Electronic Insanity

Perubahan (agak) kontroversial yang melibatkan unsur elektronik

FHM (Indonesia) - - Filter -

Jamiroquai Automaton

Kami pikir antisipasi tinggi adalah harga yang pantas untuk sebuah band yang lambang dan karya-karyanya sudah mampu merepresentasikan budaya pop di rentang medio 90-an. Dua puluh lima tahun berkarier di arena musik Internasional sepertinya sudah mampu mewakili kematangan dari grup jazz-funk atau acid-jazz yang digawangi oleh sang mastermind, yaitu Jay Kay. Dan akhirnya penantian selama 7 tahun para penggemarnya terbayar saat akun media sosial Jamiroquai mengunggah teaser untuk single terbaru mereka yang diberi judul sama dengan album ke-8 mereka, yaitu Automaton. Album come back dari Jay Kay, Rob Harris, Matt Johnson, Paul Turner, Derrick Mckenzie, dan Sola Akingbola ini memang terasa sedikit mengharukan sekaligus memberikan rasa lega luar biasa untuk para fans-nya. Mereka hiatus panjang, dan tidak memberi bocoran apapun tentang proyek terbaru yang sedang mereka kerjakan. Lalu diperburuk lagi dengan banyaknya kabar yang menyebutkan bahwa grup yang lekat dengan lambang buffalo man ini sudah memilih untuk bubar dan meninggalkan para penggemar setianya begitu saja. Namun grup yang berdomisili di London ini menepis semua kabar itu dengan album barunya yang bertema futuristik. “Automaton terinspirasi dari kemunculan kecerdasan buatan dan teknologi di dunia kita saat ini, dan bagaimana kita sebagai manusia mulai melupakan hal-hal yang lebih menyenangkan, sederhana namun penuh makna dalam hidup dan di lingkungan kita, termasuk hubungan kita satu sama lain sebagai seorang manusia”, jelas Jay Kay tentang album terbarunya bersama lima kompatriotnya. Saat mendengar penyataan itu, kami tidak heran jika aura elektronik terasa sangat kuat pada album yang diproduseri oleh Jay Kay dan sang kibordis, Matt Johnson. Kami bisa memahami rasa empati yang mereka miliki pada kemajuan teknologi dunia saat ini, namun bagaimana dengan unsur elektronik yang sangat kuat menyelimuti album ini? Apakah para penggemar mereka bisa menerima akan hal itu? Ternyata jawabannya tidak. Tidak sedikit ungkapan kekecewaan keluar dari mulut barisan penggemar Jamiroquai saat mendengar single pertama mereka. Alasannya adalah hilangnya groove yang menjadi kekuatan utama pada musik Jamiroquai seperti di album-album mereka yang terdahulu, seperti A Funk Odyssey, Travelling Without Moving, dan Synkronized. Secara garis besar memang ada perubahan yang Jay Kay dan Matt Johnson berikan pada album Automaton. Nafas elektronik yang lebih kuat memang menjadi dua buah sisi mata uang yang saling berlawanan. Di satu sisi, mereka mencoba memberikan aura segar di album terbaru mereka. Setelah terakhir merilis album Rock Dust Light Star pada tahun 2010 lalu, bukan hal yang aneh jika mereka memberikan suasana baru mengikuti arah musik dewasa ini. Namun, para penggemar lama mereka masih berharap adanya beat-beat yang menghentak ringan di telinga dan membuat Anda mengangguk-anggukan kepala dengan sendirinya. Namun apapun perdebatan yang muncul ke permukaan tetap tidak bisa meruntuhkan antisipasi besar kami pada album ini. Berbagai sound baru yang mereka aplikasikan pada 12 track di album ini justru semakin memperkaya musik Jamiroquai. Dan kami juga berani berasumsi bahwa Automaton pantas menjadi album yang menandai perayaan seperempat abad Jamiroquai. Best song: Cloud 9, perkawinan ideal funk 90-an Jamiroquai dengan aksen elektronik ala Daft Punk. **** *

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.