan wajahnya ke wajahku seraya tersenyum, seolah ia ingin mengecup keningku. Aku menghirup wangi bunga dari tubuhnya. Lalu seketika ia menghilang. Aku terkejut.

“Kek! apa sayap ini bisa hilang bila saat kuinginkan?”

“Iya. Sayap itu akan hilang dengan sendirinya dan akan ada dengan sendirnya, sesuai keinginanmu,” suaranya menggema dari langit kelam di luar jendela, bulu kudukku bergidik, semoga warga tidak mendengar suara itu.

Sekali lagi kupandangi sepasang sayap di bahuku. Sedikit kukepak hingga terbuka. Tampaklah bulu-bulu halus dan kasar berjuntai rapi, padu dengan warna kuning dan abu-abu, mirip janur emas dari surga. Sayang, mata sudah terlalu ngantuk untuk mencobanya, sebelum tidur aku berkeinginan untuk menghilangkan sayap itu dari bahu, dan benar kata kakek, sayap itu hilang seketika, seperti dikontrol remote elektrik yang ampuh untuk sekali tekan tombol. Dan untuk pertama kalinya, aku tidur dengan perasaan bahagia.

Aku sudah berhasil mengunjungi beragam tempat yang kuinginkan dengan sayap ini. Tulang lengan dan bahu sudah bisa beradaptasi, bergerak tanpa henti, menantang angin, melawan gravitasi, berjam-jam di udara menahan beban tubuh. Dengan sayap ini, aku terbiasa menembus pekat malam

Sayap itu akan kuberikan kepadamu. Maka aku harap kau jangan selalu menangis

bersama sekawanan kalong dan burung malam, dan sesekali berhenti di ketinggian untuk memandang ke bawah. Bumi seperti berbedak butiran cahaya.

Bila kuceritakan, pasti orang-orang tidak percaya kalau aku sudah pernah ke Paris, London, Amerika, Australia dan Timur Tengah. Tempat-tempat wisata yang ada di negeri itu sudah berhasil kukunjungi, bahkan tanpa tiket dan urusan administrasi lain yang jelimet. Seperti biasa, aku akan terbang saat malam hari, demi menghindar dari padangan orang-orang. Aku tak ingin kepiawaianku ini diliput dan jadi cerita ke mana-mana, yang menyebabkan— mungkin—aku akan terkenal, atau malah dipenjara. Dua hal itu sama-sama tak kuinginkan. Jadi, terbang di malam hari adalah keputusan cerdas yang mesti kulakukan. Saat malam itu pula, aku menyusup ke dalam tempat wisata, terbang melintasi pagar dan menukik ke tempat teraman, hingga aku leluasa mengatupkan sayap, sejenak bernapas, dan melenyapkan sayap itu dari tubuhku secara ajaib, agar aku terlihat seperti manusia normal. Selamatlah aku dari pungutan tiket dan urusan administrasi yang kadang penuh praktik pungli.

Minggu lalu, adalah hari yang paling bahagia dan menjadi sejarah bagi hidupku. Setelah berhasil membujuk salah seorang teman yang bekerja di kantor astronomi, akhirnya tabung oksigen bisa kudapatkan, dan aku bisa pergi ke bulan dengan sayap ini setelah menempuh waktu—kirakira—tiga hari dua malam. Setiba di sana, kurang lebih satu jam aku harus istirahat, merentangkan kedua sayap di dataran yang hampa oksigen, sambil megamati sekitar, ada kesunyian yang purna menyelimuti lekukan yang mirip tanah—tanpa pohon dan air. Sinar matahari begitu ganas merajam kulit, hingga lelehan peluh melumuri datar seluruh permukaan kulit, itulah sebabnya setelah seluruh tulang-tulang bahu—yang terhubung ke pangkal sayap itu—pulih dan tak nyeri, aku segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas; selembar kain yang sudah terikat pada sepotong kayu. Kayu dan kain itu menyerupai bendera dan tiangnya. Demi mengabadikan jejak yang langka itu, kutancapkan kayu berbendera kain itu di datar bulan. Sejenak kutarik pelan hingga kain itu terbuka datar. warnanya masih hijau cerah, bertulis sebaris kalimat “Aku mencari kebahagiaan.”

Aku seperti patung, duduk termangu di tubir ranjang. Angin siang yang kering masuk menggesek celah gorden. Tetapi desirnya tak mampu menyejukkan dadaku, yang terlalu sesak oleh tumpukan beling luka yang penuh siku tajam. “Prangg!!” “Mampus kau!” suara ayah sangat kasar, mengiringi suara mangkuk yang dilempar, tepat pecah di pelipis ibu. Darah segar mirip getah karet, meleleh deras, membumbui udara dengan amis yang tajam.

“Lelaki jahanam!” teriak ibu sembari menutup pelipisnya dengan kain, dan tangan kanan ibu tak mau kalah, masih sempat melempar ayah dengan sebuah guci. Di luar dugaan, guci itu meluncur ke kepala ayah. guci pecah, bergemeretak dan berserakan. Ayah rubuh, bersimbah darah, terkapar di lantai. Aku hanya memandang semua itu dari balik pintu kamar yang sedikit terkuak. Aku dungu untuk berbuat sesuatu pada dua orang yang sama-sama berjasa kepadaku; ayah dan ibu. Siapa yang benar dan yang salah? siapa yang harus kubela?. Aku dungu. Kedunguanku terjadi karena setiap hari selalu dicekoki pemandangan buruk tentang ketidakharmonisan sebuah keluarga.

Kutoleh sepasang sayap yang baru saja menyembul di kedua bahu. Terkatup, menyentuh lantai, dengan bulu-bulu yang menjuntai ke bawah. Aku enggan mengepakkannya lagi. Nyatanya, meski sayap ini bisa mengantarkanku ke berbagai belahan dunia, bahkan ke bulan, tapi sayap tak mampu mengantarkanku pada kebahagiaan. Andai ayah dan ibu tak selalu bertengkar, mungkin aku akan bahagia meski tak punya sayap. Gaptim, 09.17

Aku dungu. Kedunguanku terjadi karena setiap hari selalu dicekoki pemandangan buruk tentang ketidakharmonisan sebuah keluarga.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.