Darbotz

Darbotz adalah salah satu seniman jalanan yang Dikenal luas Di indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, karyanya telah melampaui sudut-sudut jalan Dan Dinding kosong Di jakarta Dan tampil Di pameran-pameran Di seluruh Dunia. Dia semakin mempersempit jara

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin -

BAGAIMANA ANDA BISA TERTARIK MELAKUKAN street art?

Awalnya karena saya suka corat-coret. Pada masa SMA saya dan teman-teman punya nama ‘geng angkatan’. Ya, waktu itu hanya menulis nama saya dan geng. Bicara grafiti ya seperti itu. MENGAPA MEMILIH IDENTITAS ANONIM?

Di dunia street art atau dunia grafiti, awanama sangat penting. Karena di luar negeri, kegiatan ini termasuk ke dalam kegiatan ilegal. Sementara di Indonesia, street

art menurut saya masih berada di area abuabu. Jadi, karakter ini dipilih agar seru saja, dan mengundang tanya. Selain itu, supaya karya saya saja yang berbicara. TETAPI APALAH ARTI SEBUAH KARYA TANPA MANUSIA YANG MELAKUKANNYA?

Itu akan membuktikan kakuatan karya Anda. Seiring berjalannya waktu, semua itu menjadi gimmick. Misterius dan lebih bebas.

BAGAIMANA AWAL MULA KOLABORASI ANDA DENGAN BIR GUINNESS? Awalnya saya diajak untuk membuat special

edition packaging bertema together we are more yang mengangkat isyu-isyu kebhinekaan dengan desain batik. Saya berkolaborasi dengan Ykha Amelz (seorang ilustrator ternama), mendesain motif batik untuk botol dan kaleng bir hitam.

SEPERTI APA KONSEPNYA?

‘Pancha Mahabhuta’ yang menggabungkan unsur-unsur bertolak belakang seperti Api (Teja) dengan Air (Apah), dan Bumi (Perthiwi) dengan Udara (Bayu), untuk menciptakan pola yang harmonis dan menyatu. Desainnya merupakan perwujudan dari semangat masyarakat Indonesia pada umumnya (Sukhsma Sarira) yang tercermin dalam kerja tim (gotong royong), pengambilan keputusan bersama (musyawarah untuk mufakat) dan pedoman nasional Bhineka Tungal Ika. Motif batik pada masing-masing elemen melambangkan akar sejarah bangsa yang kuat dan kesatuan bangsa yang kokoh. Saya mendapat bagian Api dan Air, sementara Ykha mengolah elemen Bumi dan Udara.

Lebih dalam lagi, kekuatan Teja (Api) dan Apah (Air) yang bertentangan datang bersama menciptakan kontradiksi namun tidak bisa dipisahkan. Parang Ikan (Ikan) melambangkan Air dikombinasikan dengan Kemitir Lidah Api (Api/listrik) untuk mewakili dua elemen yang berlawanan.

Proses desainnya sih dua minggu. Saya mengerjakannya bersama dengan Ykha. Mulai dari riset, hingga workshop. Mengenai hambatan, saya belum pernah membuat batik secara benar karena ada banyak aturan yang harus diikuti. Street art KIAN DIGANDRUNGI DI INDONESIA. APAKAH TIDAK TAKUT KEHABISAN LAHAN UNTUK BEREKSPRESI?

Memang benar, kian banyak seniman grafiti berbakat tumbuh di Indonesia seperti di Yogyakarta dan Bandung. Sementara di wilayah lain seperti di Sumatra, dan

Kalimantan, juga semakin banyak anak-anak muda yang berkecimpung di dunia ini. Soal lahan. Jika dibilang terbatas, tidak juga sih. Tetap menjadi playground yang mengasyikkan. PROYEK KOLABORASI APA YANG PALING MENGESANKAN? TAHAPAN KREASINYA SEPERTI APA?

Bagi saya, semuanya punya fenomena tersendiri. Karena masing-masing produk berbeda. Dahulu saya pernah berkolaborasi dengan merek sepatu, sekarang saya mendesain kaleng bir.

Prosesnya dimulai dari riset, lalu dilanjutkan ke produksi. Khusus untuk proyek batik, awalnya saya bingung akan membuat karya apa. Umpamanya mereka (client) hanya meminta saya mendesain kaleng

limited edition, tentu akan sangat mudah. Saya cukup menorehkan karya/ego pada medium, tetapi ini tidak. Ada unsur batik, sehingga harus ada filosofinya. Sehingga dalam prosesnya saya belajar berkompromi. Saya juga berkolaborasi desain dengan BMW di ICAD (Indonesian Contemporary Art & Design). APAKAH BERKOMPROMI TERHADAP PERMINTAAN client ITU PENTING BAGI SEORANG SENIMAN?

Tidak penting sebenarnya. Ketika berkarya, saya berkompromi tanpa menghilangkan karakter. Sisi lainnya, pikiran saya jadi lebih terbuka pada pandangan baru. Dengan kata lain, saya mendapatkan kesempatan untuk lebih bereksplorasi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.